
"iya kak, saat ini kak niah sedang hamil, kak faiz pasti seneng banget kalau dia tau sebentar lagi dia akan jadi ayah."
"senang? Apa iya mas faiz akan senang,!" batinku setengah berpikir.
"wir? Tolong jangan katakan pada mas faiz soal ke hamilanku ya, aku takut dia belum siap menerima anak ini."
"tapi kak? apa sebaiknya mas faiz tau saja, siapa tau dengan hamilnya kak niah kak faiz tidak akan marah lagi."
Aku cukup ragu dengan usulan wira, tapi tidak ada salahnya juga jika mas faiz tau sebentar lagi dia akan punya anak.
"baiklah, tapi kamu temani kakak ya wir, soalnya kakak takut mas faiz akan bertindak kasar lagi seperti kemarin."
"iya kak,! Ya suda kak niah istirahat dulu yah, nanti sore kita pulang bareng" aku mengangguk iya lalu tidur di pembaringan.
Waktu terus bergulir berganti angka demi angka, hingga menjelang sore wira kembali lagi dan membawa sepasang baju ganti untuk ku pakai.
"Bagaimana keadaan kak niah." tanyanya saat aku merubah posisi menjadi duduk.
"Alhamdulillah..sudah agak baikan, Ngomong-ngomong kamu bawa apa wir?" tanyaku balik melihat kantong plastik di tangannya.
"oh ini tadi aku beli baju ganti buat kak niah, di pakai ya terus kita pulang."
"makasih ya wir maaf suda repotin kamu. Lain kali nggak usah repot-repot seperti ini, kakak jadi nggak enak nanti."
"tidak apa-apa kak, lagian kalau bukan wira siapa lagi yang akan ngurusin kakak,."
"ayo ganti bajunya aku akan tunggu di luar."
segera ku kenakan baju itu lalu keluar menemui wira di depan kamar.
"ayo wira kita pulang mas mu juga pasti suda di rumah." kataku saat keluar di kamar.
"iya kak ayo,"
__ADS_1
Badanku suda agak enakan jadi wira tidak perlu membopong ku aku mendorong ku dengan kursi roda.
Sesampainya di rumah aku masuk dan berjalan di belakang wira, aku takut jika mas faiz melihat ku dia akan ngamuk lagi seperti kemarin.
"ayo jalan di samping aku kak, ngapain jalan di belakang seperti anak ayam," kata wira mengejekku.
"ish kamu tuh, orang lagi takut juga, gimana nanti kalau kakak mu tau kalau kakak ada di sini." kataku masih bersembunyi di belakang wira.
"uda deh kak, kalau cuman mau ngumpet ngapain kakak masuk, lagian sejak tadi dia sudah tau kakak ada di sini." kata wira dengan santainya.
Tunggu apa katanya tadi, sejak tadi dia sudah tau?.
Ku edarkan pandangan ke seluruh ruangan, tepat di anakan tangga berdiri sosok pria yang ku takutkan sejak tadi.
Dengan susah paya aku berjalan menghampirinya, rasanya aku ingin menghilang saja dari pada jadi pusat perhatian lelaki yang susah senyum itu.
"wir bagaimana ini,"
Kataku lirih menggoyangkan lengan wira, sialnya wira hanya nyengir saja memamerkan gigi putihnya.
"aku nggak tau lah kak, kita kan juga baru sampai, Memangnya kenapa kalau belum makan malam kakak mau siapin untuk kakak."
"mana mau dia makan dan di layani olehku, yang ada nanti aku jadi santapan makan malamnya, lihat saja wajah, dia sana sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan untuk aku."
Wira hanya tertawa kecil dan mengambil langkah besar hingga aku tertinggal di belakang.
"malam kak." sapa wira tapi uang di sapa cuek bebek saja,
"untuk apa kamu mengajak dia ke sini" tanya mas faiz sinis langsung membuat nyaliku menciut dan mengurungkan niat sampai di meja makan.
