Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 52: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Setelah menempuh perjalan selama 20 menit, akhirnya sampai juga di pusat perbelanjaan.


Mas faiz memarkirkan mobil lebih dulu agar tidak mengganggu pengunjung lain lainnya, saat mobil berhenti mas faiz turun lebih dulu sementara aku masih sibuk dengan sabuk pengamanku, entah kenapa sejak aku menikah dengan mas faiz aku masih belum bisa memasang sabuk pengaman ataupun membukanya.


"sayang ayo turun, kenapa kamu masih betah di dalam mobil."


Tanya mas faiz membuka pintu karena aku tak kunjung keluar.


"sabuknya rusak tidak bisa di buka," jawab ku asal.


"hhhh...sayang itu tidak rusak, hanya saja kamu yang tidak bisa membukanya."


Bukannya langsung membukanya dia malah tertawa.


"sini biar ku bukakan, jangan sampai kita kesorean hanya karena masalah sabuk."


Setelah terbuka barulah aku keluar, sebelum masuk ku benarkan dulu rambut ku, tadi belum sempat merapikannya.


"mas faiz, kamu kemana aja, dari kemarin aku nyariin kamu tau, kamu engga kangen ya sama aku."


"deg?"


Aku terkesiap melihat ada wanita yang bergelayut manja di lengan suamiku, meski mas faiz berusaha melepaskan tangan gadis itu, namun dia kembali lagi menempel seperti kotoran di samping rumah bibi.


"siapa lagi Ondel-Ondel ini, enak sekali dia nempel-nempel sama suami orang" batin ku seraya berjalan menghampirinya.


"ehemm?" aku berdehem membuat gadis itu menoleh kebelakang,


"mas? Siapa dia!" tunjuk gadis itu padaku, mas faiz sudah terlihat gusar mungkin dia hawatir aku akan mengamuk.


"kenalkan saya rania istri pria yang kamu peluk sejak tadi,"


Aku sengaja menekan setiap kata-kata ku agar dia tau tidak seharusnya dia menyentuh milik orang.

__ADS_1


Dia beralih menatap mas faiz, mungkin dia belum percaya,


"mas apa yang di katakan dia itu benar?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca mungkin sebentar lagi akan turun hujan.


"iya? Dia istri saya," jawab mas faiz melepaskan lagi tangan gadis itu lalu menghampiriku dan mengajakku untukku belanja.


"tapi mas kenapa harus perempuan lain, kenapa bukan aku saja yang kamu jadikan istri, bagusan juga aku dari pada dia, aku tau? Perempuan seperti dia tak lebih dari perempuan penggoda yang mendekati pria kaya dan tampan hanya demi mencari keteranan."


"plaakkk? Jangan sekali-kali kamu berbicara kotor tentang istri saya, kau tau betulkan bagaimana saya, saya tidak akan menerima maaf jika kamu berani mengganggu milik saya."


untuk pertama kalinya aku melihat mas faiz semara itu, gadis itu hanya diam saja memegangi pipinya yang memerah,


"mas ayo, tidak perlu dengarkan dia, aku juga tidak terlalu perduli dengan sikap yang dia tunjukan tadi, aku berpikir dia hanya salah satu penggemarmu yang ngefens berat sama kamu."


Dia menatap ku tak suka, sepertinya aku mendapatkan saingan baru lagi,


"maafkan mas ya, mungkin kedepannya kamu akan sering mendapatkan masalah seperti ini, ku pikir hanya renata yang akan menjadi ancaman buat kamu, tapi ternyata aku salah, masih banyak Renata lainnya yang jauh lebih berbahaya."


Ku peluk suamiku agar dia merasa lebih baik, dan aku juga ingin melihat apa lagi yang akan di lakukan gadis yang belum cukup umur itu.


