Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 85: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"suda ayah di rumah saja istirahat biar rena saja yang menghadiri rapat itu, apapun hasilnya yang pasti ayah tidak boleh kemana-mana titik?"


Kata renata menekan kata titik?


"tapi sayang ayah kan?"


"tidak ada tapi-tapian. Pokoknya aku tidak mau tau ayah harus istirahat total, jika ayah nekat ke kantor, rena akan bakar kantornya biar ayah sekalian pensiun saja."


renata berdiri menghadap bi darmi yang sejak tadi menyaksikan perdebatan mereka.


"bi aku mau ke kantor karena hari ini ada miting, bibi tolong aku titip ayah ya, tadi aku suda hubungi dokter mungkin bentar lagi nyampe, kalau gitu aku pamit dulu Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam..."jawab pak adi bersamaan bi darmi.


"tuan apa anda butuh sesuatu?" tanya bi darmi barangkali tuannya inging sesuatu.


"tidak bi aku hanya ingin istirahat seperti perintah putriku." jawab pak adi tertawa kecil mengingat omelan putrinya.


"ya suda saya tinggal kebelakang ya tuan, kalau tuan butuh apa-apa panggil saya saja."


"iya bi Terimakasih"


*****************


"pagi mas faiz." sapa ranti, dia dan juga faiz suda bersiap berangkat ke kantor.


"pagi juga, ayo sarapan dulu baru berangkat ke kantor."


"ah iya..kebetulan aku juga sudah lapar." jawab ranti tanpa rasa malu.


"bi tari tolong rapikan kamar yang di gunakan ranti semalam ya."


"baik tuan muda."


Bi tari berlalu ke kamar faiz lebih dulu setelah selesai dia pindah lagi kemar yang di gunakan ranti.


Ketika pintu kamar terbuka waooow...berantakan banget gaess.


"apa yang di lakukan wanita itu di kamar ini. kenapa kamar ini seperti kapal pecaah, ya ampun apa ini? Pembalut bekas pakai iyouuuuu menjijikan."


Sontak bi tari melempar benda itu masuk ke tong sampah kecil yamg tersedia di sudut kamar.

__ADS_1


"bi nanti malam tidak usah masak ya, mungkin saya akan makan di luar karena saya harus lembur malam ini."


Bi tari yang sedang membersihkan kamar bekas ranti terperanjat mendengar suara tuannya yang tiba-tiba datang.


"i-iya tuan." jawab bi tari gugup.


"ada apa bi?"


"ah tidak apa tuan saya hanya sedikit terkejut dengan kedatang tuan." jawab bi tari apa adanya.


"ya suda?" jawab faiz singkat dan berlalu dari kamar itu.


"hufftt...untung saja jantung ku kuat, kalau tidak. Entahlah? Mungkin aku suda koma."


Di kantor Dirgantara para pegawai masing-masing sibuk dengan pekerjaannya kecuali tika yang sejak tadi sibuk berkaca dan memoles bibirnya dengan lipstik.


"ehemm..?" mendengar deheman seseorang tika mendongak ke sumber suara.


"eh pak faiz. Selamat pagi pak?" sapa tika kikuk ketahuan tidak tertib dengan pekerjaannya.


Faiz cuek saja dan berlalu ke ruangannya, sementara ranti juga masuk ke ruangannya yang kemarin suda di sediakan dan bersebelahan dengan ruangan faiz.


"eh ada yang tau nggak itu cewe siapa?" tanya salah satu pegawai berbisik ke sala satu rekannya.


"eh tik kayanya lo dapat saingan baru lagi tuh." timpal santi cekikikan melihat ekspresi tika.


"diem loh resee banget tau nggak?" jawab tika kesal mendengar ocehan sahabatnya.


"ya elaa..bu bu! Sensi amat jadi orang, lagian kenapa sih masih ngarep sama bos kita yang udah punya bini, kenapa bukan akza saja yang kamu deketin, kan gantengnya hampir sama?" timpal santi melebarkan senyumnya.


