Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 64: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"kak biar aku antar ke hotel aja ya mana bisa aku membiarkan kakak pergi malam-malam begini," wira menghadangku yang turun dari atas dengan koper besar di tanganku.


"tidak usah wir kamu juga pasti lelah dan butuh istirahat." tolak ku halus.


"kakak pergi ya,! Kamu jaga diri baik-baik." ucap ku lagi lalu berbalik hendak pergi, namun aku tersentak kaget saat wira tiba-tiba memelukku dari belakang, entah apa yang dia pikirkan hingga berani memeluk kakak iparnya sendiri.


"kak tolong biarkan aku mencarikan tempat tinggal untuk kakak, ini sudah larut malam, bagaimana jika terjadi sesuatu sama kakak di luar sana." ucap wira terdengar hawatir berbisik tepat di telingaku.


Aku berbalik lalu beringsut mundur beberapa langkah kebelakang, kakiku kian gemetar melihat sosok yang menyaksikan apa yang telah wira lakukan padaku, entah dia paham atau tidak yang pasti pikirannya sudah pasti buruk.


"maafkan aku kak, bukan maksudku kurang ajar aku hanya tidak bisa membiarkanmu pergi malam-malam begini." jelas wira saat melihat ku ketakutan.


Ku tatap matanya untuk mencari kebenaran, sialnya wira memang terlihat tulus, tapi jika aku memberi pulang untuk wira, apa yang akan mas faiz pikirkan tentang aku dan wira, apa lagi mas faiz melihat wira memelukku tadi, tapi biarlah toh juga dia tidak akan perduli apa yang ku perbuat, bukankah besok dia akan mengajukan gugatan cerai, jadi kurasa apa yang terjadi tidak akan berpengaruh untuknya.


"baiklah wir kakak terima bantuan kamu, sebenarnya kakak juga bingung mau cari kontrakan di mana malam-malam begini, jika memang kamu mau menolong, kakak akan sangat berterimakasih padamu."


"i..iya kak, ayo kita berangkat sekarang mumpung belum terlalu malam,." ucapnya wira terlihat antusias..


Aku berjalan di belakang wira sambil sesekali menengok ke belakang berharap mas faiz akan berubah pikiran, sesampainya di luar dia sama sekali tidak memanggilku ataupun mengejar ku.


sudahlah mungkin jodohku memang sudah sampai di sini, setidaknya aku sudah berusaha menjelaskan, jika memang mas faiz enggan untuk mendengarkan apa lagi yang dapat aku perbuat, nasi sudah menjadi bubur mas faiz sudah terlanjur membenciku,


Aku masuk dalam mobil dan duduk di samping wira, meski berat aku meninggalkan rumah karena aku sudah berjanji pada ibu, namun aku tetap harus pergi,


"wir kamu mau cari kontrakan di mana?" tanyaku pada wira tanpa menoleh padanya.


Wira tidak menjawab dan hanya memasuki kawasan mewah yang tidak jauh dari rumah sakit tempat wira bekerja.

__ADS_1


"ayo turun kak," pinta wira tanpa peduli dengan kebingungan ku.


Aku menurut saja tanpa banyak bertanya karena memang sudah larut malam dan aku sudah sangat lelah.


"ini apartemen aku kak, biasanya kalau aku lembur aku pasti langsung ke sini karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit, mulai sekarang kakak tinggal di saja ya." ucap wira menjelaskan.


"tapi wir apartemennya besar sekali untuk aku tinggali seorang diri, bagaimana aku bisa tinggal di sini sendirian."


"jangan hawatir aku akan mencari asisten wanita untuk kakak selain ada yang mengerjakan pekerjaan rumah dia juga bisa nemenin kakak."


Sekali lagi ku perhatikan apartemen milik wira, benar-benar besar menurutku, tapi aku juga tidak tau harus tinggal dimana, jika aku keras kepala bagaimana dengan anakku, hari sudah sangat malam anakku juga pasti kelelahan beraktivitas seharian.


