
"Ting..tung.."
Suara bel berbunyi menandakan ada seseorang yang datang.
"mbo darmy, pergi dan lihatlah siapa yang datang," ucap pak adi masih sibuk dengan koran di tangannya.
"baik tuan," jawab mbo darmy berlalu pergi.
Ketika membuka pintu, mbo darmy tidak bisa berkata apa-apa dengan siapa yang datang,? Mbo darmy memindahi orang itu dari atas sampai bawa, dan alangkah terkejutnya jika orang yang berdiri di depannya adalah anak majikannya.
renata ambruk di depan dan bersandar di daun pintu.
"non renataaaa...apa yang terjadi ndoo..,kenapa keadaanmu seperti ini,! Ya allah gustii..."
Suara mbo darmy yang histeri mengundang perhatian pak adi, tidak menunggu lama pak adi pun tiba dan mendapati putrinya seperti tidak mempunyai kehidupan.
"mbo,! Ada apa? Kenapa...?" ucapan pak adi terputus ketika melihat siapa yang datang.
"tuan? Non renata tuan,"
"sayang ada apa? Apa yang terjadi padamu," renata tidak menjawab, hanya air mata yang keluar saling berlombaan.
"nak ini ayah, ada apa denganmu, Ceritakanlah ayah akan mendengarkan,"
renata sama sekali tidak menggubris perkataan ayahnya, dia masuk tanpa memberi penjelasan apapun dengan kondisinya.
"ayah untuk pertama kalinya aku minta maaf padamu,? Rena tidak bisa menjaga kehormatan ayah dan ibu, maafkan rena yah, bu, saat ini rena hanya ingin sendiri dan tidak ingin menjelaskan apapun,"
renata masuk ke kamarnya dan meninggalkan ayahnya merasa sangat hawatir.
"mbo, menurutmu apa yang terjadi pada renata,?" tanya pak adi pada asistennya.
"maafkan saya tuan, Bukannya saya lancang, tapi karena tuan bertanya, saya akan menjawab sesuai apa yang tuan lihat tadi,"
"memang apa yang terjadi pada putri saya mbok" tanya pak adi lagi tanpa berpaling dari pintu kamar renata yang tertutup.
__ADS_1
"jika saya lihat sepertinya non Renata di aniyaya tuan, tapi bisa saja tebakan saya salah, tapi ada kemungkinan juga non Renata mengalami hal buruk hingga dia tidak pulang tadi malam,"
"jika itu benar,! Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika Renata tidak mau menjelaskan, sebaiknya biarkan dia tenang dulu, nanti tolong mbok antar makanan ke kamarnya yah, saya harus kembali ke kantor lagi,"
"baik tuan semua sesuai perintah tuan," ucap mbok darmy.
Sementara di kediaman Dirgantara,! Semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing,! Hari telah berlalu tak terasa hari yang telah di tunggu-tunggu akan segera tiba, pengantin pria dan wanita sedang sibuk mempersiapkan diri untuk acara nikah nanti.
"bi,! Bawa sarapan ke kamar rania, biarkan dia mengisi perutnya lebih dulu, saya tidak ingin dia jatuh sakit ketika acara akad nanti, ingat? Pastikan dia benar-benar menghabiskan makannya,"
"baik bu," ucap bi tari berlalu ke dapur, namun baru saja selangkah dia berjalan, bi tari kembali lagi.
"bu? Apa tuan muda pertama di bawakan juga,"tanya bi tari.
"ya...tentu saja, bukankah dia mempelai prianya," jawab bu ranti yang di angguki bi tari.
"tok..tok...tok..? Non ini sarapannya, ibu meminta non makan lebih dulu,"
Suara deritan pintu di buka rania, memperlihatkan gadis cantik dengan balutan gaun bak putri raja.
"bagai mana bi,! Apa masih ada yang kurang, apa masih perlu menabahkan sesuatu," tanya rania masih terus memperhatikan dirinya di balik cermin.
