
Sepanjang perjalanan aku hanya diam, bude sesekali membuka suara agar aku tidak termenung terus.
"neng jangan ngelamun, kalau kesambet kan jadi brabe urusannya." ucap bude tertawa kecil.
"bude apa niah salah jika aku sayang pada mereka?" tanyaku terdengar sumbang, aku benar-benar takut jika harus berpisah dengan mas faiz karena meninggalkannya ibu.
"tidak ada yang salah nak, hanya saja,! mungkin orang yang kamu sayang tidak pandai untuk bersyukur makanya tanpa mereka sadari apa yang menurut dia tidak penting perlahan-lahan akan menghilang dengan sendirinya"
"tapi bude, apa yang harus kita lakukan jika orang yang kita sayang meminta kita harus pergi, apakah kita harus benar-benar pergi? sementara kita punya janji pada seseorang untuk menjaga dia yang menjadi titipan."
"serahkan semuanya pada allah, bude yakin kamu sudah cukup dewasa menyikapi apa yang sudah di gariskan oleh allah untuk kamu."
Aku tidak tau apa aku siap dengan kejutan selanjutnya, memikirkannya saja sudah membuatku pusing, belum lagi mas faiz yang menuduhku tanpa bukti, ya harusnya mas faiz berpikir dengan logikanya dan tidak langsung pulang tanpa mengajakku, kalau sudah begini aku tidak tau harus bersikap seperti apa?.
Tiba di perbatasan bude menurunkan ku, aku tidak perlu menunggu lama untuk ke jakarta. karena di perbatasan suda ada ojek yang bisa mengantar ku ke terminal bus jakarta?
"neng niah maaf ya bude cuman bisa mengantar kamu sampai di sini, bude doakan semoga kamu bisa lebih sabar dengan kepergian bu ranti,"
"iya bude, Terimakasih karena sudah mengantar niah ke sini, nanti niah akan kabari jika niah sudah sampai."
"kalau begitu bude pulang ya, kamu hati-hati di jalan."
Setelah bude pergi, aku naik ojek ke terminal bus menuju Jakarta, aku tidak perduli mas faiz masih marah padaku atau tidak, aku akan tetap pulang walau besar kemungkinan mas faiz tidak mengizinkan aku masuk ke dalam rumah.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya aku sudah sampai di rumah megah bak istana ini,
segera ku bayar ojek dan meminta pak madi membuka gerbang.
"pak madi tolong buka gerbang pak?" mendengar suaraku pak madi segera lari Tergopoh-gopoh lalu membuka gerbang.
"bu niah kenapa datang sendiri, kenapa tidak di jemput sama tuan faiz bu." tanya pak madi karena melihatku pulang sendiri.
Aku bisa saja meminta mas faiz atau wira untuk menjemputku, tapi aku takut jika mas faiz masih marah padaku, lebih baik pulang sendiri dari pada meminta jemput sama si pria kutub yang ada nanti aku malah darah tinggi.
__ADS_1
"emm..pak? Rumah kok sepi banget, orang-orang pada kemana?" ucapku mengabaikan pertanyaan pak madi.
"loh memangnya bu niah nggak tau apa, kalau bu ranti meninggal, tuan faiz dan tuan wira belum pulang dari pemakaman, mungkin mereka masih berduka," jelas pak madi padahal aku sudah tau hanya saja mas faiz tidak ingin aku ikut pulang jadi kesannya aku belum tau apa-apa.
"ya sudah pak saya masuk dulu ya pak?" ucapku meninggalkan pak madi,
Sampai di kamar segera ku ambil handuk dan segera mandi, setelah selesai ku kenakan baju layaknya orang yang sedang berduka, karena bagaimanapun aku juga sayang pada ibu meskipun hanya ibu mertua.
Aku turun ke bawa saat terdengar suara deru mobil di halaman, mungkin itu mas faiz dan wira baru pulang dari pemakaman.
Ketika pintu terbuka aku langsung berhambur kepelukan mas faiz, tapi bukannya kehangatan yang ku dapat tapi justru makian dan hinaan.