"baiklah, kakak akan tinggal di sini, dan Terimakasih ya sudah mau membantu sampai larut malam begini."


Wira hanya tersenyum dan mengajak ku masuk kedalam lift.


"ya seperti yang kak niah lihat apartemen ini terdiri dari empat lantai, dan apartemen ku berada di lantai paling atas, jika kita naik menggunakan tangga kapan sampainya kita di atas." ucap wira dengan santai padahal aku sudah sangat lelah.


Aku munduk bersandar di belakang rasakan ngantuk ku benar-benar tidak bisa ku tahan, baru saja aku memejamkan mata beberapa orang juga ikut masuk kedalam lift hingga kami berdesak-desakan,


Tapi wira dengan cekatan langsung meraihku yang sudah terduduk dilantai dalam keadaan tertidur lalu mengangkatku di gendongannya, aku tidak melarangnya melakukan itu karena aku benar-benar mengantuk.


"pak wira wanita ini siapa,"tanya salah seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari wira dan terdengar jelas oleh ku apa saja yang dia tanyakan.


"kakak iparku,?" jawab wira singkat tanpa melihat gadis itu.


"kakak ipar atau kekasih kok sampai di gendong gitu apa suaminya tidak akan marah jika melihat istrinya terlalu dekat dengan adiknya sendiri." ucap wanita itu lagi.

__ADS_1


"tutup saja mulut jika kamu masih mau melihatnya di hari esok, apapun yang kulakukan itu sama sekali buka urusanmu." jawab wira lagi kini mulai tersulut emosi.


Biarkan saja wanita ini jadi santapan wira agar dia tau batasannya jika ingin bertanya.


"biasa aja dong, kalau memang omongan aku salah? Harusnyakan pak wira tidak usah kepanasan gitu?"ucapnya lagi hingga wira menatapnya dengan tatapan nyalang pada wanita itu.


"Waduh benar-benar mancing nih orang," pikir ku tetap memejamkan mata, aku jadi penasaran sebenarnya apa tujuan wanita ini terus bertanya pada wira,


Wira tidak menjawab lagi dan langsung keluar ketika pintu lift sudah terbuka, sementara wanita itu kembali menekan angka tiga karena dia sudah melewati apartemennya, mungkin dia terlalu kepo dengan urusan orang hingga di lupa dengan tempat tinggalnya sendiri.


Wira langsung membaringkanku di tempat tidur dan aku manut saja dan tidak sadar apa saja yang di lakukan wira setelahnya.


Jam satu malam aku terbangun lagi karena merasa sangat lapar, aku ingat jika sejak siang tadi aku belum makan apa-apa.


Aku beranjak dari tempat tidur untuk mencari makanan di dapur, tapi aku bingung dapurnya ada di mana karena apartemen ini benar-benar sangat besar.


Ku perhatikan seluruh ruangan hanya gelap tanpa ada cahaya, aku juga tidak tau di mana aku harus menyalakan lampunya.,


"ya allah aku lapar banget,! Aku harus makan apa malam-malam begini, kalau aku hubungi wira? Ah tidak wira pasti sudah lelap dalam tidurnya, tapi bagaimana dengan perut ini?" gumam ku duduk di sofa dan mengelus perutku yang masih rata.


Ku ambil benda pipi milikku di tempat tidur dan kembali ke sofa lalu menekan nomor yang tertera nama wira, aku tidak akan bisa tidur sebelum mengisi perut ini dengan sesuatu.


Tuut...tuut..?


Hingga beberapa kali bunyi seperti itu barulah wira mengangkatnya.


"ada apa kak niah menghubungiku aku kan ada di sini kak." aku yang sedang menunggu jawaban telfon dari wira terkejut karena orang yang ku hubungi sedang menjawab tepat di sampingku.

__ADS_1


__ADS_2