
Sepulang dari rumah sakit aku langsung menuju tempat tidur ku, tempat yang sangat aku rindukan kenyamanannya.
"hemmm...nyaman banget bisa tidur di sini, bagaimana? Apa kau juga merindukanku tempat tidur ku yang empuk,! Tenang tempat tidur di rumah sakit tidak akan bisa menggantikan kenyamananmu ,"
"mulai lagi dah tuh, ngomong sendiri seperti orang banyak hutang,"
Lah kenapa jadi dia yang marah, aku kan sekedar melepas rindu.
"kamu kalau nggak ada kerjaan mending mandi aja deh. terus tidur," ku layangkan bantal ke arahnya tapi dapat di tangkap dengan mudah,! Mentang-mentang bisa nangkap lemparan ku malah tidak mengenai sasaran.
"terus kamu mau ngapain?" tanya wira menyipitkan matanya.
"tidurlah memang mau ngapain lagi, kan aku di tempat tidur."
Aku tidur terlentang sambil menggoyang goyangkan kaki ku.
"suda sore kok malah tidur,?" wira berjalan menghampiriku.
"eh..eh..kamu mau ngapain,! Jangan macem-macem ya,"
Wira tidak perduli meski aku terus meronta dan mambawa ku ke kamar mandi.
Entah apa yang ingin dia lakukan?.
"kamu tuh lagi hamil jadi harus rajin mandi dan selalu menjaga kebersihan tubuh," kata wira memasukan ku ke bathtub yang suda berisi air hangat.
"tau nggak?"
"tau apa?" tanya wira berkacak pinggang di samping ku.
"kamu itu nyebeliiiiiin banget nget nget, sumpah deh,! Suerrr, bisa nggak sih, sedetik aja kamu itu bersikap manis,"
"aku udah bersikap manis kali, nyatanya aku perlakukan kamu bak putri raja sementara aku jadi pangerannya,"
Aku hanya memutar bola mata dengan malas, capek bener kalau ngomong sama si bunglon.
"ya ya ya ya...?, putri raja yang di angkat seperti karung beras, dan di masukkan ke bathtub seperti memasukan tumpukan cucian ke dalam mesin cuci," sungut ku dengan wajah memerah sangking kesalnya dengan orang yang satu ini.
"hahaha...dah ah? Kamu mandi saja dari pada marah-marah terus,"
Wira berlalu keluar meski dia tau aku masih kesal padanya.
"dasar kodok ngorek, bisa-bisanya dia seperti itu, mikir apa sih kok sampai kumat lagi jail nya," gumam ku lalu melepas pakaian ku karena sudah basah semua.
"gara-gara wira nih, aku harus mandi kembang kaya gini, padahal tadi niatnya cuman mau tidur, eh ini malah di diceburin di bathtub, kurang kerjaan banget tuh anak"
Sambil marah-marah mandi ku tetap selesai, tidak mungkin juga kan aku nungguin wira buat angkat aku lagi, yang ada tuh anak malah cuci mata.
__ADS_1
Dengan hati-hati aku turun dari bathtub dan berjalan ke tempat yang biasa ku gunakan menggantung handuk.
Tapi tunggu,? Dimana handuknya.!
"wir handuknya manaaaa...?" teriak ku dari kamar mandi.
"ya ampun bu mil kamu nggak bawa handuk yah,,"
Aku tepuk jidat. Dia lupa atau pura-pura lupa sih, !Bukannya tadi dia yang main gotong aja.
"lah menurut kamu gimana,! Aku nggak bawa handuk lah, memangnya tadi aku jalan sendiri ke kamar mandi apa?"
"ya udah nih handuk. cepetan aku tungguin kamu di meja makan." aku hanya mencebik mengambil handuk di tangannya sambil bersembunyi di balik pintu kamar mandi.
"ya udah sana kamu keluar dulu aku mau pakai baju, atau kamu mau lihat aku pakai baju. Iya! begitu,!" todongku mendelik pada wira, tapi yang di plototin malah tersenyum nakal,
Ihs..apa-apa sin wira?
"kalau bole sih,! Tapi tunggu halal dulu deh Biar nggak jadi dosa."
