Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 62: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"apa salahku mas hiks..hiks.. Kenapa kamu sengaja menutup mata hatimu, apakah kamu tidak mencintaiku lagi, atau memang kamu tidak pernah mencintaiku hiks..hiks.."


Tangisku pun tak dapat ku bendung lagi hingga seluruh tubuh ini ikut terguncang merasakan sakit yang sangat memilukan


Aku meringkuk di teras rumah karena tiba-tiba saja turun hujan, rasa lelah dan kantuk menjadi satu, meski begitu aku sama sekali tidak tertidur, sepanjang malam aku terjaga dengan tangis yang tak kunjung reda.


Saat wira pulang dia juga tidak menegurku atau sekedar menengok kebelakang melihatku kedinginan, mungkin wira tidak tau jika aku tertidur di teras rumah dan berpikir aku masih di kampung.


karena banyaknya angin dan petir yang bersahut-sahutan aku semakin merapatkan kakiku.


Biasanya aku akan berteriak karena takut dengan suara petir, tapi sekarang jangankan berteriak suara petir pun tidak terdengar lagi, bahkan aku di luar rumah tidak merasa takut meski tanpa ada yang menemani.


jika bukan karena janjiku pada ibu, sejak tadi pasti aku sudah pergi dari sini? Ya memang aku belum sempat mengiyakan janji yang di minta ibu karena aku keburu panik dan berlari menemui mas faiz.


Tapi siapa sangka jika ibu meninggal tepat di saat mas faiz menemuinya di kamar setelah aku keluar menemuinya, aku sendiri bingung kenapa ibu tiba-tiba sesak nafas padahal pagi itu ibu baik-baik saja, bahkan ibu masih sempat tertawa dengan kedua putranya.


Aku menengada ke atas, yang terlihat hanya langit hitam dan hujan semakin deras di tambah petir seakan meledak di atas kepalaku menemaniku hingga matahari pagi menghangatkan tubuhku yang basah dan kedinginan akibat kehujanan semalaman.


Aku mengerjabkan mata ku melihat cahaya matahari yang sangat menyilaukan mata,


"ya allah..ternyata sudah pagi," gumamku masih bersandar di tembok.


Sesaat kemudian terdengar suara derit pintu pertanda ada orang yang akan keluar.


"kak niah,? Ya allah kak sejak kapan kakak ada di sini,?" tanya wira panik saat melihatku masih terduduk du lantai yang basah,


"ayo kak aku bawa ke rumah sakit, sepertinya kak sedang sakit," ucap wira lagi lalu mengangkat ku dan memasukan ku ke dalam mobil.


Tubuh ku sangat lemah bahkan untuk menjawab wira saja aku tidak mampu, aku hanya mengangguk pertanda iya agar wira tidak semakin bingung


"kak? sejak kapan kak niah ada di teras rumah dan kenapa tidak langsung masuk saja, apa semalaman kak niah tidur teras rumah?"


"kakak tiba di rumah pada saat kamu dan mas faiz masih di pemakaman, saat mas faiz pulang dia memintaku pergi dan tidak mengizinkanku untuk kembali lagi." ucapku mengingat kembali perlakukan mas faiz, rasanya aku ingin membenturkan kepalaku agar tidak mengingat apapun tentang kemarin.


"lalu kenapa kakak tidak minta jemput sama aku jika memang kak faiz sedang marah."

__ADS_1


"maaf? Kakak pikir kamu juga ma?"


"kakak pikir aku juga marah dan menuduh kak niah seperti kak faiz, benar begitu kak?" ucap wira memotong perkataan ku dan aku hanya mengangguk saja bahwa apa yang dia katakan itu memang benar.


"seharusnya kak niah bertanya dulu, ini malah kakak yang nuduh saya marah,! padahal nyatanya saya masih perduli sama kak niah."


Wira sedikit memanyungkan bibirnya membuatku sedikit tertawa.


