
Sore ini aku sudah bisa pulang dan aku juga sudah siapa-siapa, seperti yang di katakan wira aku harus pulang bersamanya jika tidak pasti aku jadi pengantin dadakan.
"kemana anak itu? Kenapa dia lama sekali!" ucap ku turun dari tempat tidur yang berukuran kecil itu.
"wah? Kak niah sudah lama nunggu ya," tanya seseorang muncul dengan kemeja putih yang terlihat cocok di badannya.
"lumayan? " jawab ku singkat tanpa membalas tatapannya, aku bisa meleleh jika terus menatapnya.
"ayo,! Mumpung masih sore kita makan dulu ya, aku sudah sangat lapar, sejak tadi tidak sempat makan"
Aku tidak menjawab dan hanya mengekor di belakangnya saja.
"kak?"
"iya, ada apa?" jawabku masih tetap di belakangnya, entahlah? berjalan beriringan dengan wira rasanya aku sangat gugup, ingin sekali berjalan dengan menyembunyikan wajah ku.
"nikah yuk?" ajaknya.
Aku berjalan menunduk menabrak wira karena dia juga berhenti tanpa aku aku tau.
"ni..nikah? Nggak salah tuh,! Kamu lagi sakit ya wira, ini pasti karena kamu belum makan makanya ngomongnya ngaco begitu." todong ku tidak habis pikir dengan jalan pikiran wira.
"aku serius kak?" jawabnya lagi membuat ku semakin gugup.
"wir uda deh,? Nggak usah kebanyakan halu,"
Aku masih berusaha kabur dari suasana menciutkan ini, jika ku biarkan aku sendiri yang akan terperangkap.
"ya sudah nanti kita lanjut lagi, ayo kita makan dulu, mungkin jika kak niah sudah kenyang, kak niah bisa berubah pikiran." ucapnya lagi sementara aku hanya melengos pergi lebih dulu.
Di dalam mobil tidak ada yang berbicara, aku dan wira sama-sama diam, biarlah setidaknya aku bisa lebih tenang tanpa harus menjawab pertanyaan wira.
Sampai di depan restoran wira turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuk ku tanpa berbicara sama sekali,
"apa ini? kenapa jadi dia yang diam, harusnya kan aku yang seperti itu? Apakah dia marah karena jawabanku tadi, atau dia malu karena penolakan ku,"
Ku ikuti wira tanpa bertanya, biarlah toh dia juga begitu, mendiami ku seperti anak kecil.
"kak niah mau makan apa?" tanyanya saat suda mendapat tempat duduk.
"apa saja asal jangan makan hati aku tidak mau itu?" jawab ku asal,
Wira hanya tersenyum kecil hingga lesung pipinya terlihat sangat manis.
Ah? mikir apa aku ini.
Tanpa menjawab ku, wira melambaikan tangan kepada salah satu pelayan pria.
__ADS_1
"iya pak mau pesan apa?" tanya pelayan itu menghampiri kami dengan ramah.
"Dua porsi nasih putih dan sup, minumnya air putih saja" jawab wira pada pelayan itu.
"baik pak, mba, di tunggu sebentar ya?" ucap pelayang itu lalu kembali ke asalnya.
"niah?"
"ha? I..iya ada apa?" jawabku gelagapan, karena sejak tadi hanya keheningan yang menemani kami.
"aku serius dengan ucapan aku tadi?" ucap wira dengan tangan terulur lalu menautkan dengan tanganku di atas meja.
Ya tuhan biarkan aku menghilang sebentar saja, entah apa yang di pikirkan mantan adik ipar ku ini.
"i..itu a..anu aku belum bisa menjawab sekarang," jawabku gugup hingga keringat dingin terasa bercucuran di kening ku.
"baiklah aku akan menunggu sampai kamu siap," ucapnya lagi melepas tangan ku karena pelayan tadi sudah datang membawa pesanan kami.
"ini pak, mba, silahkan di nikmati," ucap pelayan itu meletakan pesanan kami di atas meja.
"iya mas Terimakasih," jawab wira meraih piring berisi nasi dan semangkuk sup, satunya lagi di ambil untuk dirinya sendiri.
"iya pak sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu ya pak, mba," pamit pelayan itu
lalu pergi meninggalkan aku dan wira.
"habis makan kita langsung pulang saja biar kamu bisa istirahat,?" ucapnya di sela-sela makannya.
Aku mendongakkan kepalaku menatap ke arahnya.
