Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 80: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Melihat ku duduk di lantai, wira meninggalkan troli lalu berjalan ke arah ku.


"kamu capek ya, duduk di sana saja, duduk di lantai akan terasa dingin," kata wira lalu mengangkat tubuhku seakan tubuh ku ringan sekali dia bawah.


"ih wira aku tuh bisa jalan," ucap ku tidak terima sambil merontah-rontah seperti sapi yang hendak di sembelih.


"kalau bisa jalan ngapain kamu duduk di lantai, sejak tadi kan kamu bisa langsung duduk di sini, kenapa malah selonjoran di lantai," wira berbicara sambil mendudukkan ku di atas kursi.


"namanya juga capek nggak harus pilih tempatkan?" jawabku dengan wajah yang di tekuk.


"ya sudah kamu tunggu di sini, biar aku yang lanjutin buat belanja, kamu jangan kemana-mana ya nanti malah hilang lagi di tumpukan barang,"


"apaan sih wir,! Emangnya aku tikus sampai hilang di tumpukan barang," kesal ku mendelik pada wira.


"hahahaha...rania..rania? Kamu lucu banget sih kalau lagi marah,"


lagi-lagi aku mendelik sementara wira semakin tertawa hingga kedua bahunya bergetar, dasar aneh, apa dia pikir aku ini mr bean hingga harus menertawakan ku, dasar menyebalkan.


"uda deh, cepetan sana belanja sebelum sendal ku jadi helikopter dan mendarat di kepalamu," ancam ku sementara yang di ancam semakin tertawa, nyebelin banget kan jadi orang.


"iya bu aku akan belanja," ucap wira masih tertawa dan justru berbicara seperti berbicara dengan ibu,


Aku hanya mengelus dada, tak bisa ku pungkiri jika setiap hari aku kesal karena ke lakukan wira bisa-bisa aku kena struk di usia muda.


selesai belanja, wira kembali menemui ku.


"ayo kita makan siang dulu, kamu juga pasti suda lapar kan,"


"belanja apaan sih, kok lama banget, untung aja rambutku nggak sampai putih nungguin kamu," aku berdiri dan meninggalkan wira yang menahan senyum.


Aku memilih restoran yang tak jauh dari supermarket, jadi cukup berjalan kaki saja aku dan wira sudah sampai.


"mba?" panggil wira pada sala satu pelayan wanita.

__ADS_1


"iya mas ! Mau pesan apa?" tanya pelayan itu.


"seperti biasa ya mba, untuk calon istri saya, saya pesan su..?"


"mie ayam saja mba, aku lagi pengen makan itu," potongku cepat sebelum pesanan berubah jadi sup ayam, ih males banget.


"ya suda sebentar ya kami siapkan dulu," ucap pelayan itu undur diri.


"kok mie ayam sih,! itu kan nggak ada gizinya niah," gizi nggak gizi bodoh amat dah, yang penting aku lagi pengen.


"nama juga kepengen, nanti kalau anak aku ileran kamu mau tanggung jawab,"


"ya nggak gitu juga niah, maksud aku it..?"


"udah deh jangan bawel kaya emak-emak, disini tuh aku mau makan dan bukan mau ribut," sungut ku memotong ucapan wira.


Tak lama pelayanpun datang membawa pesanan kami.


"ini mas mba silahkan."


"iya mba makasih yah," jawab ku tulus melempar senyuman terbaikku pada pelayan itu.


"waaah...mie ayam,! nyam-nyam pasti enak nih,! Ayo wir di makan punya kamu, jangan cuman lihatin aku, aku tau kok kalau aku cantik hem hem," seloroh ku memainkan kedua alis ku hingga wira kembali tertawa, dia lebih manis jika seperti itu,! Dari pada kesal kesan juteknya lebih menonjol dari pada gantengnya.


"hahahah....iya iya aku makan,! lihat muka kamu membuatku semakin lapar saja, " jawabnya lagi seolah mengejek ku,! Apa maksudnya coba?.


