
Hari ini raniah bangun cukup pagi, niatnya mau berlatih jalan, tapi karena hanya sendiri, raniah mengurungkan niatnya, raniah meraih kursi rodanya , karena memang kursinya tidak jauh dari tempat tidur, hanya tinggal geser saja dengan begitu pasti dia bisa naik, pikir raniah?.
"hhaaaaammm..?, raniah meregangkan ototnya agar tidak kaku.
"jam berapa sekarang," raniah berbicara seakan ada orang di dekatnya.
"haa..jam enam, tumben sekali aku bangun sepagi ini," pikir raniah mencari ikat rambutnya!,
Kini raniah duduk dan berusaha mengumpulkan tenaga.
"kak faiz suda bangun belum ya, apa aku ke kamarnya saja, tapi ini masih terlalu pagi, lebih baik aku mandi saja,"
Raniah meraih kursinya dan berusaha untuk naik, Bukannya naik, raniah malah terguling jatuh dari tempat tidur.
Suara gaduh dari kamar raniah terdengar oleh faiz, karena memang kamar raniah dan faiz hanya bersebelahan.
"suara apa itu?, suaranya seperti orang yang terjatuh, apa mungkin raniah ya, oh ya ampun anak itu kenapa sulit sekali di beri tahu," gerutu faiz tanpa melihat penampilannya, dan keluar menuju kamar raniah.
"tok tok tok," faiz mengetuk pintu sambil bersandar menghadap ke pintu.
"siapa?" teriak raniah dari dalam.
"ini kakak niah, buka pintunya,"
"iya tunggu sebentar?" teriak raniah lagi.
"ya ampun matilah aku, jika kak faiz melihat ku terjatuh, pasti dia akan marah lagi," raniah berusaha naik di kursi rodanya, tapi sayang tetap tidak bisa, terpaksa raniah menyeret tubuhnya ke arah pintu.
Faiz yang masih bersandar di depan pintu tidak tau, jika pintu terbuka, alhasil faiz terjatuh dan menimpah raniah.
"bugg.."
Kini posisi mereka saling menindih, cukup lama mereka seperti itu, mungkin mereka sama-sama terkejut atas apa yang terjadi.
"niah kamu tidak apa-apa kan, maafkan kakak, tadi kakak merem, jadi kakak tidak tau kalau kamu buka pintu," ucap faiz mengatakan, faiz masih terlihat sangat mengantuk, mungkin dia kurang tidur, sehingga dia seperti mayat berjalan.
__ADS_1
"tidak apa-apa kak, niah juga salah sudah bikin keributan sepagi ini, kakak bangun pasti dengar suara gaduh dari kamar naih kan?"
"iya niah, sebenarnya! tadi itu suara apa?, apa kamu jatuh,"
"apa kak faiz tidak sadar kalau aku ada di lantai, kenapa dia tidak heboh seperti kemarin ya," pikir raniah sambil memperhatikan faiz yang masih terlihat mengantuk.
"ti...tidak kak, tadi niah hanya tidak sengaja menjatuhkan telpon rumah yang di meja" bohong raniah, padahal dialah yang terjatuh, pelan-pelan raniah mundur dan menjauh dari faiz.
Faiz belum sadar sepenuhnya, karena faiz berbicara tanpa melihat raniah yang terduduk di lantai.
"sepertinya kak faiz belum menyadari kalau niah terjatuh, sebaiknya aku ke tempat tidur saja, sebelum kak faiz melihatku ada di lantai,"
Raniah bergegas ke tempat tidur, guna menghindari amukan faiz jika sampai dia ketahuan.
Faiz mengucek matanya dan berusaha mengumpulkan kesadarannya. "kenapa kamu bangun sepagi ini," tanya faiz setelah cukup biak me ngerjab kan matanya.
"kamu ingin menghubungi siapa, sehingga kamu menjatuhkan telpon rumah," tanya faiz berjalan menghampiri raniah, dan duduk di sofa.
"bukan ingin menelpon kak, niah hanya tidak sengaja mengenai telpon dengan tangan hingga terjatuh, elak Raniah menurunkan kakinya, seolah-olah dia baru bangun dari tempat tidur.
"kak ke marilah bantu aku," faiz berdiri menghampiri raniah.
"niah mau duduk di kursi roda, bisa tolong pindahkan," faiz menunduk dan mengangkatnya ke kursi roda.
"sekarang apa lagi?" faiz masih dalam posisi menunduk di depan raniah. " duduk dan berbaringlah," titah raniah pada faiz.
