Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 65: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"astagfirullah...wir kamu kok masih di sini, memangnya kamu itu nggak pulang dari tadi," ucapku pada wira yang Terdengar grasak-grusuk seperti sedang bangun untuk duduk, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena minimnya pencahayaan.


"aku nginep di sini saja ya kak, lagian ini juga udah malam, aku mau istirahat besok pagi aku harus melakukan oprasi." jawabnya terdengar lelah di sampingku.


Entah kenapa aku merasa canggung berada di kegelapan bersama dengan wira, padahal sebelumnya aku masih biasa saja,


"kakak Ngapain bangun,"


"eh itu,!...kakak lapar wir apa di sini ada bahan makanan atau sesuatu yang bisa di makan, kakak nggak akan bisa tidur jika belum makan." tutur ku menjelaskan pada wira.


"ah iya kak, kakak kan belum makan sejak tadi sore,! tunggu di sini ya aku ambilkan dulu." segera ku gamit lengan wira, tentu saja aku tidak mau di tinggal sendiri, bisa mati berdiri aku jika berada di kegelapan tanpa teman sama sekali,


"ada apa kak? Kakak takut ya di sini sendirian, aku kan cuman pergi sebentar," ucap wira memperhatikan aku masih bergelayut di lengannya.


"nggak mau? aku mau ikut saja ke dapur, lagian di sini gelap kalau ada hantu gimana?" ucapku semakin mengeratkan pegangan ku di lengan wira.


"ya suda aku nyalain lampu dulu ya kak nanti kakak malah jatuh lagi,"


Aku hanya mengangguk pertanda iya, meski wira tidak melihatku


Setelah semuanya terang aku masih enggan melepaskan wira karena tiba-tiba saja hantaman petir meledak dan saling bersahut-sahutan.


Aku yang memang notaben sangat penakut tentu saja langsung meloncat di gendongan wira tanpa merasa malu sama sekali.


Wira juga sama terkejutnya dengan aku, bedanya aku terkejut karena suara petir sedangkan wira karena aku yang meloncat tanpa di komando.


"ya ampun aku nggak nyangka kakak sepenakut gini, kupikir kakak itu?"


"stop? Jangan bicara sekarang cepat ke dapur cari sesuatu untuk di makan, aku sudah sangat lapar" ucapku menaruh telunjuk ku di bibir wira dan merengek seperti anak kecil,.


"hahaha..kakak lucu sekali jika sedang takut, baiklah ayo kita ke dapur jangan sampai aku jadi santapan kakak karena suda kelaparan."


Mendengar hal itu tangan ku reflek menjewer telinga wira hingga dia meringis dan tidak bisa mengelus telinganya karena aku berada di gendongannya.


"ih..kak sakit bu mil?" ucapnya kesal dengan mata yang mendelik tapi tidak membuatku takut sama sekali.


"biarin?" ucapku ketus tidak perduli dengan wira yang kesakitan.

__ADS_1


Wira melenggang pergi tanpa berkata apa-apa, setelah sampai di dapur wira menatap sekeliling membuat ku ikut melakukan hal yang sama.


"kamu cari apa wir"


"aku bingung dudukin kakak di mana? Soalnya aku nggak bisa ambil apa-apa jika terus menggendong kakak," ucap wira kini beralih menatapku.


"jangan bilang kamu mau turunin aku,! Nggak? Aku nggak mau turun"jawabku sedikit merengut.


"ayolah kak,? katanya kakak lapar,! sekarang kakak turun dulu biar aku ambil sesuatu dulu buat kakak makan."


"tidak? Bagaimana jika ada petir lagi kamu mau aku mati ketakutan" ucapku tetap tidak mau turun,


"ya udah iya nggak usah turun tapi tolong buka kulkasnya dalam kulkas kayanya ada telur deh,"


Ku buka kulkas seperti yang di minta wira, benar,! Ada telur dalam kulkas bahkan masih banyak olahan makanan lainnya, mungkin wira memang sengaja mengisinya untuk berjaga-jaga jika di menginap di sini.


