
"kak!, boleh niah masuk?"
Faiz membuka pintu dengan wajah yang terlihat menahan malu karena kejadian tadi.
"masuklah," niah masuk berdiam diri tidak jauh dari faiz.
"ada apa niah?," faiz masih enggan untuk menatap niah.
"kak lihat aku,?" faiz berbalik dan mensejajarkan tingginya dengan niah.
"iya ada apa?, apa kamu butuh sesuatu?, emm...soal tadi pagi!, kak faiz minta maaf ya, karena kehadiran kakak di kamar kamu, kamu harus melihat keributan seperti itu," ucap faiz tertunduk Karena merasa malu.
"tidak usah minta maaf kak, ini juga salah niah kok, kalau bukan niah yang menyuruh kak faiz tidur lagi, mungkin kak faiz tidak akan kena marah ibu," jelas niah menyentuh kepala faiz.
"oh iya!, apa yang membawamu kemari?, apa kamu hanya ingin menjelaskan kejadian tadi pagi, atau kamu ingin mengatakan hal yang lain?," ucap faiz sambil bersilang tangan di dadanya.
"eemmm...! Itu kak! Tadi ibu bilang kita harus pergi ke butik untuk fitting baju pengantin,"
"kenapa bukan ibu yang bilang sendiri?, apa ibu masih marah sama aku soal tadi pagi,"
"bukan seperti itu kak!, ibu tadi tidak sempat bilang karena kak faiz dan wira ke buru lari,"
"hmm...benar juga!, lagi pula jika kakak terus di sana yang ada nanti tekanan ibu kumat lagi, yang ada Bukannya ke butik tapi malah ke rumah sakit karena ibu, ya sudah kita berangkat sekarang saja,"
"emmm,"
Faiz membantu raniah mendorong kursinya, di tangga faiz menggendong niah karena tidak bisa turun dengan kursi roda, faiz meminta pak ardi membawakan kursi raniah.
"pak tolong bawakan kursi raniah ya, saya tunggu di mobil,"
"siap tuan muda,"
pak ardi bergegas naik ke atas mengambil kursi raniah dan membawanya turun lalu memasukannya di bagasi.
__ADS_1
"sudah tuan muda, hati-hati di jalan,"
"baik pak Terimakasih banyak,"ucap faiz yang di perhatikan niah sejak tadi,"
"ternyata meskipun terlahir dari keluarga yang terpandang , itu tidak membuat kak faiz menjadi pribadi yang sombong, terlihat jelas, meskipun dengan bawahan, dia tetap akan menghormati yang jauh lebih tua darinya, entah kebaikan apa yang ku perbuat di masa lalu, sehingga allah mempertemukan aku dengannya, semoga di masa depan, pernikahan kami akan selalu dalam lindungan allah amin,"
"amin ya allah, kabulkan lah doa calon istri hamba ya allah," batin faiz menatap raniah dengan penuh rasa haru mendengar doa yang di panjatkan raniah dalam hatinya.
"hem!, kenapa kak?"
"Tidak apa, ayo berangkat,"
"emm,"
"Skip di butik."
"Sudah sampai, tunggu sebentar ya, kakak ambil kursinya dulu,"
"emmm..!" faiz turun berlari kecil mengambil kursi d bagasi.
"hhhhh...!, baiklah kak,"
mereka masuk penuh canda dan tawa, dan banyak pasang mata yang terus memandangi mereka, hinga niah berhenti tertawa, faiz pun berhenti untuk tertawa karena melihat raniah seperti merasa tidak nyaman dengan pandangan orang di sekitarnya.
"ada apa niah!, apa kamu tidak nyaman karena mereka?," tanya faiz pada raniah.
"kak bisa kita masuk lebih cepat lagi, niah benar-benar tidak nyaman di lihat seperti itu oleh mereka, sebaiknya kita masuk saja," titah raniah masuk tanpa menunggu faiz membantunya mendorong kursinya.
Saat ingin menyusul raniah, seseorang menghadangnya dari depan, faiz tau siapa orang itu, yang tak lain adalah renata.
