
Jam 6 pagi aku terbangun memindai seluruh ruangan yang bernuansa putih, di samping ku ada pria yang tertidur dengan menggenggam tangan ku.
"ya ampun,! Apa semalaman wira tertidur seperti ini, kenapa dia bodoh sekali dan malah menyiksa dirinya sendiri." gumam ku berusaha untuk duduk tapi justru wira terbangun.
"kak niah sudah sadar, bagai mana perasaan kakak?" tanyanya? Dasar konyol bahkan matanya belum terbuka dengan benar.
"Alhamdulillah..aku sudah agak baikan, Terimakasih kamu sudah temenin aku di sini"
"iya sama-sama kak,?" jawabnya masuh terlihat mengantuk, sepertinya dia kurang tidur.
"wir? bagaimana hasil pemeriksaan ku, apa kandunganku baik-baik saja dan apa mas faiz juga ta?"
"kandung kak niah baik-baik saja, soal kak faiz,! dia tidak tau apa-apa karena saat keluar dari apartemen dia langsung pulang tanpa berniat menemani." jelas wira mencelah omongan ku.
Aku sudah menduga itu, tapi aku cukup lega karena dia tidak perlu tau jika aku sedang hamil.
"tidak apa jika dia tidak mau menemani, aku juga nggak mau dia jadi besar kepala karena merasa aku sudah merepotkannya." ucap ku sedikit mundur kebelakang dan menjadikan bantal sebagai penyangga punggungku untuk bersandar di tembok.
"apa kak niah baik-baik saja setelah perceraian ini,? Tanya wira tiba-tiba seakan memutar isi kepalaku, entah apa maksudnya itu.
"kenapa? Apa aku terlihat menyedihkan,! apa kamu pikir aku menderita di balik senyum ku ini?, jangan hawatir aku bukanlah gadis kota yang akan terus menangis jika sedang bermasalah,aku gadis dari desa dan aku sudah tau pahit manisnya kehidupan apa lagi jika soal hubungan itu tidak perlu kau hawatirkan lagi." tukas ku menjelaskan.
Wira hanya mangguk mangguk memahami ucapan ku.
"lalu apa rencana kak niah selanjutnya,?"
"Mungkin setelah ini aku akan mencari tempat tinggal dan pekerjaan, 8 bulan ke depan aku pasti akan butuh uang untuk persalinan, aku juga tidak bisa terus-terusan tinggal di apartemen kamu, ini juga demi kebaikan kamu"
"tapi kak aku?"
__ADS_1
Aku menggeleng pelan agar wira mau mengerti hingga tanpa dapat ku hindari wira tiba-tiba memeluk ku begitu erat.
"kenapa tidak tinggal sama aku saja kak, akukan bisa jagain kak niah kalau sewaktu-waktu ada apa-apa," keluhnya masih setia memeluk ku.
"jangan sedih begitu, bukankah sudah ku katakan jika aku tidak lemah, aku yakin kedepannya aku akan lebih mandiri tanpa membuat mu hawatir."
Wira melerai pelukannya dengan tangan terangkat untuk membenahi rambut ku, sesekali ibu jarinya menghapus genangan air yang masih setia membasahi wajahku sejak tadi malam.
Rasanya pipi ku sudah tidak beres lagi mendapat perlakukan seperti ini dari wira.
"kak? Tetap tinggal sama aku ya, atau kakak saja yang tinggal di apartemen biar aku tinggal di hotel, kak niah juga tidak perlu bekerja, soal persalinan biar itu menjadi urusan ku, aku akan melakukan yang terbaik agar kakak baik-baik saja."
Aku terperanga mendengar penjelsan wira, bagaimana bisa dia menyerahkan apartemen mewah itu untuk ku tinggali.