Ku ambil dua telur lalu menutup kembali pintu kulkasnya.


"terus masaknya bagaimana?" tanyaku pada wira yang terlihat bernafas lesu.


"astagfirullah...kak memangnya nggak ada tempat lain apa buat mecahin telur." ucap wira protes karena keningnya jadi sasaran empuk.


Ku pecahkan dua telur sekaligus di kening wira lalu menuangnya pada mangkok kecil yang sudah di siapkan wira lebih dulu.


" ya maaf saja ya dek kan kamu sendiri yang cari masalah ngapain juga ngatain aku bayi gede, memangnya ada ya bayi bisa hamil."cerocos ku tak mau kalah debat dengan wira.


"lagian kakak juga nggak mau turun, nanti kalau jatuh atau kena minyak gimana?"


"kan kamu dokter,! Tinggal di obatin saja dong gitu saja repot?"


"nggak? pokoknya kakak turun dulu kapan matengnya kalau kaya gini terus."ucap wira kekeh dan mendudukan ku di dekat kompor lalu membuat telur dadar dan nasi goreng untuk makan malam ku.


Selesai memasak wira langsung membersihkan kompor dan peralatan yang habis di pakai, lalu membawa dua porsi nasi goreng ke atas meja.


Aku hanya memperhatikannya bolak balik seperti strikaan, sementara aku masih duduk di atas meja kompor.


"ngapain masih di situ kak? Ayo turun katanya mau makan?"

__ADS_1


"turungin?"rengek ku menggoyangkan kakiku sambil merentangkan tangan meminta wira menurunkan ku.


Tanpa banyak bertanya wira langsung menghampiriku di dapur lalu menurunkan ku seperti yang ku minta.


"Terimakasih?" ucap ku tersenyum dan berlari kecil ke arah meja di mana wira menyajikan makanan.


"hem..baunya enak?" kataku menghirup bau dari nasi goreng buatan wira sambil memejamkan mata.


"iya dong kak siapa dulu yang masak, ayo di makan mumpung masih hangat?"


Tanpa menjawab wira langsung saja ku santap nasi gorengnya hingga habis tak tersisa, entah kenapa rasanya begitu enak di lidahku,


Ku bawa bekas piring ku ke wastafel lalu mencucinya, tak lupa juga meminum segelas air putih karena wira tadi belum menyiapkannya, ku ambilkan juga untuk wira setelah aku minum lebih dulu.


"nih minumnya?" kataku lalu meletakan segelas air putih di depannya lalu aku duduk lagi di meja makan.


"ngapain masih di sini, sana tidur gih, tidak baik bu mil jika tidur kemalaman,"


"nggak nanti saja aku mau bareng kamu, lagi pula di luar juga masih hujan deras kalau ada gledek susulan gimana? Aku nggak mau ya menjerit-jerit tengah malam,"


wira hanya tersenyum kecil dan menghabiskan makanannya hingga bersih tak tersisa.


Wira juga membawa piring ke wastafel lalu mencucinya kemudian meniriskannya seperti yang ku lakukan tadi.


"ayo kak?" ajaknya saat sudah di depanku.


"ayo?"kataku, kali ini aku tidak bergelantung lagi karena memang suara petir tidak terdengar lagi, hanya hujannya saja yang belum redah membuat udara sedikit dingin meski berada di ruangan yang tertutup.


Aku kembali ke tempat tidur lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhku tapi kegiatanku terhenti melihat wira menyalakan sesuatu.


"kamu mau ngapain?" tanyaku kembali duduk karena tadi sudah sempat berbaring.


"mau ngerokok kak?" jawabnya singkat dan benar-benar menyalakan benda yang tidak kusukai baunya.


"matiin nggak?


"kenapa? Ini kan cuman rokok, ruangannya tidak akan ikut terbakar jika menyalakan satu rokok?" elaknya lagi membuatku berdecak kesal lalu menghampirinya

__ADS_1


__ADS_2