Dari pada membalas wira, lebih baik ku nikmati mie ayam ku yang asapnya masih mengepul seperti kenalpot motor buntut.


Kami pun makan dalam diam, hingga mie ayam ku tandas dan habis semua hingga sekuah-kuahnya, perut ku rasanya begah sekali mungkin terlalu kenyang atau mungkin terlalu banyak meminum kuah mie ayam, tapi apa hubungannya,! apa karena porsinya lebih kali ya dari ruang di perutku makanya perutku jadi begah dan tidak enak.


Aku bersandar di kursi dan sedikit meluruskan badanku sambil menunggu wira membayar pesanan tadi.


"engh? Wira mana sih, kok lama banget, tuh anak bayar pesanan apa tidur ya," gumam ku masih bersandar di kursi, keringat pun mulai bercucuran sangking tidak enaknya perut ini, ya allah padahal tadi enak banget makan mie ayam kenapa sekarang malah jadi sakit perut sih.

__ADS_1


"ayo pul..! Niah? Kamu kenapa? Muka kamu kok pucet banget, kamu sakit yah,,"


Aku diam saja tidak menjawab pertanyaan wira, perutku benar-benar tidak beres, sekarang bukan begah lagi tapi rasanya malah sakit hingga ke ulu hati.


Tak mendapat reaksi dari ku, wira pun tidak bertanya lagi dan segera mengangkat ku dan membawa ku pergi dari restoran, aku tau pasti tujuannya bukan pulang ke apartemen tapi malah ke rumah sakit, baru ajah kemarin aku pulang sekarang malah balik lagi ke ruangan serba putih itu.


Tiba di rumah sakit wira segara membawaku masuk ke dalam lalu menidurkan ku di atas pembaringan.


berhubung wira dokter jadi dia yang langsung memeriksaku setelah menerima alat dari suster.


kesadaran ku belum hilang sepenuhnya hingga aku dapat melihat raut wajah wira yang hawatir.


"wir mau minum," pintaku,! tenggorokanku ku rasanya kering sekali, mungkin karena ritme pernafasan ku yang cepat membuat tenggorokan ku jadi kering.


"sus tolong bawakan air mineral niah butuh minum," titah wira yang masih sibuk memeriksa dan memasang selang infus di tangan ku, apa aku separah itu? Kenapa pula aku harus di infus, wira ini benar-benar keterlaluan.


"berlebihan?" gumam ku masih dapat di tangkap telinga wira.


"apanya yang berlebihan?" tanyanya memicingkan mata ke arahku.


"ini? Kamu membuat ku jadi terlihat sekarat dengan selang-selang ini,?" ucapku mengangkat tanganku dan menunjuk dengan mataku.


"hem niah maaf soal itu,! Kamu memang butuh infus agar cairan di tubuhmu segera pulih, lagian kamu kok nggak bilang kalau punya riwayat sakit mag, pasti kamu tadi telat makan kan, terus kamu makan yang berlebihan hingga menimbulkan gas beracun dalam perutmu yang membuat perutmu begah dan akhirnya sakit,"


Aku hanya memijit kepala mendengar penjelasan wira yang panjang kali lebar, kebiasaannya kalau menasehati lupa buat di takar dulu biar lebih muda di mengerti.


"sekarang kamu istirahat dulu nanti aku akan kembali lagi," ucap wira hendak keluar namun di urungkan.


"wir bisa minta tolong?" pinta ku harap-harap cemas, takut dia akan menolak di repot kan.


"kamu butuh apa? Hem," tanyanya lembut sambil mengusap kepalaku.


"tolong bawakan perlengkapan sholat, ini sudah hampir jam tiga dan aku belum sholat,"

__ADS_1


"iya nanti aku pinjam punya perawat disini, besok-besok akan ku siapkan yang baru untukmu agar saat kamu berkunjung disini kamu bisa sholat,"


Ku pikir dia akan menolak tapi ternyata dia justru mau menyiapkan yang baru, apa katanya tadi,? berkunjung kesini,! ha? Lebih tepatnya jadi pasien langganan rumah sakit.


__ADS_2