"kak sampai kapan kakak menyalahkan kak niah, kakak menuduh kak niah tanpa adanya bukti apa itu adil untuk kak niah"
"cukup wira,? jangan kamu pikir kamu adikku sehingga aku akan melemah dengan sikapmu, bawa jauh-jauh wanita itu? Aku tidak mau melihat wajah lagi atau mempunyai hubungan apapun dengan dia." herdik mas faiz seakan melayang di udara.
__ADS_1
"kak? kenapa kita tidak mendengarkan dulu penjelasan kak niah, dia itu sedang,?"
"tidak apa wira,! sebenarnya kakak kesini hanya untuk mengambil koper kakak yang ada di kamar, kalian tidak perlu bersitegang karena aku,"ucap ku segera memberi isyarat pada wira agar tidak meneruskan ucapannya.
Biarlah mas faiz tidak tau jika aku sedang hamil, lagipula tidak penting baginya memiliki hubungan denganku lagi, jika sudah seperti itu apa gunanya mas faiz tau tentang anak ini.
aku juga tidak ingin anak ku tumbuh dengan lingkungan yang tidak sehat, akan ku cari kehidupan di luaran sana untuk anak ku jika memang mas faiz enggan memiliki hubungan apapun lagi.
"tunggu apa lagi cepat ambil barangmu dan tinggalkan rumah ini, kamu sudah tidak punya tempat di sini, dan satu lagi?" mas faiz berjalan mendekatiku ku pikir dia ingin memelukku untuk yang terakhir kalinya, tapi apa yang dia katakan sungguh diluar dugaan ku.
"besok aku akan menggugatmu di pengadilan, tolong kamu jangan hadir agar sidangnya di permudahkan," mas faiz berbisik seakan menguliti sekujur tubuh ku, aku terperanjat saat satu tepukan di bahuku membuatku sadar,
Aku hanya mengangguk lemah dengan mata yang berkaca-kaca, aku seperti orang linglu bingung harus bersikap seperti apa, aku sama sekali tidak percaya pernikahanku yang masih seumuran jagung harus kandas dengan kesalah pahaman.
"wira tolong ambilkan koper kakak," ucapku enggan berbicara banyak,
"apa kakak benar-benar mau pergi,! Ini sudah malam kak, bahaya jika berada di luar rumah."
"akan bahaya lagi jika kakak tetap di sini, sudahlah wir ambilkan saja koper ku mumpung belum terlalu malam kakak akan cari tempat tinggal yang lain."
Wira mengusap wajahnya kasar dan berpaling menatap mas faiz yang dengan santainya menyantap makan malam.
"kak tidak bisakah kak niah tetap di sini, setidaknya tunggulah hingga pagi," mas faiz tidak menggubris dan tetap menikmati makan malamnya.
Percuma saja bicara dengan muka tembok dia tidak akan runtuh hanya dengan aungan kecil.
"apa masih kurang jelas ya, aku bilang tidak ada tempat untuk dia di sini, kenapa kamu masih saja mengemis untuk dia"
"kak aku menghormatimu karena kamu adalah kakak ku, dan aku membela kak niah karena menurutku dia itu tidak bersalah, jika memang kakak tidak mengizinkan kak niah tinggal di sini,! Mulai sekarang biar kak niah tinggal bersama dengan ku"
Mas faiz menatap wira berang hingga otot-otot di wajahnya terlihat menegang, aku segera menghadangnya saat mas faiz ingin melayangkan pukulan.
"cukup mas jangan kotori tanganmu untuk menyakiti wira, apa yang salah jika wira masih punya hati nurani untuk berbelas kasih, sementara kamu sebagai suami dengan entengnya mengusirku dari rumah ini, baik aku juga pasti akan pergi, tapi ingat satu hal mas sekali kamu buang maka jangan harap bisa memungutku kembali karena mungkin saat kamu buang ada irang lain yang akan membawaku pergi."
__ADS_1
Setelah berucap ku tinggal mereka berdua dan naik ke atas mengambil koperku yang sejak tadi ku minta wira untuk mengambilnya.