
"terima kasih nak, ibu tidak pernah berpikir, jika emosi akan menyakiti ibu dan anak-anak ibu,"
"raniah boleh ibu meminta sesuatu."
"katakan saja, ibu ingin meminta apa dari raniah, selama raniah punya, raniah akan berikan apa yang ibu minta." jelas raniah dengan senyum manisnya.
"menikahlah dengan faiz anak ibu," jelas bu ranti dengan wajah penuh harap.
"Hhaaaa...menikaaah?" teriak faiz secara bersamaan, Sungguh, apa yang ada di pikiran sang ibu, sehingga begitu mudahnya minta sang anak menikah dengan wanita yang belum tentu setuju dengan keinginan konyolnya.
"iya menikah, kalian setujukan." lagi-lagi faiz di buat tercengang oleh sang ibu.
"bu...niah sama faiz kenalnya baru dua puluh empat jam, lalu bagai mana kami tiba-tiba di nikahkan."
"cukup seteju saja maka semuanya akan beres," begitu mudah sang ibu membuat keputusan, bahkan raniah saja belum memberikan jawaban.
"semudah itu bu," faiz kembali ingin memastikan, namun kenyataan faiz hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar.
"ehemm...."
"niah bagai mana ini," faiz bertanya pada raniah dengan mimik wajah yang sulit di artikan.
"niah juga tidak tau kak." jawab raniah setengah berbisik pada faiz.
"bu kami berdua perlu bicara, ibu istirahat dulu, kami akan pergi keluar," tidak ada jalan lain selain berdiskusi.
"baik pergilah, ibu tunggu keputusan kalian, dengar, ibu tidak ingin adanya penolakan, jadi pastikan kalian tidak mengambil keputusan yang salah," ancam bu ranti dengan senyum yang d sembunyikan.
"kenapa ibu begitu kejam hari ini," gerutu faiz sambil berlalu pergi.
Di luar mereka bertemu wirah yang ingin menemui bu ranti,
"kak faiz, raniah, kalian di sini juga!,"
"iya, kakak baru saja dari kamar ibu, temui dan periksalah ibu, tadi ibu mengeluh dadanya sakit, dan dia menolak ke rumah sakit,"
__ADS_1
"ibu memang keras kepala, baik aku ke kamar ibu dulu," wirah sama kesalnya dengan sikap ibunya, tapi ibu tetaplah ibu, mereka tidak bisa bersikap kasar, walaupun mereka terus saja di paksa dalam segala hal.
"eh...tunggu?," baru saja selangkah, wirah memanggil faiz lagi.
"ada apa?"
"kenapa raniah di sini, Bukannya kamu bilang dia akan tinggal di kosan depan rumah," faiz melihat wirah dengan tatapannya yang sangat menakutkan, dan wirah sudah paham, jika perkataannya sedikit menyinggung raniah.
"kakak yang membawanya kesini, karena di sana tidak cukup aman untuk raniah." jelas faiz dengan tenang, namun bisa di lihat jika dia sedang menahan kesal.
" oh baiklah, bukan masalah jika dia di sini, ibu juga pasti akan senang jika dia punya teman bicara," ungkap wirah sedikit kaku karena merasa tidak enak pada raniah.
"tentu saja, kalau begitu, cepat temui ibu sebelum ibu tertidur, karena tadi ibu sempat meminum obat," ungkap faiz dan berlalu pergi, tapi wirah tidak ambil pusing, karena dia tau bagai mana sifat kakaknya itu jika sedang kesal.
"kak kita mau kemana,"
"emmm..bagaimana jika kita ke pantai," jelas faiz sedikit menunduk dari belakang raniah, membuat raniah sedikit malu.
"apa tidak terlalu pagi kak, pasti akan dingin sekali," tolak raniah dengan lembut.
"hhhh.....jangan melihat niah seperti itu, nanti niah diabetes loh," ungkap raniah dengan tertawa kecil.