"uda deh lo diem aja, gue tuh lagi pusing gimana caranya supaya tuh cewe nggak betah kerja di kantor ini."


"cewe siapa yang kalian maksud?" tanya ranti yang tiba-tiba muncul di belakang tika dan juga santi.


"menurut loh siapa lagi ha? Tentu saja orangnya itu lo," sungut tika menunjuk wajah ranti.


"maaf apa kita punya masalah,! Kenapa kamu begitu tidak suka aku bekerja di sini." tanya ranti masih pura-pura baik karena dia tau bagaimana caranya menjatuhkan lawan mainnya.


"halaa... nggak usah sok polos deh lo,! lihat saja kalau istri pak faiz tau kamu deketin suaminya, kamu pasti bakalan di pecat dari perusahaan ini "


ranti memicingkan matanya mencerna omongan tika barusan.

__ADS_1


"apa pak faiz punya istri, tapi jika dia punya kenapa aku tidak pernah melihatnya."


"ya jelas lah kamu tidak pernah melihatnya. Istrinya kan cuman di rumah."


'di rumah? Tapi kemarin hingga tadi pagi aku tidak melihat ada wanita lain selain asisten faiz' batin ranti berpikir keras.


"ya suda kalau begitu saya permisi dulu "


Ranti lebih memilih pergi dari pada harus berdebat dengan mereka, lagi pula ini hari kedua ranti bekerja di kantornya faiz.


Tok tok tok.


"masuk" teriak ranti dalam ruangan hingga pintu terbuka memperlihatkan pria yang sangat menakutkan seperti faiz, ya dia akza asisten faiz. Entah apa yang membawanya hingga akza harus ke ruangan ranti.


"selamat pagi ranti, saya akza asisten pak faiz. Saya kesini hanya ingin meminta berkas yang di titipkan pak faiz kepada anda." jelas akza terlihat dingin.


"eh iya pak ini dia berkasnya."


Tanpa menjawab akza berlalu keluar setelah mendapatkan apa yang dia mau cari.


Semua orang suda berkumpul di ruangan miting termasuk para investor kecuali pak adi.


"maaf pak faiz apa masih bisa kita mulai mitingnya tanpa pak adi saja, kami juga masih harus ketempat lain untuk melakukan miting."


"maaf pak, saya sedang menunggu pak adi karena beliau juga menanamkan dana yang cukup fantastis jadi sayang kalau kita lewatkan begitu saja." jelas faiz masih berusaha mengulur waktu.


Hingga menit berikutnya pintu ruangan terbuka menampilkan wanita cantik dengan balutan kemeja yang sangat pas di tubuhnya.


"renata?" gumam faiz yang terkejut melihat kedatang renata.


"selamat siang semuanya, perkenalkan nama saya renata enjeliska wijaya putri dari pak adi wijaya. Beliau tidak bisa hadir karena kondisi tubuhnya yang sedang tidak sehat, hari ini saya hadir sebagai perwakilan dari ayah saya, semoga bapak sekalian termasuk pak faiz juga pak akza tidak keberatan dengan ke hadiran saya "


"Tidak masalah nona renata, saya sangat berterimakasih karena anda berkenang untuk hadir, silahkan duduk."


Ucap faiz mempersilahkan renata untuk duduk dan berusaha bersikap profesional sebagai pemimpin perusahaan.


Miting berlangsung sekitar setengah jam lamanya, hingga para investor berpamitan satu persatu.


"pak adi sakit apa?" tanya faiz memecah keheningan saat renata sedang merapikan berkasnya.


"ayah hanya demam akibat kelelahan, semalam beliau begadang menyelesaikan proposal penting yang harus di bawa hari ini, dan apa yang ku jelaskan tadi itu semua ide ayah," jelas renata terkesan dingin.

__ADS_1


"semoga beliau cepat sembuh."


"ya Terimakasih kalau begitu saya permisi." pamitnya meninggalkan faiz bersama akza di ruangan miting


__ADS_2