Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 26: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Di dalam kamar faiz menurunkan niah di sofa dan melihat apa kakinya benar-benar sembuh atau tidak, saat faiz mencoba menggoyangkan pergelangan kaki niah, niah terkejut dan menarik rambut faiz.


"kenapa? Kakimu masih sakit kan," niah hanya cemberut memasang wajah malasnya.


"kak niah bosan ada di sana?," tunjuk niah pada kursi rodanya.


"bukankah kamu ingin bisa berjalan saat kita menikah nanti,"tanya faiz dan di angguki niah.


"tapikan niah suda bisa berdiri, apa tidak boleh jika niah berjalan dengan hati-hati," ucap niah memainkan tangannya.


"hemm...baiklah jika itu yang kamu mau, tapi tetap saja, jangan memaksakan jika kakimu masih terasa sakit," jika sudah begini faiz tidak bisa terus memaksa.


"aku hanya ingin menjagamu, karena itu aku mengkhawatirkan mu, niah! Kamu orang yang pertama mengisi kekosongan di hatiku, selama ini aku hanya bisa menutup diri dari orang lain, tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukan itu jika berhadapan dengan kamu, bisakah kamu terus bersamaku, bisakah kamu menerima segala keburukan aku"


"kak, ada apa!, kenapa melihat niah seperti itu?," tanya niah membuyarkan lamunan faiz.


"tidak apa-apa!, kakak hanya memikirkan sesuatu?" Ucap faiz.


"sesuatu apa yang mengganggu pikiran kakak, apa itu ada hubungannya dengan kondisi ibu," faiz tidak menjawab dan meraih tangan niah untuk dia genggam.


Seperti ada aliran listrik yang menyetrum saat kedua tangan itu saling bertautan, sesaat mereka sama-sama diam dan faiz memecah keheningan lebih dulu.


"niah!"


"hemm," jawab niah masih malu menampakkan wajahnya dengan tertunduk.


"lihat kakak,?" perlahan faiz menopang dagu niah dengan jarinya hingga kedua mata mereka saling bertatapan.


"kakak cuman mau bilang, bisakah kamu panggil kakak mas?,"


"haa..?" niah terkejut dengan mulut yang menganga.


"kenapa kamu terkejut begitu, apakah ada yang salah dengan dengan permintaanku,"

__ADS_1


Faiz masih enggan melepas tangan niah dan melihat apa lagi yang niah pikirkan.


"niah aku menunggumu?, tidak bisakah kamu memangil ku mas," baru saja niah ingin membuka mulut untuk bicara, faiz justru tiduran di pangkuan niah.


"ya allah...apa yang harus ku lakukan, suasana ini bener-bener di luar kendaliku, baik niah tenanglah, setiap pasangan pasti melakukan hal ini, tapi ini benar-benar membuatku gemetar, bahkan ingin menjawab saja aku tidak bisa,"


Faiz mendengar apa yang di katakan niah dalam hatinya, dan tentu saja faiz lagi-lagi harus menahan tawanya.


"kak? Eh..maksud niah m..ma...mas bisakah lamu duduk di sofa saja, malu jika sampai ada li...lihat?" ucap niah terbata-bata menghembuskan nafas dengan perlahan.


Faiz hanya tersenyum mendengar niah manggilnya mas, ya walaupun masih terbata-bata, tapi cukuplah daripada di panggil kakak setiap hari, yang ada nanti orang berpikir mereka adik kakak.


"Terimakasih, dan mulai hari ini biasakan memanggilku mas, agar setelah menikah kamu tidak malu lagi hem," ucap faiz dengan senyuman yang menggoda.


"astagfirullahaladzim..." ucap niah mengucap istighfar sambil mengalihkan pandangannya.


"niah ada apa? Apa kamu melihat hantu,"


"hem..." jawab niah masih enggan menatap faiz.


"di sampingku," jawab niah lagi.


"kanan atau kiri niah cepat beritahu aku,"


"di sebelah kanan? Jawab niah polos dan berakhir dengan suara tawa niah yang memenuhi seisi ruangan, alhasil terjadilah aksi kejar-kejaran,


"hei..tunggu jangan lari niah kakimu masih,?" belum selesai Ucapan faiz, niah sudah terjatuh lebih dulu.