"tidak wira biar aku berusaha sendiri, bukan kah kamu tidak mau jika mas faiz semakin salah faham jika kita terus Bareng-Bareng , lebih baik aku ngontrak di tempat lain dan cari pekerjaan, aku tidak mau kamu dan pria menyebalkan itu terus berselisih karena aku."
"kenapa harus memikirkan pendapat dia, bukankah kak niah bukan siapa-siapanya lagi? pokoknya kak niah tetap tinggal di apartemen dan itu sudah menjadi keputusan ku?" ucapnya lalu pergi tanpa menunggu jawaban penolakan ku.
Entahlah, ada rasa yang aneh setiap kali aku bercengkraman dengan wira apa lagi jika seperti tadi Rasanya ingin ku remas hati ku agar tidak merasakan rasa itu, rasa yang tak mungkin terbalaskan.
Tepat setengah 12 siang wira kembali lagi keruangan ku bersama dengan suster dengan beberapa mangku bubur ayam yang dia bawah, aku bisa tau karena dari baunya.
"selamat siang kak, ini waktunya kak niah makan siang lalu setelah itu minum obatnya" ucapnya ramah tak lepas dari senyumnya yang memabukkan.
Hade bisa gila aku di tangani dokter seganteng ini.
"wira aku kapan pulang, bosen aku di sini terus," rengek ku saat suster yang bersama wira kembali mengantar bubur ke kamar pasien yang lain.
"sebenarnya pagi tadi kak niah juga sudah bisa pulang, cuman sengaja aku nggak bilang supaya nanti kak niah pulang bareng aku, kebetulan ada dokter yang bertugas untuk nanti malam jadi aku bisa pulang cepat."
__ADS_1
benar-benar licik, pantesan dia baru datang, pasti dia sengaja menghindar biar nggak dapat todongan dari aku.
"makanlah supaya kak niah punya tenaga," ucapnya lagi menyodorkan semangkuk bubur ayam pada ku.
Ku terima bubur itu, sesekali aku menghirup baunya, belum juga aku sempat menghirupnya, aku sudah mual lebih dulu.
"hoeekk...hoeekk, singkirkan buburnya, rasanya aku ingin muntah menghirup bau bubur itu." ucap ku menutup hidup seakan bubur itu bau busuk.
Tanpa banyak bertanya, wira segera menyingkirkan bubur itu dan menaruhnya di meja dekat sofa kecil yang ada di sudut ruangan.
Wira kembali ke sisi tempat tidur ku lalu duduk dan memijit tengkuk ku, sedikit lega saat wira memberikan pijitan ringan di tengkuk ku.
"gimana kak apa rasanya masih mual,?" tanyanya tepat di telinga ku karena posisinya duduk di belakang ku.
"em..i..itu, suda mendingan kok," jawab ku terbata-bata karena dia belum mundur juga.
"ya sudah nanti aku kasih obat biar kak nia nggak mual terus, minum obat ini dulu biar nanti sore kak niah benar-benar pulih."
Aku hanya mengangguk menerima obat dari wira.
"kakak istirahat dulu aku akan kembali setelah memeriksa pasien yang lain, ingat? Jangan coba-coba pulang sendirian apa lagi berusaha kabur dan mencari tempat tinggal yang lain." ancamannya berbisik di telinga ku membuat mendelik padanya.
"memang apa yang akan kamu lakukan jika aku melanggar perintah mu," tantang ku kesal dengan ucapannya.
"jika kak niah kabur dan sampai tertangkap lagi, aku akan menikahi kak niah tepat di hadapan kak faiz." jawabnya lalu keluar dan menutup pintu ruangan ku.
dengan susah paya ku telan saliva ku, bagaimana bisa aku menikah dengannya hanya karena aku kabur, apa itu salah satu cara dia untuk tetap menahan ku.
benar-benar ajaib wira itu, aku bahkan sakit kepala mencerna ucapannya.
__ADS_1
Ku baringkan kembali tubuh, ku harap dengan tertidur sejenak aku bisa lupa dengan dokter aneh itu.