"apa kakak semanis itu, atau kau hanya ingin menggodaku saja?" faiz semakin mendekat dengan posisi seperti tadi, tapi raniah mala kebingungan, karena faiz terus saja mengikis jarak.
"kak, sebaiknya kurangin kadar gula di senyum itu," jelas raniah tanpa berkedip.
"hemm...kamu pikir, yang kamu lihat memang sengaja di buat buat?, ini fakta raniah, kakak memang terlahir dengan senyum yang manis, jika kamu merasa terganggu, tutup matamu dan jangan melihatku," raniah menaik turunkan alis, karena faiz berbicara seperti orang salah minum obat.
"kenapa dengan wajahmu, apa kau tidak percaya apa yang aku katakan,"
"sekarang aku percaya!, bisa kita pergi sekarang?, kita tidak akan kemana jika kita terus berdebat di sini." raniah mendorong kursinya sendiri, alhasil hampir membuat faiz terjatuh.
"eh eh...tunggu?, biar kakak bantu," faiz berlari dan mengabaikan dirinya yang hampir terjatu karena raniah yang pergi secara tiba-tiba.
Setelah raniah masuk dalam mobil, faiz kembali masuk dan duduk di kemudi.
__ADS_1
Tiga puluh menit mereka sudah sampai di kafe, faiz memilih tempat duduk yang tidak jauh dari jendelah, tujuannya, dia ingin memastikan jika renata masuk faiz bisa tau.
"ayo duduk di sini, biar kakak bantu kamu untuk pindah," tapi raniah justru menolak.
"tidak usah kak, duduk disini pun juga sama, duduklah di kursi mu, biar niah di sini saja," Raniah menolak dengan penuh hati-hati, karena dia hanya tidak ingin merepotkan faiz.
"sepertinya kau begitu suka duduk di kursi yang menyebalkan itu," kata faiz sambil menghempaskan bokongnya di kursi.
"bukan suka?, tapi, ada baiknya kakak membiarkan niah terbiasa dengan keadaan raniah," jawab raniah dengan senyuman di wajahnya.
"hemm..baiklah, terserah kamu saja?
Kakak akan pesan dulu, tunggulah di sini, sepertinya para pelayan tidak melihat kita di sini," gerutu faiz sambil berlalu pergi, raniah hanya menggelengkan kepalanya, karena sejak faiz menemui ibunya, dia jadi mudah kesal akan semua hal.
Lima menit faiz sudah kembali, faiz duduk dan melihat raniah yang sejak tadi tersenyum padanya.
"jangan melihat kakak seperti itu nanti kamu diabetes loh," jelas faiz sambil tertawa kecil, karena pagi tadi raniah mengatakan hal yang sama.
"niah kan cuman lihat kak, gantengnya nggak bakalan kurang kalau di lihatin niah,c raniah sedikit cemberut, dan itu terlihat sangat menggemaskan di mata faiz.
"jangan marah, kakak cuman bercanda kok,"
"permisi, ini pesanannya," salah satu pelayan datang membawa pesanan mereka.
"letakan di sini," kata faiz, menyuruh pelayan itu meletakkan pesanannya.
"saya permisi dulu mas, mba," kata pelayan itu lalu pergi.
"emmm..." hanya itu, faiz sengaja tidak banyak bicara, karena sedikit bicara saja, maka pelayan itu tidak akan pergi dari hadapan mereka, setahu faiz, sebagian wanita selalu berusaha mencari alasan agar bisa dekat dengan faiz, dan faiz tidak suka wanita seperti itu.
"makanlah? makanannya tidak akan habis jika kamu hanya melihatnya," jelas faiz mememberikan jus pada raniah.
"iitsshh...kenapa sejak tadi kakak terlihat kesal begitu, apa karena permintaan orang tua kakak, yang meminta kakak nikah sama niah," raniah tidak tahan lagi, dan langsung pada intinya saja.
"kamu sendiri bagaimana niah, apa kamu setuju jika kita menikah," faiz kembali melempar pertanyaan pada raniah.
__ADS_1