Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 49: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Pov renata


"hemm..ternyata bekerja di kantor tetap tidak bisa membuatku lupa padamu, andaikan aku baik-baik saja, mungkin aku masih berjuang mendapatkanmu."


Ku hempaskan tubuh yang lelah ini di atas sofa, rasanya penat sekali sepanjang hari hanya berpikir yang ku lakukan.


Ku pandangi ponselku, ku usap hingga menyalah memperlihatkan wajah pria yang sangat ku cintai.


"faiz apa kamu bahagia dengannya, apa tidak sedikitpun kamu mengingatku, ah bodoh sekali aku ini, bukankah dia memang tidak suka padaku, lalu bagaimana dia mengingatku," cecarku mengumpat diriku sendiri.


Ku lihat jam di pergelangan tanganku, sekarang pukul 12 siang, cacing di perutku seakan menari-nari meminta di beri makan, tak ingin terlalu banyak berpikir ku sambar tasku lalu pergi mencari ketenangan walau hanya sebentar.


"renata kamu mau kemana" tanya ayah saat melihatku keluar dari ruangan, sepertinya dia juga baru selesai miting.


"rena hanya mau keluar sebentar yah, bosen di dalam terus, rena lapar mau cari makan dulu,"


"Mau ayah temani?"


"ya jika ayah juga lapar?"


"tunggu sebentar ayah simpan ini dulu" ucapnya memperlihat beberapa map di tangannya.


"ayo,?"


Ku ikuti ayah dari belakang dan masuk ke dalam lift, setelah sampai di lantai bawah, aku dan ayah menuju mobil yang terparkir di halaman kantor.


"kamu mau makan siang di mana?" tanya ayah saat sudah berada dalam mobil.


"di kafe saja ya," jawabku singkat tanpa menoleh kepada ayah.


"bagaimana rasanya bekerja di kantor apa kamu cukup senang, atau justru merasa bosan, ayah lihat tidak ada perubahan dari wajahmu, masih sama seperti tadi pagi.


"semuanya butuh proses yah, bukankah itu yang sering ayah bilang."


"ya semoga kedepannya kamu jauh lebih baik,"


Aku hanya mengangguk, tidak ingin terlalu banyak bicara, hingga kami tiba di sebua kafe bernuansa abu-abu di padukan dengan warna putih ke emasan, hem...warna yang cukup cantik menurutku.


Ayah memarkirkan mobil lalu turun membuka pintu untukku, tidak ku hiraukan sama sekali dan langsung keluar tanpa mengucap Terimakasih.


Ayah juga tidak mempermasalahkan, namun aku tau dia pasti bersedih.


Ku cari tempat duduk yang cukup nyaman untuk, hingga ayah tiba dan duduk bersebrangan denganku.


"kau mau makan apa" tanya ayah saat pelayan datang membawa menu makanan.


"apa saja yah, yang penting tidak pedas dan bisa membuatku kenyang." jawabku memandang ke arah jendela, karena aku memang duduk dekat jendela.

__ADS_1


"sayang kamu tidak makan, apa kamu hanya akan menonton mas saja."


"tadi kan nia sudah makan mas, niah minum jus aja deh, udah kenyang soalnya kalau makan lagi."


deg


"suara itu seperti suara faiz, apa dia juga disini"


Terdengar suara faiz saat aku masih sibuk dengan pikiranku, ku edarkan pandangan benar saja, faiz ada di sini, dia bahkan duduk bersebalahan meja denganku.


Namun hatiku terasa sakit saat melihat dia bersama wanita lain.


Ah mungkin wanita lain itu adalah istrinya.


tatapanku tak lepas darinya, namun aku mengingat jika wanita itu adalah wanita yang sama yang ku temui di butik waktu itu.


ternyata dia yang menikah dengan faiz.


"sayang ayo makan, bukankah kamu sangat lapar?" lamunanku bayar mendengar suara ayah di depanku.


"iya yah, ayah juga makanlah" jawabku berusaha menutupi raut wajahku yang terasa memanas.