"renata?, sedang apa kamu di sini, apa kamu mengikuti ku,"
Faiz menatap renata dengan tatapan tidak suka dan berniat meninggalkannya, tapi renata tiba-tiba memeluknya dari belakang, raniah yang belum jauh melihat kejadian itu.
__ADS_1
Sakit audah pasti, tapi dia tetap berusaha untuk percaya, bahwa apa yang dia lihat sekarang, itu bukanlah faiz yang memulai.meski demikian niah tidak bisa menutupi rasa cemburu pada calon imamnya di peluk wanita lain.
"si...siapa wanita itu?, kenapa dia memeluk kak faiz, jika aku ke sana, pasti aku cuman sakit dan merasa kecewa, lebih baik aku tunggu saja di dalam, nanti juga pasti kak faiz menyusul ku," batin niah memutar kembali kursinya untuk masuk.
"faiz tolong jangan menghindar terus, aku lelah terus nyariin kamu, apa kamu Enggak kangen sama aku hemm," ucap renata masih dengan memeluk faiz.
"jika kamu lelah, berhenti mengejar ku, karena aku tidak akan pernah berhenti untuk menjauh darimu, dan tidak usah berpikir aku merindukan mu, karena sejak dulu aku tidak pernah menempatkan mu di hatiku, jadi berhentilah mengharapkan cinta yang tidak pernah ada," setelah selesai berucap, faiz menghempaskan tangan renata dan menyusul raniah di dalam butik.
"faiz apa yang kurang dariku, sehingga kamu tidak bisa mencintaiku, apa ada wanita lain yang kamu cintai, sehingga berkali-kali aku harus menerima penolakan darimu, jawab aku faiz, kamu tidak boleh pergi begitu saja,"
Semua mata memperhatikan renata yang histeris, merasa jadi pusat perhatian, renata pun ikut masuk ke dalam butik.
"inikan butik?, untuk apa faiz ke sini?, apa faiz akan menikah!, tidak!, ini tidak bisa di biarkan, aku tidak akan membiarkan siapapun menjadi istrimu, karena hanya aku yang boleh memilikimu," ucap renata tersenyum sinis.
"selamat siang bu, ada yang bisa saya bantu," sapa pemilik tokoh itu yang bernama bu mega.
"emmm..iya bu, tapi tunggu mempelai prianya dulu ya, karena saya tidak bisa memutuskannya sendiri," ucap renata sedikit canggung.
"pilihlah yang kamu suka, yang membuatmu merasa nyaman, jangan membuat dirimu tertekan karena memikirkan apa yang ku sukai dan apa yang tidak ku sukai,"
Faiz yang tiba-tiba muncul di belakangnya, dan membuat niah sedikit terkejut,
Niah ingin bertanya siapa wanita tadi, tapi dia urungkan niatnya, karena di harus memilih baju pengantin.
"Sebaiknya nanti saja aku tanyakan," batin niah mengajak faiz.
"ya sudah, aku akan memilih, tapi kakak juga bantuin ya," ucap niah memilih baju pengantin yang sudah di sediakan pemilik tokoh.
"kak bagai mana dengan yang ini, sepertinya warnanya sangat bagus, aku akan mencobanya lebih dulu,?" niah memilih salah satu baju berwarna silver, dengan butiran mutiara di bagian pinggang dan gaun bagian bawah yang menjuntai sangat panjang, di bagian dada tidak terlalu terbuka dengan hiasan yang tidak terlalu banyak, niah sangat suka dengan desain yang satu itu.
"kak bagai mana, apa yang ini bagus," ucap niah yang keluar dari ruang ganti.
Faiz yang juga sedang mencoba baju pengantin pria, berbalik melihat niah,
__ADS_1
"cantik sekali?" Ucap faiz tanpa berkedip, membuat niah tersipu malu.
"Pilihan anda sangat bagus bu niah, itu juga salah satu rancangan baru kami, mari silahkan saya bantu mencocokkan dengan perlengkapan yang lain," ucap bu mega membantu niah.