Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 87: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Pov faiz.


Trerrrt trerrrt


Ponsel faiz bergetar menandakan ada panggilan masuk.


"bi tari!" gumam faiz lalu menggeser tombol hijau.


"halo bi ada apa?" tanya faiz setelah sambungan telpon terhubung.


"tuan muda itu para warga berkumpul di depan rumah, karena ada sala satu warga yang melihat mba ranti keluar dari rumah ini bersama dengan tuan, mereka juga bilang jika semalam mba ranti ke rumah makanya mereka pada demo tuan." jelas bi tari terdengar hawatir.


"ya suda saya pulang sekarang juga, tolong kamu halangi mereka agar tidak masuk dan mengacaukan rumah saya."


"baik tuan?"


Tanpa menjawab faiz segera mematikan sambungan telpon lalau keruangan ranti dan mengajaknya segera pulang.


"ran..ayo pulang?"ajak faiz setela pintu ruang terbuka.


"ada pak sepertinya buruh-buruh sekali." tanya ranti berdiri dari dukanya.


"di rumah saya para warga sedang demo karena ada yang melihat kamu masuk ke rumah saya." jelas faiz langsung menarik tangan ranti, dengan sigap ranti merai tasnya di atas meja dan berusaha mengimbangi langkah bosnya yang terkesan buruh-buruh.


"halo akza saya harus pulang sekarang? Tolong kamu hendel masalah kantor jika ada yang penting ya." ucap faiz menghubungi akza sebelum melajukan mobilnya.


"baik pak jangan hawatir semuanya pasti saya urus." jawab akza di balik telpon Lalu faiz segera mengakhirinya tanpa pamit lebih dulu.


Setibanya di rumah, benar saja warga masih berkerumunan di depan rumah Dirgantara.

__ADS_1


Faiz langsung memasukan mobilnya karena gerbang memang tidak tertutup.


"nah itu dia faiz...ayo langsung kita nikahkan saja dari pada terus-terusan kumpul ke*o di dalam rumah tanpa memiliki status." ucap sala satu warga yang sempat melihat ranti masuk dalam rumah faiz dan keluar rumah faiz di saat masih terlalu pagi.


Ya para warga memang suda mengetahui perceraian faiz dan rania makanya mereka ingin segera menikahkan mereka saja.


"bicara apa kalian ini,? bagaimana kalian tiba-tiba ingin menikahkan kami, sementara kami juga tidak melakukan apa-apa seperti apa yang kalian tuduhkan."jawab faiz langsung saja naik pitam mendengar omongan para warga.


"eh nak faiz jangan Mentang-mentang kamu orang kaya ya terus seenaknya saja mau bertindak, kamu itu orang terpelajar jadi tidak sepantasnya jika kamu membiarkan wanita laj*ng bermalam di rumahmu apapun alasannya, lagian kamu kan punya kontrakan kenapa tidak nginap di situ saja." timpal ibu-ibu ikut mengeluarkan uneg-unegnya merasa geram dengan kedatangan ranti di komplek mereka.


"maaf ya ibu-ibu bapak-bapak, saya selagi tuan rumah ini merasa keberatan dengan tuduhan kalian, lagi pula kami juga tidak berbuat apa-apa jadi kenapa harus di nikahkan."


"halaaa...mana ada maling ngaku kalau ngaku yang ada penjara mah penuh, suda bapak-bapak ibu-ibu lebih baik kita bawa saja mereka kebalai desa dan langsung di nikahkan dari pada jadi aib saja akan lebih baik jika kita segera mengambil tindakan." ujar bapak itu lagi semakin memprovokasi para warga.


"iya ayo bawa saja?"


Ranti yang diam sejak tadi terkesiap melihat kemarahan para warga.


"mas bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan." ucap ranti ketakutan.


"tenang aku akan coba bicara pada RT di sini semoga saja masih ada jalan keluarnya." ucap faiz mencoba menenangkan ranti yang bersembunyi di belakang faiz.


"nak faiz bagaimana! Apakah nak faiz setuju di nikahkan di balai desa atau nak faiz sendiri yang akan melaksanakan, intinya para warga hanya ingin nak faiz menghalalkan gadis itu agar tidak jadi fitnah lagi." ucap pak RT menengahi kemarahan para warganya sekaligus memberi pengertian pada faiz.


"baik saya akan menikahi ranti malam ini juga, tapi aku ingin di lakukan di rumah saja dan bukan di balai desa, aku ingin pak RT segera mengurusnya saya tinggal terima beres saja, bagaimana? Apa masih ada lagi yang ingin kalian ributkan." ucap faiz menatap satu persatu para warga yang saling berbisik.


"nah! kalau begini kan enak, kita juga tidak perlu hawatir lagi kalau sampai kalian berbuat yang tidak tidak."


"ya suda ayo kalian bubar nanti malam kita kesini lagi untuk menjadi saksi. Nak faiz kami pamit dulu kami akan kembali selepas sholat isya." kata pak RT berpamitan pada faiz.

__ADS_1


"iya pak! ?" jawab faiz dingin dan berlalu ke dalam rumah sambil menarik tangan ranti agar mengikutinya.


"ranti seperti yang kamu dengar tadi!...malam ini kita harus menikah,! jika kamu menolak? artinya kamu harus cari tempat tinggal lain, tapi meski begitu! belum tentu para warga akan setuju jadi aku harap kamu tidak gegabah dalam mengambil keputusan."


Keduanya terduduk di ruang tamu memikirkan pernikahan dadakan yang akan di langsungkan mamal nanti.


Faiz yang suda terlalu pusing memilih untuk terbaring di sofa sambil memijit pelipisnya. sementara ranti tersenyum dan terlihat biasa saja.


"lalu menurutmu bagaimana mas! Apakah kita harus menikah, aku sih terserah kamu saja, lagi pula aku mau kemana jika tidak di sini."


"jika seperti itu tidak ada pilihan lain lagi selain menikah, aku juga tidak mungkin mengusir kamu pergi dari kontrakan."


Wira berlalu ke kamarnya meninggalkan ranti yang tersenyum licik menatap faiz hingga menghilang di lantai dua.


Tepat jam delapan malam satu persatu warga mulai berdatangan, tidak terlalu banyak yang datang karena yang di butuhkan hanya para saksi, pak RT, juga pak penghulu.


"selamat malam nak faiz, kita per singkat saja waktunya agar semuanya segera selesai." kata pak RT mengarah beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang turut menjadi saksi.


Selang beberapa menit icap kabul pun terselesaikan.


"Alhamdulillah..sekarang nak faiz juga nak ranti suda jadi suami istri, nak faiz tinggal mendaftarkan ke KUA agar kalian bisa mendapatkan buku nikah dan status kalian bisa tercatat di mata hukum dan Nagara." jelas pak RT sambil berucap syukur.


"ya suda bapak-bapak ayo kita kembali ke rumah masing-masing karena sekarang tidak ada lagi yang perlu kalian hawatir karena nak faiz suda memperistri nak ranti."


"iya pak RT kami juga minta maaf jika tela membuat keributan, ini semua kami lakukan karena kami tidak ingin ada hal yang tidak di inginkan." ucap sala satu warga ikut menimpali.


"ya suda yang terpenting sekarang ini semuanya suda baik-baik saja jadi ayo kita pulang semua, mari nak faiz nak ranti kami permisi dulu Assalamu'alaikum..."pamit pak RT serta para warga meninggalkan kediaman Dirgantara.


"hhm?...akhirnya mereka pergi juga," gumam faiz mengusap wajahnya dengan kasar tanpa menjawab salam mereka.

__ADS_1


__ADS_2