"hahaha...kakak sudah takut melihat kakak mu marah, jika kamu ikut marah juga kakak pasti kehilangan nyali untuk datang kesini lagi." kataku sambil tertawa dan sekaligus menangis.


"maafkan kak faiz ya kak niah, kak faiz hanya belum siap kehilangan ibu," jelas wira dan meminta maaf, setelah itu tidak ada percakapan lagi hingga mobil sampai di rumah sakit.


"sini kak biar aku bantu," ucap wira saat aku hendak turun dari mobil.


"tidak usah wir kakak masih bisa kok." kataku menolaknya dengan halus,


Aku tidak ingin timbul fitnah baru, jika aku dan wira terlalu dekat.


"ya sudah tunggu sebentar ya kak, aku ambil kursi roda dulu,"


"ayo duduk di sini saja biar kak niah tidak capek, lihat muka kakak sampai pucet gitu, pasti dari semalam kak niah belum makan? Setelah aku periksa kak niah makan yang banyak ya biar kakak lekas pulih dan bisa marah sama aku lagi."


Aku hanya tersenyum mendengar celoteh wira seperti anak kecil yang sedang bercerita tentang pengalamannya.


"kakak kok diam saja si, aku kan sudah ngomong panjang kali lebar kak, kok nggak di jawab." protes wira karena aku hanya diam saja.


"wira marahnya jangan sekarang ya kakak itu belum bisa bicara banyak, ?" ucapku lalu bersandar di di sandaran kursi roda.


"kak niah kenapa?" tanya wira saat sudah memasuki ruang pemeriksaan.


Kepalaku tiba-tiba pusing dan terasa berat, hingga aku tidak dengar dengan jelas apa saja yang di katakan wira.


"wir? Sakit,!." rintih ku dan mencengkram lengan wira.


aku tidak perduli apa yang wira pikirkan yang pasti kepalaku sangat sakit hingga rasanya bola mataku ingin keluar.

__ADS_1


Wira mengangkat ku dan membaringkan ku di tempat tidur pasien, sementara suster yang mengikuti wira sejak tadi memasang infus di tanganku.


Sejenak wira terdiam setelah memeriksaku, ada raut bahagia dan hawatir yang ku lihat di wajah pria yang bergelar dokter ini.


"minum obatnya dulu kak biar sakit kepalanya hilang," katanya menyerahkan sebutir obat sakit kepala.


Ku ambil obat yang di sodorkan wira dan meraih segelas air putih yang suda wira pegang, ku minum hingga habis lalu ku berikan gelas kosong itu pada wira.


"istirahatlah aku akan kembali setelah memeriksa pasien yang lain," ucapnya tapi tidak ku hiraukan, aku hanya ingin tidur karena semalam memang aku cukup terjaga.


Cukup lama aku tertidur hingga ada tangan yang menyentuh keningku,


"wira?" ucapku saat melihat wira ada di samping tempat tidurku.


"bagaimana perasaan kak niah," tanyanya di sertai senyuman.


"Alhamdulillah..kakak sudah agak baikan, Terimakasih suda mau mengantar kakak ke rumah sakit ya." ucapku tulus dan di angguki wira.


"oh ya wira, bagaimana hasil pemeriksaan kakak tadi, kakak lihat tadi kamu terlihat bahagia sekaligus hawatir,"


Sejenak wira terdiam mungkin ada yang memberatkan hatinya untuk bercerita.


"selamat ya kak?"


"selamat buat apa wir?" tanyaku bingung dengan ucapan wira.


"selamat karena sebentar lagi aku akan jadi paman?"


Aku semakin bingung, apa hubungannya dengan aku jika dia akan menjadi paman.


"maksud kamu apa si wir, kakak benar-benar tidak mengerti," ucapku masih belum paham dengan maksud wira.


"kak niah yang cantik dan baik hati, kakak itu sedang hamil maka?"


"apa hamil?"belum juga wira selesai bicara aku sudah heboh seperti orang yang menang undian

__ADS_1


__ADS_2