"mas aku ngantuk."


terdengar suara niah bahwa dia mengantuk, suara yang terdengar begitu manja.


"iz? Aku di sini apa kamu tidak ingin melihatku, tidak bisakah kamu merasakan kehadiran ku."


Aku makan dengan cepat, tak ingin berlama-lama di kafe ini, setelah selesai ku tinggalkan ayah yang masih menikmati makanannya.


Tanpa pamit, aku berdiri dan keluar tanpa menghiraukan panggilan dari ayah.


"rena kamu mau kemana ayah belum selesai makan loh"


ting!


"rena nungguin ayah di mobil, habiskan dulu makanan ayah nanti ayah sakit makannya cuman sedikit."


Ku kirim pesan pada ayah, agar dia tidak hawatir


"kenapa tidak menunggu ayah, apa kamu merasa tidak nyaman ada di sini"


Ku baca pesan ayah, ternyata tidak mudah juga kabur dari ayah.


"nanti aku jelaskan, makanlah dulu rena akan menunggu di mobil saja."


Setelah pesan terkirim, ku sandarkan kepalaku, rasanya berat sekali, mungkin aku terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini,

__ADS_1


Tanpa sadar mataku terpejam hingga lupa dengan segalanya.


Baru saja beberapa menit aku tertidur, ku rasakan ada seseorang yang masuk dalam mobil.


Ku mataku dan melihat, ternyata ayah yang masuk, kupikir orang lain.


"kenapa tidak menunggu di dalam saja, apa kamu tidak kepanasan ada di mobil"


Ayahku bertanya mungkin dia belum menyadari jika di belakangnya tadi ada faiz.


"di dalam jau lebih panas yah, bahkan sangking panasnya sampai membuatku menangis."


Ucapku membuang muka ke arah jendela.


"apa karena ada faiz dan istrinya di dalam sana hingga kamu merasa kepanasan"


Aku berbalik menatap ayah, ku pikir ayah tidak tau jika faiz ada di dalam.


"dari mana ayah tau, dan jika ayah mengerti ada faiz di dalam, kenapa ayah diam saja dan tidak mengatakan sesuatu." ucapku mencar ayah dengan berbagai pertanyaan.


"ayah tidak tuli, hingga ayah tidak mendengar percakapan mereka, ayah diam saja, karena ayah mengerti kamu pasti tidak suka dengan hal itu jika ayah membahasnya."


lagi-lagi ku hindari tatapan ayah, aku sangat malu, menangis untuk laki-laki yang sudah menikah dengan wanita lain.


"sayang belajarlah lebih kuat, di luar sana masih banyak kebahagiaan untukmu, pria bukan dia saja, pesan ayah perjuangkan dia yang mencintaimu, dan berhentilah berjuang untuk orang yang tidak pernah menganggap mu ada."


Mendengar nasehat ayah, sepertinya tidak ada salahnya aku mencobanya, toh dari segi penampilan dan materi, hampir semuanya aku miliki, aku yakin aku bisa menemukan kebahagiaan yang lain.


"Terimakasih ayah, rena akan mencobanya"


Ku lihat ayah tersenyum rasanya cukup bahagia hanya dengan melihatnya tersenyum seperti itu.


Ayah melajukan mobilnya hingga menjauh dari tempat itu, hem..akan lebih baik seperti ini, dari pada di sana hanya akan menyisakan kan luka yang tak berkesudahan.


"yah?"


"hem.."jawab ayah tetap fokus ke jalanan.


"apa ayah tidak bosan sepanjang hari hanya bekerja terus, tidakkah ayah berpikir untuk menikah lagi."


Ayah memarkirkan mobil tapi tidak langsung keluar.


"ada apa? Apa kamu ingin punya ibu tiri, atau kamu bosan terus di buntuti ayah hem."


"hhhh...memangnya ayah tidak lelah menjadi penguntit, rena hanya mau ayah melanjutkan hidup tanpa merasa bersalah pada almarhumah ibu."


Entah kenapa aku menertawakannya, padahal tidak ada yang lucu dari pertanyaan ayah.

__ADS_1


__ADS_2