"berbaring?, untuk apa!,"
"sudah berbaring saja,!"raniah mendorong faiz hingga faiz berbaring seperti yang raniah minta.
"hey..apa-apaan ini,!"
"kau masih ngantuk, jadi lanjutkan tidurmu, jangan berjalan seperti mayat hidup," ucap raniah sambil sesekali mengusap kepala faiz.
"apa dia sedang menggodaku, atau! Ini hanya salah satu triknya untuk mengelabui ku, kenapa aku merasa dia menyembunyikan sesuatu ya?, hemm..sangat mencurigakan sekali!, kita lihat sampai kapan kamu akan berbohong,"
__ADS_1
"apa semalam kamu begadang, sehingga sekarang kamu kurang tidur,!" tanya raniah, tapi faiz tidak menjawab.
Raniah mengintip faiz sudah tidur atau belum, "syukurlah kak faiz sudah tidur lagi, hemm...kasian, kak faiz mungkin sedang banyak masalah, sehingga tidurnya pun jadi tidak nyenyak.
Raniah mendorong kursinya ke kamar mandi, Setelah memastikan faiz tertidur. "suda setengah tujuh, sebaiknya aku mandi saja, sebelum kak faiz terbangun,"
Di kediaman pak adi wijaya.
renata merasa frustasi karena penolakan yang di lakukan faiz, sejak tadi renata hanya mondar-mandir saja, ayah yang memperhatikannya sejak tadi datang menghampiri putrinya.
"duduklah, jangan mondar-mandir seperti setrikaan, papah pusing melihatmu seperti itu," ucap pak adi menuntun putrinya ke sofa.
Sebelum berbicara, pak adi mengatur kalimat yang tepat sebelum mulai menasehati putrinya yang sangat keras kepala.
Di rumah pak wijaya, renata hanya tinggal bersama ayahnya, juga beberapa pelayan, ibunya renata meninggal saat melahirkan renata, jadi sejak kecil renata memang jarang mendapatkan perhatian, sebab pak adi sendiri orang cukup terpandang, jadi wajar saja, jika dia mempunyai banyak kesibukan, sehingga tidak punya waktu untuk putri semata wayangnya.
renata tubuh dewasa di asuh oleh beby sitter, renata tidak pernah merasakan cinta dari ibu ataupun cinta dari ayahnya, sejak kecil renata menjauh dari ayahnya, karena ayahnya sendiri tidak pernah meluangkan waktu untuk putrinya, seiring berjalannya waktu, renata tumbuh menjadi gadis yang tempramental, akibat tidak pernah mendapat polah asuh dari orang tua, kini renata menjadi pribadi yang sangat buruk.
renata duduk dengan ekspresi yang terlihat begitu kesal, pak adi menatap putrinya, terlihat ada penyesalan, karena selama ini dialah yang harus bertanggung jawab atas tindakan yang di perbuat oleh renata.
Pak adi juga tau, apa yang di perbuat putrinya di kediaman Dirgantara tadi malam, pak adi sengaja menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengikuti renata.
"ada apa! kenapa anak ayah terlihat begitu marah," pak adi mengelus kepala renata namun di tepis dengan kasar oleh renata.
" chii...tidak usah sok peduli padaku, karena aku sama sekali tidak butuh perhatian dari ayah, pergi saja dari hadapanku dan berhenti mencampuri urusanku," renata dengan tegas mengusir ayahnya, karena baginya sebesar apapun perhatian di berikan ayahnya untuk dirinya, semua itu sudah tidak berguna lagi,
"renata! Lihat ayahnya nak!" pak adi membalik tubuh renata dan merengkuhnya dalam pelukannya, meskipun renata menolak, tapi dia tetap memeluk putrinya.
"lepaskan aku yah,! renata terus meronta, hingga pelukan ayahnya terlepas darinya.
"maafkan ayah nak, ayah tau kamu sangat membenci ayah, tapi tolong jangan menyakiti orang lain karena kebencian mu pada ayah,"
"bugg...,"
renata mendorong sanga ayah hingga terjatuh.
__ADS_1
"berhenti peduli denganku, dan jangan selalu mencampuri urusanku, "
Pak adi tidak perduli dengan kemarahan putrinya, dengan tertatih beliau berusaha berdiri kembali, dan ingin memeluk putrinya lagi, tapi apa dayanya, putrinya hanya memiliki hati sekeras batu, walau menangis darah sekalipun, hatinya tidak akan pernah luluh.