Saat berlari niah terus memutari sifa, namun saat hendak berbalik niah tidak melihat kursi roda di belakang.


"buggk.."


"niah? Apa kamu baik-baik saja, coba ku lihat mana yang sakit,! Kenapa kamu berlari begitu cepat aku tidak akan memakan mu jika kamu sampai tertangkap,"

__ADS_1


"mas berhentilah memarahiku tadi aku juga hanya ingin bercanda denganmu, tapi! Justru berakhir seperti ini?"


"hemm..sudahlah,! Mari kita lihat apa ada yang luka,"


Faiz menggendong niah dan meletakkannya di pinggir tempat tidur.


"mas?"


"hem?" hanya itu,! Karena faiz sibuk memeriksa apakah ada luka atau tidak.


"tidakkah kamu menyesal menikah denganku di kemudian hari,"


Pertanyaan niah menghentikan aktifitas faiz.


"kenapa berbicara seperti itu, apa ada yang kamu takutkan, atau mungkin ada yang mengganggu pikiranmu," tanya faiz duduk di samping niah.


Hembusan nafas berat terdengar di bibir mungil rania, faiz cukup memahami jika saat ini rania sedang merasa takut.


"niah,! Usia mas suda lebih tiga puluh tahun, dan itu bukanlah usia yang masih bisa di bilang mudah, saat ini, ibu pun sangat ingin melihat mas menikah, dan pilihan ibu jatuh pada kamu dan mas sendiri juga menginginkan menikah denganmu, jika suatu hari mas berkata menyesal,! bisakah kamu tetap bersama mas,? saat mas lupa dengan kamu, bisa kamu mengingatkan mas?, perjalanan kita akan panjang dan pasti akan banyak badai yang harus kita lalui bersama, jadi mulai hari ini berhentilah memikirkan hal-hal yang tidak penting, karena hari ini dan seterusnya ada kamu dan aku itu suda cukup untuk kita bahagia.


Niah terdiam menyimak setiap icih dari ucapan calon imamnya, ada rasa haru namun tidak dapat di jelas rania, jika ada jawaban itu hanya air mata yang jatuh saling berlomba-lomba ingin keluar dari tempat persembunyiannya.


"sayang kenapa kamu menangis,? Faiz membenamkan wajah niah di dada bidangnya dan mengelus punggung niah untuk memberi ketenangan.


"aku hanya memberi mas satu pertanyaan,! Tapi! Kenapa jawaban mas begitu banyak, otakku sama sekali tidak bisa berpikir mendengar apa yang kamu bicarakan, bisakah mas berbicara dengan cara yang sederhana, setidaknya jangan terus memutar otakku dengan jawaban yang sekian banyaknya," ucap niah melepas pelukan faiz darinya.


"bukankah sudah mas katakan, jangan berpikir terlalu banyak," faiz kembali memeluk niah," tapi di waktu salah wira datang seperti hantu yang bisa muncul di mana saja.


"wira, kebiasaan kamu,? tidak bisakah kamu mengetuk pintu dulu sebelum masuk,? Jika kamu seorang pelayang sudah pasti aku potong gaji kamu.


Wira tidak perduli dengan kemarahan kakak dan tetap melenggang masuk tanpa permisi.


"ada apa wira,! Apa yang membawamu kesini, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting," tanya niah menghampiri calon adik iparnya.

__ADS_1


"pertanyaan yang bagus kakak ipar, aku datang kesini di minta oleh ibu, kalian berdua di minta ibu untuk ke toko perhiasan untuk memilih cincin pernikahan dan juga beberapa keperluan lain, aku juga akan ikut," faiz membulatkan matanya ketika sang adik mengatakan dia juga akan ikut.


"tenang saja kak aku akan bawa mobil sendiri, kebetulan hari ini aku tidak ingin menjadi penonton di belakang layar rusak," ucap wira dan pergi sebelum mendapat balasan dari kakaknya.


__ADS_2