Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 51: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"apa katanya,! Mengurangi porsi makan ku,? Bukankah dia sendiri yang menyuruh Aku untuk makan? padahal dia tau aku sudah makan rujak di kantor,! Yang benar saja suamiku ini, sepertinya otaknya perlu di servis."


batin ku semakin kesal sepertinya mas faiz senang mengerjaiku.


"hhhh ruba kecil- ruba kecil, kenapa wajahnya lucu sekali jika sedang marah," batin mas faiz juga terus menutupi wajahnya, aku tau dia pasti menertawakanku.


"sudah jangan cemberut terus nanti kulitmu keriput lo."


"memangnya kenapa jika kulitku keriput? Apa mas akan mencari pengganti ku." aku benar-benar kesal di buatnya, bisa-bisanya dia mengatai ku keriput.


"ya ampun sayaaaaang...! Belum juga sebulan kita habis menikah, kamu udah mikirin cari pengganti."


Aku mencebik kesal merasa frustasi di buatnya, mungkin akan lebih baik jika aku tidur saja.


Ku benarkan posisi dudukku dan mengambil ancang-ancang bersiap-siap untuk tidur,! Ha...rasanya lega sekali menyandarkan punggungku.


"ruba kecil jangan tidur? sebentar lagi kita sampai kantor" ucap mas faiz namun tidak ku pedulikan.


Setelah meninggalkan kafe akhirnya sampai juga di kantor, mas faiz memarkirkan mobil lalu beralih membuka pintu untukku.


Aku tau mas faiz tidak akan membangunkan ku karena itu tadi dia memintaku untuk tidak tertidur.


"hoooaaaammm?" aku mengerjapkan mata saat terbangun dari tidurku, di sudut ruang terlihat pria tampan itu sibuk memilah dan memilih tumpukan kertas di hadapannya dengan di temani secangkir kopi di sampingnya.


Ku hampiri dia, dia sama sekali tidak mau mengalihkan Pandangannya dari kertas putih itu.


Ku ambil kertas itu dan ku letakkan di meja, sekilas dia menatapku bingung tapi tidak protes apa yang ku lakukan.


Ku bentangkan tangannya laly aku duduk di pangkuannya sambil mengalungkan tanganku di lehernya,


"mas? Ayo pulang, bosan aku di ruangan ini," ucapku bersandar di dadanya.


"belum juga sehari kamu sudah bosa ada di sini,! Bagaimana dengan mas, yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di kursi panas ini," ucapnya sambil menoel hidungku yang kurang mancung.

__ADS_1


"aaa pulang aja yu,! Bukankah kita mau belanja oleh-oleh untuk bibi di kampung, ini suda sore loh mas?, kita bahkan belum bicara dengan ibu tentang keberangkatan kita besok."


Dia mengacak rambutku dengan gemas dan memindahkan ku di atas meja, ku lihat dia merapikan kertas yang ku letakkan tadi, ternyata dia mengiyakan ajakanku tanpa banyak bicara.


Saat dia merasa semuanya sudah beres, mas faiz kembali menatapku, dia sedikit tersenyum dan meraih tas kerjanya, lalu menggendongku dari depan.


Aku yang Mendapat perlakuan itu, tentu saja aku meronta-rontah, entah apa yang di pikirkan suamiku hingga nyalinya begitu nekat menggendongku keluar dari kantor.


"mas turunkan aku? Di luar masih banyak orang mas," ucapku menatapnya dengan raut wajah yang tidak karuan.


Bukannya menurunkanku, justru mas faiz keluar dari ruangan tanpa mendengarkanku.


"eh eh lihat tuh si bos, sepertinya istrinya manja banget yah? Mentang-mentang istrinya bos, seenaknya saja bermesraan di depan kita."


"iya tuh pada hal, dia engga cantik-cantik amat yah,"


Baru saja keluar, aku sudah mendengar kata-kata yang tidak sedap.


