
"memangnya ibu paranormal yang bisa tau kemana saja kamu akan pergi,! Semua orang juga tau jika kamu seorang dokter, tapi! Apa kamu tidak bisa memberi tahu ibu kemana kamu akan pergi, jika kamu bilang setidaknya ibu tidak akan hawatir,"
Wira mengusap wajahnya yang terlihat sangat lelah, ingin rasa dia langsung berguling di atas kasur dan melupakan segalanya, tapi karena sang ibunda sedang emosional, jadi terpaksa di harus memutar otak lagi untuk menenangkan singa betinanya yang berprofesi sebagai ibunya.
"hemm..bu? Maaffin wira ya,! Tadi wira buruh-buruh, ada pasien tabrak lari dan harus segera di tangani, untung dia tidak harus oprasi jadi urusanku cepat selesai,"
"cepat selesai apanya,! Jam segini baru pulang" gerutu bu ranti tidak terima dengan penjelasan putranya.
"harusnya wira suda pulang dua jam yang lalu, tapi saat perjalanan pulang wira bertemu seseorang di jalan, wira ingin mengantarkan dia pulang tapi dia justru menolak, setelah beberapa saat tiba-tiba dia pingsan, jadi wira harus kembali lagi ke rumah sakit karena harus membawanya" jelas wira lagi dan ibunya pun sudah mulai percaya.
"apa dia seorang wanita hingga dia harus pingsan?" ucap bu ranti lagi membuat wira melongo tidak percaya dengan pertanyaan ibunya.
"yang benar saja ibu ini, memangnya hanya wanita saja yang bisa pingsan?" ketus wira dan berlalu ke kamarnya.
"mau kemana kamu ibu belum selesai bicara? Teriak bu ranti yang langsung menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.
"ini bukan hutan bu,! Jangan teriak-teriak nanti menantu ibu ketakutan,,!" ucap wira lagi menertawakan ibunya yang terlihat Menghentakkan kakinya seperti gadis belia yang sedang marah.
Entah Kenapa wira dan faiz sama-sama senang membuat ibunya naik daun,! Eh naik darah maksudnya hehe..
Habis jika tidak bertingkah konyol dengan terus bertengkar pasti mereka berdua akan berbicara ngalor kidul hingga berakhir dengan drama ibunya yang suka mendadak memberi printah.
Ke esokan harinya rania bangun jam lima pagi, rania berusaha mengumpulkan tenaganya karena semalam dia baru saja melakukan kewajiabnnya sebagai seorang istri.
Rania melihat sisi kirinya, ternyata faiz sudah bangun lebih dulu pikir rania berjalan ke kamar mandi.
"tidak ada? Kemana mas faiz sepagi ini?" batin rania celingukan mencari faiz di kamar mandi.
"baaahhhh.....?"
"Aaaaaakkk....?" pekik rania yang hampir terjatuh karena faiz tiba-tiba muncul di belakangannya.
"ih mas faiz iseng benget sih,! Mau bikin niah jantungan yah, kita baru nikah lo mas, mas mau kalau niah sampai amsyong karena kelakuan mas?"
Rania berkacak pinggang pertanda dia sedang marah. Faiz yang melihatnya tentu saja tidak melewatkan hal itu.
__ADS_1
"sayang....kenapa berkata seperti itu,! Apa kamu sedang mendoakan ku menjadi duda,!" ucap wira yang di sambut dengan mata rania yang melotot.
"mas?"
"iya sayang,!" ucap faiz memeluk istrinya dari belakang.
Hemmm sejak kapan faiz jadi se bucin itu,?
"mas dari mana,!" tanya rania di tengah-tengah asyiknya faiz memeluk dirinya.
"tadi mas ke ruangan kerja menyiapkan fael untuk miting besok, ada apa? Apa kamu merindukanku hem?"
"i..itu aku hanya mencarimu saja, karena sudah menghilang sepagi ini," ucap rania terbata-bata karena kelakuan faiz yang mencium tengkuknya.
"aku tidak akan jauh darimu barang sehari saja, di manapun kamu aku pasti ada di sana,!"
