
Bi tari meninggalkan pekerjaannya dan berlari menuju kamar niah.
"non niah apa anda baik-baik saja, bisa tolong buka pintunya non, biarkan bibi masuk," ucap bi tari terus menggedor pintu.
"eh apa itu bi tari, ada apa dengannya , kenapa dia seperti ketakutan," ucapan niah bergumam sendiri dan berjalan membuka pintu.
Bi tari yang melihat gagang pintu bergerak segera masuk dan memberondong niah begitu banyak pertanyaan.
"non niah ada apa? Tadi bibi dengar teriakan dari kamar non, apa non terjatuh dan apa ada yang sakit, coba bibi periksa dulu jangan sampai ada yang lecet," ucap bi tari membuat niah pusing dengan pertanyaan yang begitu panjang bak kereta api.
"bi aku Enggak apa-apa kok, tadi niah hanya mencoba berjalan dan Alhamdulillah kaki niah sudah sembuh makanya tadi niah teriak karena merasa senang," ucap niah dan bi tari hanya mangguk-mangguk saja.
"syukurlah non Kalau kakinya sudah sembuh bibi ikut seneng dengarnya , Ngomong-ngomong apa tuan muda tau soal ini," tanya bi tari menunjuk ke arah kaki niah.
"belum bi! Tapi biar saja, nanti saat dia pulang dua juga akan tau, jawab niah.
"tapi non benar-benar tidak apa-apa kan, jika ad yang sakit beritahu bibi agar cepat di obati,"
"bi sudah ku katakan aku baik-baik saja, kenapa bibi begitu hawatir, apa itu karena kamu takut jika tuanmu sampai marah" tanya niah menahan dagunya dengan tangan.
"non bibi hanya pelayan disini, dan sebisa mungkin bibi menjaga mod majikan bibi, jika bibi membuat kesalahan sekecil apapun, bukan hanya bibi, tapi bukan tidak mungkin pelayan yang lain pun akan mendapat masalah,"
"apa karena itu kamu begitu hawatir dengan aku," tanya niah dan di jawab dengan anggukan kepala oleh bi tari.
"tapi non tidak perlu hawatir aslinya tuan itu orangnya sangat baik, hanya saja baik ibu dan tuan kedua tidak pernah bisa menebak karakter tuan muda seperti apa,"
"hem..jadi dia itu begitu istimewa ya, tapi aku tidak ingin memikirkan itu, dan terima kasih bibi suda menjelaskan semuanya, dan seperti yang bibi katakan, tuan muda memang baik, hanya saja tidak semua orang dapat memahaminya,"
__ADS_1
"Ngomong-ngomong apa bibi tau wanita yang bernama renata?," tanya niah membuat bi tari melototkan matanya.
"non itu rekan kerja tuan muda, setahu bibi sih, wanita itu suka sama tuan muda, tapi tuan muda tidak pernah menaruh perasaan pada wanita itu," ucap bi tari menjelaskan.
"oh jadi seperti itu?, pantes aja tadi siang dua begitu marah saat melihat aku bersama kak faiz di butik, ternyata dia salah satu fens kak faiz," ucap niah lagi yang di sambut tawa oleh bi tari.
"hhhh....non bisa saja, asal non tau!, baik tuan muda atau pun tuan muda kedua mereka sama-sama tidak suka dengan wanita itu," ucap bi tari.
"kenapa seperti itu bi, Bukankah dia gadis yang cantik," ucap niah lagi
"non, renata itu seperti singa yang tertidur, dia akan terlihat manis jika tertidur, namun ketika dia bangun dia akan menerkam siapa saja, bisa saja non kini manjadi tergetnya, karena dia sudah tau kehadiran non di keluarga tuan muda,"ucap bi tari membuat niah bergidik ngeri.
"kenapa bibi malah menakuti ku,"ucap niah mengerucutkan bibirnya.
"non, bibi tidak ingin menakuti non, bibi hanya mengingatkan agar non hati-hati saat non hanya sendirian, meski bibi hanya pelayan di rumah ini, tapi jika soal renata bibi tau banyak non, dia adalah gadis yang sangat nekat dan tidak punya perasaan, karena itu pula keluarga Dirgantara tidak ada yang suka padanya,"
"bi..apa dia sejahat itu?," tanya niah lagi yang terlihat hawatir.
"maafkan bibi non, bukan maksud bibi membuat non hawatir, tapi itu semua memang benar, tapi kenapa non harus hawatir, non berada di keluarga yang di segani semua orang, dan rumah ini non akan baik-baik saja, selama non ada di sini tidak akan ada orang yang berani menyakiti non," jelas bi tari mencoba menenangkan niah.
"bukankah dia wanita yang sangat nekat bi, bagai mana jika dia mengacaukan pernikahan niah dan kak faiz," tanya niah yang mulai berkaca-kaca.
"non jangan menangis bagai mana jika tuan muda tau bibi bercerita banyak pada non tentang renata, taun muda pasti akan marah besar, bibi minta maaf non tolo ng berhentilah menangis," ucap bi tari menggenggam tangan niah.
"niah tidak akan mengatakan apapun pada kak faiz, tapi bisakah bib bawakan makan ke kamar niah, rasanya niah sudah lapar," ucap niah dan membuat bi tari begitu antusias mengambilkan makanan untuk niah.
" tentu saja non, tunggu sebentar ya bibi kebawah dulu,"
__ADS_1
"emm," jawab niah tersenyum yang dan membuat bi tari sedikit lega.
"skip rumah sakit"
"bu..hari ini suda cukup pemeriksaannya, setelah tiba di rumah langsung istirahat ya, sebentar lagi wira juag pulang kok, jadi ibu pulang bersama kak faiz saja ok," ucap wira membentuk lingkaran o di tangannya.
"wira kapan pemeriksaan ibu selanjutnya," tanya faiz yang langsung di hadiahi pukulan oleh ibunya.
"kenapa kamu begitu antusias menanyakan hal itu, ibu bahkan belum meninggalkan rumah sakit ini," ketus bu ranti pada putra sulungnya.
"ya ampun ibu ini, kenapa dia tidak pernah melewatkan momen untuk tidak mengajak anak-anaknya bertengkar," dan sepertinya sikap manis ibu hanya berlaku untuk niah saja, pada hal kami ini anaknya, mengapa dia begitu pilih kasih," batin faiz menekuk wajahnya,
"ada apa kak, kenapa kamu terlihat kesal begitu, tanya wira membuyarkan lamunan faiz.
"diam? Jangan membuat ku semakin pusing," ketus faiz berlalu pergi dan meninggalkan wira dengan segala kebingungannya.
"ada apa dengan kak faiz, memang salah ku apa? Kenapa aku membuatnya pusing, dasar kakak yang aneh," ketus wira dan kembali ke ruangannya.
Di dalam mobil faiz dan bu ranti menuju ke rumahnya, di perjalanan faiz hampir saja menabrak seseorang.
"AAaaaa..." suara teriakan membuat membuat faiz merem mendadak.
"ada nak?" tanya bu ranti pada putranya.
"tidak tau bu, tapi sepertinya faiz menabrak seseorang ucap faiz dan membuat ibunya terkejut.
"periksalah nak, semoga dia baik-baik saja," harap bu ranti, yang di angguki oleh faiz.
__ADS_1
Ketika faiz turun, dia lebih terkejut lagi karena orang yang dia tabrak tidak lain adalah ayah renata.