
"kaaaaakk..cepetan? Ngapain aja sih kok lama banget"
Aku yang memakaikan baju untuk bayi bersarku terlonjak kaget mendengar teriakan wira yang mengalahi emak-emak, sungguh? suaranya benar-benar memekikan telinga.
"kebiasaan anak itu, kenapa suka berteriak seperti dalam hutan," gurutku mengambil celana dan melemparnya pada mas faiz.
"di pakein dong sayang bukannya malah di lempar kaya bola, untung aja mas ini jago nangkap," protes mas faiz tak kalah bengeknya dari adiknya.
"aku juga mau pakai baju mas,! Wira sama ibu udah nungguin di bawah?" ucapku sibuk memakai baju yang sudah ku siapkan sejak tadi malam.
Sejak dulu jika ingin pergi aku selalu siap siaga, jadi kalau pagi aku tidak perlu ribut bersiap-siap, cukup mandi saja lalu pakai baju.
"mas bawa kopernya dulu ya," ucap mas faiz karena sudah selesai lebih dulu dan membawa koper turun kebawa.
Selang beberapa menit mas faiz kembali lagi membawa koper yang satunya, kebetulan aku membawa koper dua yang ukuran besar, satu untuku dan satunya lagi untuk mas faiz.
"apa kamu lapar,! Kita bisa makan dulu jika kamu merasa lapar?"usul mas faiz berdiri di belakangan ku dengan tangan yang melingkar di pinggaku.
"ibu perlu minum obat, jadi kita temenin ibu makan dulu baru kita berangkat." ucapku berbalik menghadap kearahnya.
"ya sudah ayo kita turun kebawah" ajaknya merangkul ku dan menarik koper di tangan yang satunya.
Sampai di bawah sudah ada ibu dan wira yang sudah lengkap dengan koper masing-masing di sampinya.
"wah? Semuanya sudah siap ya, tapi sebelum kita berangkat ibu makan dulu ya terus minum obat, oh iya stok obat ibu masih banyakkan," tanyaku menghampiri ibu.
"tenang aja kak, wira banyak stok obat ibu, kemarin pulang dari rumah sakit aku beli beberapa lagi, insya allah itu cukup kok sampai kita pulang nanti," jawab wira berdiri menuju meja makan.
"ya sudah ayo kita makan dulu," ajakku pada ibu dan membantunya berdiri.
Usai sarapan pagi, kedua kakak beradik itu memasukan koper ke mobil masing, sementara aku dan ibu sudah masuk mobil lebih dulu, aku satu mobil dengan mas faiz, sementara ibu dengan wira,
Sengaja kami menggunakan dua mobil, jika salah satunya ada yang mogok, setidaknya kami masih punya yang satunya lagi, nggak mungkin jugakan mobilnya mogok bersamaan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan karena aku tertidur setelah hari beranjak siang, sementara mas faiz menyetir dalam keheningan.
Setelah beberapa jam dalam perjalanan akhirnya terlihat juga desa di mana aku pernah tinggal.
Aku tidak perlu menjadi penunjuk arah untuk mas faiz karena dia bisa menemukan rutenya melalui gps.
"sayang bangun coba lihat? Ini benarkan desa yang kamu bilang," tanya mas faiz menggoyang lenganku."
Ku kucek mataku yang terasah perih mungkin aku terlalu lama tertidur, ku edarkan pandanganku namun hanya gelap yang terlihat.
"mas? Kok gelap ya," tanyaku masih terasa ngantuk.
"maaf yank tadi Jaringan sempat hilang, makanya tadi mas cuman muter-muter doang karena itu kita sampainya kemaleman, tapi benarkan ini desanya."
Ku lihat lebih jelas lagi, memang benar mobil sudah tetap di perbatasan,
"benar kok mas? Kita sekarang ada di perbatasan desa dengan jalan menuju ke kota, nah itu pak mang sekuriti yang biasanya menjaga ke amanan di isni." tunjukku pada pria kurus yang berdiri di pos ronda dekat perbatasan.
"Ngapain cuman di lihatin doang, sana turun dan tanya sama dia?" kataku menepuk pundak mas faiz.
"ya mas tanya ke dia kenal nggak sama niah, kalau kenal berarti kita nggak nyasar, tapi kalau nggak kenal berarti dia warga baru di kampung ini?" ucapku membuat mas faiz memijit pelipisnya, aku tau tekanannya pasti naik lagi.
"bukannya kamu bilang desanya sudah bener ya, terus ngapain nanya lagi, mending langsung ke rumah bibi kamu."
Ku putar bola mataku malas menanggapi sikap lemotnya suamiku
"mas? Setiap orang yang baru datang atau orang yang hendak pergi itu wajib lapor sama ke amanan atau lurah setempat, supaya kalau ada apa-apa mereka bisa membantu kita," mas faiz hanya mangguk-mangguk seperti burung kakak tua, benar-benar telmi suamiku ini.
"jadi mas harus turun nih?" tanyanya lagi membuatku berdecak kesal.
"nggak usah mas tidur aja biar niah yang nyetir, nanti kalau nabrak nggak ada orang yang mau nolongin gara-gara kita nggak tertib," ucapku ketus,
"ya sudah kMu di saja mas keluar dulu." ucapnya lalu keluar dari mobil.
__ADS_1
"kak niah itu kak faiz mau ngapain?" tanya wira di balik telpon mungkin mereka bingung kenapa kami berhenti.
"bukan apa-apa wir, mas faiz hanya lapor pada satpam itu kalau kita akan masuk ke wilaya desa ini," jelasku masih terus memperhatikan mas faiz.
"ya suda ya wir itu mas faiz sudah balik lagi." kataku hendak menutup telpon.
"iya kak?" jawab wira lalu mematikan sambungan telpon.
"telpon dari siapa?" tanya mas faiz kini sudah duduk di sampingku memasang sabuk pengamannya.
"dari wira mas?" jawabku singkat.
"ngapain belpon kamu? Apa ada masalah dengannya," tanya mas faiz lagi kini menghadap ke arahku.
"tidak ada masalah apa-apa mas, wira cuman banya mas ngapin keluar, ya aku helasin lah tujuan kamu keluar habis itu sudah nggak bgomong apa-apa lagi." jawabku jujur, karena memang wir tidak bertanya apa-apa lagi.
"hemm..kenapa mas mencium bauh-bauh yang tidak enak ya," ucapnya lagi membuatku kesulitan menelan ludah dengan tatapan seakan menguliti sekujur tubuhku.
"udah cepetan jalan emang tuh bokong nggak kepanasan duduk terus," kalau di jawab sesuai pertanyaan akan lebih panjang lagi nanti, lebih baik sampai dulu baru tak ladeni,
Dia tidak menjawab tapi tetap menjalankan mobil sesuai perintah,
Ku lirik sebentar, wajahnya masih di tekuk seperti lipatan kertas, benar-benar menggemaskan pikirku menarik sebelah pipinya.
mendapat serangan kilat dariku, sontak dia mendelik ke arah ku, aku hanya tertawa kecil melihat ekpresinya yang semakin di tekuk.
"burung darah burung kakak tua?
Mas Jangan marah nanti cepat tua loh." ejekku pada si burung hantu, karena wajahnya lebih mirip burung hantu jika sedang buram seperti itu.
mendengar pantun konyolku mas hanya melirik tanpa tersenyum sama sekali, benar-benar pria kaku.
"itu rumah bibi mas? Tunjuk ku pada rumah bercat warna hijau yang terlihat sudah memudar.
__ADS_1
Mas faiz memasuki pekarangan rumah dan mobil berhenti tepat di depan teras rumah.