"sunggu? bagaimana aku bisa percayakan hal itu, bisa saja kan kamu cuman menghambur gula di sekitarku hingga semuanya terasa manis," ucap rania membuat faiz mengerutkan keningnya.
"haaa....bagaimana lagi,! Sepertinya kamu sudah menjadi gula yang sebenarnya hingga aku harus berada di sekitarmu, karena di mana ada gula di situ pasti ada semut emm?"
"ya ya...sepertinya aku harus mandi guna menjernikan otak"
"memangnya apa yang kamu pikirkan hingga harus menjernikan otakmu?" tanya faiz berdiri di depan pintu untuk menghalangi rania masuk.
"aku tidak memikirkan apa-apa? Hanya saja sepagi ini aku sudah mendengar bualan suamiku, hingga aku harus menjernikan otak supaya tidak gesrek kaya mas?" jawab rania menarik faiz dan rania menerobos masuk ke kamar mandi lalu menguncinya dari dalam.
Setelah selesai dengan ritual mandinya rania segera berpakaian dan menunaikan ibadahnya sebagai hamba allah.
Rania hampir terlambat melakukan sholat subuh karena harus berdebat dulu dengan suaminya.
Setelah selesai rania merapikan semuanya termasuk tempat tidur tanpa bersuara sama sekali.
Sejak tadi faiz memperhatikan rania, tapi rania seakan tidak memperdulikan kehadiran faiz.
Faiz yang merasa di abaikan berjalan ke tempat tidur dan kembali membuat semuanya berantakan,
__ADS_1
"mas? Apa kamu sedang sakit," tanya rania sambil meletakkan tangannya di kening faiz.
"siapa yang sakit? Yang ada kamu yang sakit?" ketus faiz kembali duduk di sofa tanpa melihat ekspresi istrinya yang sudah naik pitam.
"mas?"
"apa?"
"bereskan tempat tidurnya," ucap rania dengan intonasi serendah mungkin namun tetap saja dari nada bicara penuh dengan tuntutan.
"apa kamu menyuruhku?" ucap faiz menunjuk dirinya sendiri.
"tidak? Aku menyuruh rumput yang bergoyang?" ketus rania melipat kedua tangannya di dada.
"hhhh....mana ada rumput bisa beresin tempat tidur,? Lagi pula di kamar ini tidak ada rumput yang bergoyang, kalaupun ada,! Itu pasti hanya kamu saja" ucap faiz tertawa keras untung tidak ada yang mendengarnya selain rania.
"Enggak sadar apa kalau dia seperti rumput yang bergoyang,!
Lihat saja dia bahkan selalu ada di setiap ruangan dan bisa muncul kapan saja dia mau, dan dia menari ke sana kemari membuat semaunya kacau kembali, untung dia ganteng kalau tidak, pasti sejak tadi sudah ku jadikan rempeyek,"
Batin rania meremas selimut dan membenahinya kembali.
"apa kamu mengatakan sesuatu? Tanya faiz tepat di telinga rania dan membuat rania terkejut dan gelagapan.
"ti...tidak? Aku hanya kesal kamu mengacaukan tempat tidurnya" elak rania tidak berani beradu tatap dengan pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
"hanya itu? Tanya faiz lagi yang sengaja kembali menggoda istrinya.
"baiklah mas, aku mengalah,! berhentilah menggodaku dan turunlah kebawa nanti aku akan menyusul mu jika aku sudah selesai dengan pekerjaanku"
"aku akan menunggu dan turun bersamamu" ucap faiz kembali duduk di sofa.
"baiklah,! terserah mas saja, tapi ingat yah aku engga mau jika mas usil lagi? Aku tidak akan turun dengan mas jika mas membuatku kesal lagi? Ancam rania yang di tanggapi dengan seulas senyum oleh suaminya.
"tenang saja ratuku, aku pasti menuruti perintah mu," jawab faiz masih dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"semarah apapun aku, pasti tidak akan lama jika melihat mu bahagia seperti itu" batin rania yang sejak tadi tidak tau, jika faiz mendengar apa yang dia pikirkan.