"non pakai apa saja akan tetap terlihat cantik,? Ngomong-ngomong soal penampilan non,! Sebaiknya non makan dulu sebelum ibu datang kesini dan memarahiku karena non belum makan juga,"
"hehehe...baiklah bi, aku tidak akan mengantar nyawa bibi pada ibu," ucap rania, di sambut gelak tawa mereka berdua.
Setelah selesai rania kembali merias dirinya dan sesekali tersenyum guna menghilangkan rasa gugup meresahkannya.
"ya allah kenapa aku begitu gugup, apa semua mempelai merasakan hal ini,? bagai mana dengan mas faiz ya, apa dia juga sama sepertiku, tapi,! Kenapa sejak tadi dia tidak mengirimkan pesan? Ah..sudahlah mungkin mas faiz sedang sibuk bersiap-siap lebih baik ku siapkan diriku,"
Prosesi icap kobul akan segera di langsungkan, faiz sudah keluar lebih dulu sementara rania masih menunggu di kamar.
"di mana mempelai wanita,! Acara akan segera di mulai sebaiknya bawa dia kesini," ucap pak penghulu pada bu ranti.
"tunggu sebentar saya ke kamarnya dulu,"
__ADS_1
Bu ranti menyusul rania, dan memintanya untuk segera turun.
"niah sayang ayo kamu turun kebawa sekarang, acara akan segera di mulai, tidak baik menunda waktu yang baik ini,"
"bu? Apa semuanya akan baik-baik saja?"
"sayang ada apa? Kenapa kamu terlihat hawatir, ini hari pernikahanmu dan jangan pikirkan apapun, kamu hanya perlu turun ke bawa dan duduk manis di samping calon suamimu,"
Sikap bu ranti sedikit memberi ketenangan bagi rania, kini dia hanya perlu berserah diri atas apa yang akan terjadi.
"Terimakasih bu, niah akan berusaha setenang mungkin,?"
"itu harus sayang karena kamu harus menikah, ayo pergi bersama ibu,? Ucap bu ranti merangkul tangan rania.
Sebelum turun, semua mata memandang kearah rania termasuk faiz dan wira, tak ada yang bersuara, seakan mereka melihat bidadari ada di kediaman Dirgantara.
"apa itu mempelai wanitanya,? Jika iya, dia cantik sekali, bahkan aku seorang wanita irih melihat kecantikannya,,"
"iya,! pak faiz benar-benar beruntung, dan sepertinya gadis itu baik dan sopan,"
"darimana kamu tau jika dia baik dan sopan?,"
"hehe...apa itu penting bagimu, yang pasti? Dia terlihat sangat cantik,"
"sudah-sudah kenapa kalian malah bergosip, jika pak faiz dengar,! kalian akan di gantung nanti,"
"yang benar saja kamu ini,! Kami hanya memuji kesempurnaan mempelai wanita apa itu juga salah, dan kenapa harus sekejam itu hukumannya,"
"siapa pun yang memandang wanita pak faiz secara berlebihan, itu artinya mereka mengantar nyawa mereka dengan sendirinya, jadi berhentilah berbicara dan tutup saja mulutmu dengan sapu tanganmu,"
Apa pun yang mereka bicarakan faiz mendengar semuanya, tapi anehnya kali ini faiz sama sekali tidak perduli, wira yang memperhatikannya sejak tadi merasa heran,! Tidak biasanya kakaknya akan diam saja jika mendengar seseorang bercerita tentang orang yang ada di sekitar, apa lagi yang mereka bicarakan adalah mempelai wanitanya.
"duduk sayang biar ibu pasang kerudung mu bersama faiz," bu ranti mengambil kerudung putih dengan motif renda bunga-bunga dan menutupi faiz dan rania.
"baik? Berhubung waktu saya yang tidak banyak dan saya juga harus menikahkan dua pasang mempelai di tempat lain, jadi marilah segera di mulai proses ucap kobulnya, bagaimana saudara faiz dan rania, apa kalian sudah siap di nikahkan," tanya pak penghulu membuat faiz berkeringat dingin.
__ADS_1
"insya allah pak kami sudah siap," jawab faiz sesekali melirik rania yang juga terlihat sangat gugup.