"menjauh dari calon suamiku, kamu sama sekali tidak pantas untuk menjadi nyonya faiz Dirgantara,"


Ck belum kapok juga dia kena mental sama suamiku,


"sepertinya aku harus lebih gencar lagi, apa dia pikir dia yang pantas jadi istri mas faiz, hemm..sepertinya dia kurang tidur hingga dia bermimpi dengan mata terbuka."


"apa lagi yang akan di lakukan si rubah kecil, bisa panjang urusannya jika terus dibiarkan."


"sayang lebih baik kita belanja dari pada kita ribut tanpa ada lawan, mas sangat haus berdiri disini sejak tadi."


"mas belanja sama aku saja ya, akukan pinter kalau soal milih barang." katanya mendahuluiku.


Belum juga aku menjawab lagi-lagi dia nyerocos duluan, benar-benar ulat bulu dah.

__ADS_1


""eh...neng sadar diri dikit napa, itu suami orang loh, jangan main nempel ajah dong, noh kalau mau nempel sama pak sekuriti aja, lagian dia juga masih mudah dan kayanya dia belum punya istri," jawabku asal dan melepas pegangannya pada tangan faiz.


"kamu yang harusnya sadar diri, udah rebut calon suamiku aku " ucapnya lagi tak terima dengan perkataan ku.


"baru juga calon suami? Belum jadi suamikan,! Lah aku yang Jelas-jelas sudah sah di mata hukum dan agama masih nekat kamu peluk-peluk suami saya, apa salah jika saya melarangmu bergelantungan di lengan suami saya."


"ya salah lah, biarpun kamu sudah menikah dengan faiz tetap aku yang berhak atas dirinya, toh aku yang?"


"stop sisil? Kenapa kamu belum mengerti juga, sejak tadi rania sudah menjelaskan, kenapa kamu belum paham juga." sergah mas faiz sudah tersulut emosi.


"oh jadi namanya sisil? Hem..cocok juga dengan karakternya,"


"ayo sayang pergi dari sini, jangan sampai ada yang tertinggal karena sibuk meladeni dia."


Setelah berucap mas faiz merangkulku, meski gadis yang bernama sisil yang baru ku ketahui namanya beberapa menit yang lalu masih terdengar dia meneriakkan nama mas faiz, tapi mas faiz sama sekali tidak menggubrisnya atau sekedar menengoknya.


"mas sebenarnya siapa dia? Sepertinya dia sangat mencintaimu," ucap ku memancing mas faiz, entah kenapa aku jadi ingin tau soal wanita itu dan apa hubungannya dengan mas faiz.


"bukan cinta sayang, lebih tepatnya dia terobsesi dengan apa yang belum dia dapat."


"Maksud mas?" tanyaku masih belum puas dengan jawabannya, bukannya mengerti yang ada aku semakin bingung.


"yah seperti anak kecil yang melihat mainan baru, dia tidak akan berhenti menangis jika belum mendapatkannya, kira-kira seperti itu obsesi sisil."


Aku mangguk-mangguk menyimak penjelasan mas faiz, hingga tak terasa kami sudah dalam pusat perbelanjaan.


"sudah,! Lain kali, jika terjadi hal seperti tadi, jangan terlalu memikirkannya, sebaiknya. Kita belanja lalu segera pulang, kamu juga pasti sudah lelah berdiri sejak tadi dengan sepatu setinggi itu."


Tunjuk nya pada kakiku, memang benar, kakiku rasanya mulai keram, tapi aku harus keliling dulu sebelum melepas sepatu yang ku kenakan.


"baiklah mas kita mulai dari mana,?" tanyaku pada mas faiz sambil melihat sekelilingku.


"apa yang lebih dulu kamu temukan maka beli itu lebih dulu, nanti kita cari lagi apa yang masih kurang," jawabnya tersenyum padaku.

__ADS_1


"emm..bagaimana kita pilih baju dulu, di sana banyak daster yang cantik-cantik, bibi pasti menyukainya." tunjukku pada pakaian ibu-ibu yang tersusun rapi.


__ADS_2