Tapi ku pikir-pikir, jika mereka buta bagai mana mereka melihat reaksiku, kita lihat saja? siapa yang akan bertahan, aku,! Atau si tukang julid yang bertahan.


Saat masi melewati para staf wanita, terlintas ide brilian, ya setidaknya menurutku seperti itu.


Ku bingkai wajah mas faiz dengan tanganku hingga kening mas faiz terlihat mengkerut, aku tau dia pasti bungung apa yang akan ku perbuat.


Setalah ku rasa posisinya sudah benar, langsung saja ku ***** bibirnya, wkwkwk...pemandangan yang sangat lucuh menurutku, tanpa melepas tautan bibirku dengan faiz, ku lirik mereka di samping kiri dan kanan.


Terlihat ada yang menutup mata namun tetap mengintip di sela-sela jarinya, ada pula yang berdecak kesal melihat tayangan langsung dari pujaan hatinya, bahkan ada yang pingsan.


Lucu sekali melihat wajah mereka.


Setelah sampai di luar baru lah ku lepaskan ciumanku, mas faiz menatapku heran, mungkin dia tidak yakin jika yang menciumnya adalah aku.


Bahkan mas faiz sama terkejutnya dengan para wanita di dalam sana.

__ADS_1


Mungkin mas faiz belum siap menerima serangan mendadak dariku, namun ku lihat dia juga cukup menikmati, terbukti tadi dia sama sekali tidak menolak atau sekedar bertanya mengapa aku senekat itu.


"sayang ini beneran kamu?" tanyanya padaku dan membuatku berputar-putar seperti gasing, benar dugaanku, dia pasti tidak percaya apa yang ku lakukan barusan.


"mas jangan memutar ku seperti itu rasa aku ingin muntah." ucapku menahan mual.


"lagian aku heran aja, kesambet setan apa kamu sampai punya nyali seperti itu, menciumku sementara kamu dalam gendonganku."


"lagian ngapain juga mas bertingkah seperti orang kesurupan gitu, niah kan juga kaget di gituin." ucapku tak mau kalah karena memang tadi aku tidak siap pamer kemesraan di depan orang banyak.


"apa yang salah jika mas lakuin itu, mas kan sekedar nunjukin rasa sayang mas sama kamu," jawabnya dengan mimik wajah yang di buat sepolos mungkin, ih dasar lintah darat.


"niah tau itu tidak salah, makanya tadi niah nekat kaya gitu, emangnya cuman situ yang pengen untung terus akunya enggak,! Niah juga pengen untung kali, jadi anggaplah kita sama-sama nunjukin kasih sayang kita."


"kaya gitu! gimana maksud kamu yank? Apa yang kamu maksud itu seperti ini?"


Aku terperanjat mendapat serangan balik, mas faiz hanya nyengir kuda dan masuk dalam mobil.


Ku susul dia dan duduk di sebelahnya, dia benar-benar tidak merasa berdosa sama sekali, sudah menggendongku lalau menciumku pula, hari ini mas faiz benar-benar untung banyak.


"yank nanti kita lanjut lagi ya di rumah?"


"whats?"


"lanjut di rumah, ini aja belum belanja, terus di rumah ibu pasti akan ngikutin terus karena besok mau ke kampung, gimana mau lanjut coba?"


"oh iya aku sampai lupa kalau mau belanja, gara-gara keasyikan pacaran nih makanya jadi lupa, langsung ke mall aja deh, mumpung rubah kecil masih anteng, ada untungnya juga bisa baca pikiran orang, jadi aku bisa tau si nona manis lagi mikirin apa, aku tau setelah ini dia pasti ngajakin belanja,"


"mas ayo kita belan?"


"nah kan, apa yang aku bilang, minta belanjakan."


"iya mas tau sayang, belanjakan maksud kamu, jangan hawatir mas tidak lupa kok." jawab mas faiz memotong ucapan ku,

__ADS_1


__ADS_2