"untuk apa lagi kamu datang ke sini ha?" mas faiz membentakku lalu mendorongku hingga aku terjatuh ke lantai.
"Apa kamu belum puas melenyapkan ibuku, seharusnya aku melaporkan kamu ke pihak yang berwajib agar kamu tidak lagi menginjakan kaki di rumah ini." ucapnya lagi semakin melukai hatiku.
Aku merasa tidak melakukan sesuatu tapi kenapa mas faiz justru menyalahkan aku atas wafatnya ibu, bukankah semua hidup dan matinya manusia itu adalah kehendak allah, lalu kenapa harus aku yang salah.
Harusnya mas faiz tidak secepat ini mengambil kesimpulan jika aku penyebab meninggalnya ibu, seharusnya dia mencari tau dulu dan bukan malah menuduhku tanpa bukti seperti ini.
"iya tuan faiz ada apa?" tanya pak madi terlihat ngos-ngosan, mungkin dia cukup jauh di depan makanya dia kelelahan berlari memenuhi panggilan majikannya.
"bawa wanita ini keluar dari rumahku dan jangan pernah biarkan dia masuk."
"tapi tuan diakan?"
"cukup lalukan apa yang ku perintahkan jika kamu masih sayang dengan pekerjaanmu." tekan mas faiz memotong ucapan pak madi.
"maaf ya bu, tolong jangan mempersulit saya dan keluarlah dari rumah ini seperti yang di minta tuan faiz "
Aku tau pak madi tidak berdaya, bagaimanapun aku juga tidak ingin jika mereka kehilangan pekerjaan karena aku, tapi aku perlu bicara dulu dengan pria keras kepala ini.
"tunggu apa lagi cepat bawa dia?" sentaknya lagi membuat aku terkesiap.
__ADS_1
"tunggu mas?" ucapku berusaha menahan sesak yang rasanya ingin berlomba-lomba untuk keluar.
"Pak madi boleh ke luar dulu, jika saya sudah selesai saya akan pergi dari sini." ucap melepaskan cekalan tangan pak madi.
"tapi bu?"lagi-lagi pak madi bungkam karena mas faiz mengisyaratkan dia untuk keluar.
Setelah kurasa sepi aku berdiri lagi dan lebih dekat dengan mas faiz.
Aku tidak melihat wira, mungkin masih ada yang harus dia urus di rumah sakit makanya dia tidak terlihat masuk bersama mas faiz.
"cepat katakan apa lagi yang ingin kamu katakan?" tanyanya langsung tanpa menatapku.
"mas? Sebesar apa salahku hingga kamu begitu marah, bahkan kamu tidak ingin melihatku,"
Aku mencoba meraih tangannya meski pada akhirnya dia menepis tanganku dengan kasar.
"bicara saja dan tidak perlu menyentuhku" ucapnya nyalang terhadapku
"kalau begitu jelaskan, dan beri aku bukti jika aku memang membunuh ibu,"
"bukti apa lagi ha? Jelas-jelas kamu yang terakhir kali masuk ke kamar ibu sebelum ibu meninggal,! Apa itu belum cukup untuk menjadi bukti." tunjuk mas faiz tepat di wajahku.
"mas? bisa sajakan mas hanya salah faham, kenapa mas tidak mencari tau dulu sebelum memberikan tuduhan, atau jangan-jangan ini hanya akal-akalan kamu saja supaya kita berpisah,"
"kenapa malah jadi aku yang kamu salahkan," bentaknya lagi hingga kupingku rasanya berdenging seperti di hantam benda keras.
"ya? Mungkin karena mas sudah melihat bagaimana latar belakang keluargaku, dan alasan mas menuduhku itu karena mas tidak punya cara lain untuk memutuskan Hubungan."
"cukup rania sebaiknya tinggalkan rumah ini sebelum kesabaran ku habis."
Mas faiz menarik ku keluar lalu mendorong ku hingga terjatuh.
Badanku rasa sangat sakit karena aku terjatuh dengan cukup keras.
__ADS_1
Mas faiz hanya menatapku sinis dan masuk dalam rumah lalu menutup pintu menyisahkan aku di teras rumah.