"tapi habis magrib kita jalan-jalan ya, aku bosan seharian kamu kurung aku di rumah sakit" keluh memasang tampang seimut mungkin.
"tidak niah, kamu masih dalam pemulihan," tidaknya halus lalu meneguk segelas air putih, ish..bahkan dia tidak memanggilku kak niah lagi,
"ingat niah? Kamu sakit karena kandungan kamu yang bermasalah, jadi kamu butuh istirahat yang banyak, aku janji jika kamu benar-benar sudah sehat, kamu bole jalan-jalan kemana saja."
"tapi aku mau jalan-jalan?" rengek ku menarik-narik kemejanya seperti anak kecil.
"niah?" wira mengusap kepalaku sesekali menghembuskan nafas kasar, rasanya kikuk sekali mendapat perlakuan seperti ini.
"kita pulang ya nanti aku akan nemenin kamu sampai kamu tidur," ucapnya lalu berdiri ke arah kasir untuk membayar pesanan kami.
"ayo?" ajaknya mengulurkan tangan lalu aku meraihnya dan bergandengan keluar dari restoran.
"tunggu wir?" ucapku mencegah wira agar berhenti berjalan.
"ada apa?"
__ADS_1
"coba lihat bukankah itu mas faiz,! Sedang apa dia di sini,?"
tanya ku memperhatikan burung gagak itu dengan seorang wanita.
"iya itu memang kak faiz, tapi dia bersama dengan siapa,?"
"mana aku tau, kenapa kamu tidak langsung tanya pada orangnya,," cerocos ku mendelik padanya, wira hanya nyengir ala pepsoden.
"ya kali kamu kaya kak faiz bisa membaca pikiran?"
Deg?
"maksud kamu apa wir?" tanyaku menarik tangannya agar berbalik ke arahku.
"i..itu? Anu,!" aish kenapa mala salting begitu, lagi pula apa maksudnya dari ucapannya tadi.
"yang jelas deh kalau ngomong, jangan anu anu,! apa maksud kamu bilang kalau burung gagak itu bisa membaca pikiran," cecarku mengintimidasi wira yang terlihat salah tingkah.
"sebenarnya kak faiz itu bisa membaca pikiran lawan bicaranya," ucap wira berhasil membuatku menganga sempurna.
"apa? Jadi selama ini mas faiz tau dong apapun yang aku pikirkan saat aku jadi lawan bicaranya?" tanyaku sedikit membulatkan mata ku pada wira.
"ya bisa jadi seperti itu,?" jawabnya sedikit menunduk mensejajarkan tingginya dengan tinggi badan ku yang terbilang sangat pendek.
"tapi wir sepertinya aku mengenal perempuan itu, tapi siapa ya,! Wajahnya juga tidak jelas karena duduk membelakangi kita." ucapku memperhatikan wanita yang sedang berbicara dengan mas faiz.
"kenapa tidak di samperin saja, ?" jawabnya membalikkan ucapan ku tadi.
"kamu mau aku bunuh diri dengan menghampiri burung gagak itu, lagi pula apa pentingnya perempuan itu hingga aku harus menghampirinya." jawabku sedikit ketus lalu kembali melanjutkan langkahku.
"kamu mau makan apa?" tanya mas faiz pada wanita itu masi terdengar olehku karena jarak kami memang tidak terlalu jauh saat aku beranjak keluar.
"apa saja mas, saya juga tidak tau harus pesan apa," jawab wanita itu membuatku kembali menghentikan langkahku
Deg?
"suara itu,! seperti suara mba ranti?" gumam ku berbalik menatap ke arah dua orang yang sedang sibuk dengan dunianya.
"ada apa lagi, katanya tidak perduli kok malah di lihatin lagi," ucap wira tapi tidak ku pedulikan lalu menghampiri dua orang itu yang sedang menganggap dunia milik mereka berdua.
"mba ranti?" panggil ku saat wajah wanita itu sudah terlihat dengan jelas.
Tidak ku sangka akan bertemu dengan mba ranti bersama dengan mantan suamiku seakan semuanya sudah tersusun rapi.
Mba ranti berdiri dari duduknya karena terkejut dengan kedatanganku.
"rania ! Kamu ngapain di sini?" tanyanya dengan wajah sedikit terkejut.
__ADS_1
"kenapa mba? Apa aku mengganggu kencan kalian , tenang saja aku juga tidak berminat dengan sesuatu yang tidak berharga."ucap ku bersidekap tangan di dada, Sementara wira hanya diam menyimak ucapanku dengan kuntilanak ini.