Wira keluar dari kamar dan menunggu ku di meja makan.
selesai berpakaian aku segerah keluar. Tapi kemana anak itu Bukankah dia bilang mau menunggu ku di meja makan.
"wirrr....ayo makan dulu," teriak ku sambil mengempaskan bokong ku di kursi meja makan.
"halo...wir kamu dimana.?" tanyaku setelah sambungan telpon terhubung.
"eh niah maaf aku lagi di supermarket beli buah buat jaga-jaga jika tengah malam kamu laper."
"Ya ampun kau ini.! Kebiasaan banget deh kalau pergi nggak bilang dulu "
"Ya maaf, tadi kan kamu lagi di kamar mandi."
"ya udah cepetan pulang aku takut sendirian."
Ku matikan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari wira.
Aku kembali lagi ke meja makan, tapi baru juga sampai di ruang tamu tiba-tiba jeduuuaarrr?
"aaakkkkk..." teriakku panik mendengar suara petir yang tiba-tiba menyambar seperti ledakan meriam.
Aku terduduk di belakang sofa dengan tubuh yang suda bergetar, petir itu benat-benar mengejutkan ku.
Dengan hati-hati aku berdiri takut ada ledakan susulan lagi, tapi sialnya lampunya malah padam.
"oh..****? pake acara mati lampu lagi," umpat ku kesal karena merasa bingung untuk melangkah.
__ADS_1
"Lebih baik aku hubungi wira lagi biar dia segerah pulang"
Beruntung anak itu cepat mengangkat telpon ku.
"halo niah. Ada apa?"
jawab wira di sebrang telpon, sepertinya dia lagi di jalan, karena terdengar suara deru mesin mobil.
"wiraaa..hiks..hiks...pulang aku takut, apartemen kamu sangat menyeramkan." rengek ku masih bersembunyi di balik sofa.
"iya iya kamu tunggu sebentar ya, ini aku di jalan mau pulang"
Tut..tut..tut..?
Belum juga aku menjawab, sambungan telpon sudah terputus. Apakah dia membalasku tadi? entahlah. Aku sendiri tidak tau.
Aku memilih tetap di tempat ku menunggu hingga wira datang.
"niah...? Aku pulang!" wira masuk sambil mengarahkan ponselnya ke seluruh ruangan.
"kemana anak itu, apa dia tertidur!" pikir wira berjalan masuk dengan hati-hati karena seluruh ruangan terlihat gelap.
Wira menyimpan buah-buahan di dalam kulkas lalu berjalan ke meja makan.
"sepertinya rania belum makan, biar kulihat dia di kamar, sepertinya tadi dia sangat ketakutan?" gumam wira bernafas gusar.
Saat berbalik dia terkejut melihat sepasang kaki di belakang sofa yang tak jauh dari meja makan.
Dengan hati-hati dia berjalan menghampiri kaki itu sambil tetap mengarahkan senter dari ponselnya.
"niaaahh..." pekik wira saat tau jika rania yang ada di balik sofa.
"niah..kamu ke-napa " tanya wira gugup sambil mengguncang bahu rania.
"wiraa.hiks..kamu dari mana saja, aku sangat takut." keluh rania dengan suara yang terdengar parau, rania mengalungkan tangannya di leher wira begitu pun dengan kaki rania juga ikut melingkar di pinggang wira, sementara kepalanya suda menelusuk masuk di cerut leher wira.
"maaf ya tadi aku nggak bilang dulu, ayo kita makan dulu habis itu kita tidur." ajak wira melerai tangan rania, tapi rania semakin mengeratkan pelukannya hingga tidak ada jarak sama sekali.
Wira mencoba menetralisir perasaannya, sekuat mungkin wira mencoba menahan dirinya agar tidak lepas kendali.
"ayo makan dulu." ajaknya lagi karena rania hanya diam saja.
"gendong.." gumam rania hampir tidak terdengar.
Wira tidak bicara lagi dan langsung berdiri sambil menggendong rania berjalan ke meja makan.
Wira menyalakan lilin yang sempat dia beli tadi dan meletakkannya di meja makan.
__ADS_1
"duduklah biar ku ambilkan makanannya." Pinta wira, tapi rania menggeleng kuat pertanda dia tidak mau turun