
Di Kediaman Dirgantara. Faiz termenung mengingat kejadian di kafe beberapa hari yang lalu.
Kegundahan mulai menghampiri hatinya seperti rasa yang belum sepenuhnya ikhlas melepas rania.
"ada hubungan apa rania dengan wira, kenapa mereka begitu dekat ya, aarrgggkkk....kenapa aku jadi mikirin dia sih.!" gerutu faiz mengacak-ngacak rambutnya membuat dia semakin terlihat tampan meski dengan tampilan yang acak-acakkan.
Ting tong..
terdengar suara bel membuyarkan lamunan faiz.
"siapa sih yang bertamu malam-malam begini, mana mati lampu lagi." kesal faiz berjalan ke arah pintu sambil membawa lilin.
"siapa?" teriak faiz sebelum membuka pintu, bukan apa-apa! hanya saja sekarang lagi mati lampu, jika itu orang jahat bisa berabe urusannya.
"ini aku ranti mas! Aku takut sendirian di rumah." jawab ranti di balik pintu.
"eh maaf ya kelamaan Bukannya, soalnya mati lampu takut yang datang malah rampok."
"ish?..mana ada rampok ketuk pintu mas!" kata ranti kurang suka dengan omongan faiz.
"hehe...ya udah yuk masuk di luar dingin banget," ajaknya pada ranti lalu menutup pintu lagi dan menguncinya.
"yang lain pada kemana mas,!" tanya ranti mengekor di belakang faiz.
"duduklah aku ambil minum dulu." jawab faiz enggan menjawab pertanyaan ranti.
Selang beberapa menit faiz kembali lagi dengan dua gelas jus di atas nampan.
"ayo silahkan di minum" tawarnya pada ranti yang sajak tadi terus menatapnya.
"hey..ngelamun ya.!" tanya faiz melambaikan tangan di depan wajah ranti.
"eh maaf mas, habis masnya ganteng banget sih, aku kan jadi gagal fokus." selorohnya segera meminum jusnya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"haha..kamu bisa saja, Ngomong-ngomong jam segini kok kamu belum tidur sih,"
"mati lampu mas aku tidak bisa tidur jika terlalu gelap."
"lah? Terus jika lampunya padam sampai pagi apa kamu tetap tidak tidur, besok kamu kerja loh. kalau ngantuk yang ada kamu nggak konsentrasi."
"terus gimana dong mas. Saya selain tidak suka gelap, saya juga takut, tau sendiri kan saya masih baru di sini."
Faiz hanya mangguk-mangguk mengiyakan ucapan ranti.
"kalau kamu mau kamu bisa tidur di sini, saya juga mau istirahat karena besok ada miting dengan investor yang baru saja bergabung, bahkan perusahaan wijaya grup juga ikut andil dalam rapat besok."
mendengar hal itu tentu tidak akan di sia-siakan ranti.
"wah makasih mas, jadi ngerepotin deh."
"ya suda ayo aku antar ke kamar kamu biar saya juga bisa segera istirahat."
"iya mas ayo?" jawab ranti antusias.
******************
__ADS_1
sementara di kediaman pak wijaya. Renata tengah sibuk dengan urusan kantor.
Ya setelah beberapa hari bekerja, Renata suda mahir menekuni pekerjaannya.
Hampir semua orang kantor memuji kecerdasan Renata.
Renata memang wanita yang berprestasi, dengan lulusan s2 tentu tidak perlu di ragukan lagi kemampuannya dalam segala hal.
"ayah ayo pulang, ini suda malam loh" ajak renata membuka pintu ruangan ayahnya.
"iya sayang tunggu sebentar ya ayah rapikan dulu berkasnya." jawab pak adi merapikan berkas-berkas penting yang di butuhkan untuk miting besok.
"ayo" ajak pak adi setelah merapikan pekerjaannya.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya sampai juga di rumah megah yang bernuansa biru ke emasan itu.
"selamat malam tuan non Renata?" sapa bi darmi pada kedua majikannya.
"malam bi, bibi masak apa?" tanya pak adi melepas penatnya dengan duduk di sofa.
"masak semur jengkol tuan sama...?"
"semur jengkol? Wah bibi tau ajak kalau aku lagi laper, ayo yah makan dulu nanti jengkolnya keburu dingin." jawab renata antusias. sementara pak adi hanya geleng-geleng melihat tingkah putrinya.
Renata dengan telaten mengisi piring ayah dengan nasi dan lauk pauk, lalu kemudian mengisi piringnya sendiri.
Baru saja renata ingin menyuap, dia melihat bi darmi makan di dapur.
"bi ngapain makan di situ?" tanya Renata memicingkan matanya, sementara pak adi dan bi darmi saling melempar pandang.
"iya aku tau bibi lagi makan,! maksudku ngapain bibi makan di situ, mejanya kan luas bi kenapa tidak makan bareng aku sama ayah saja." ucap renata masih mengerutkan keningnya.
"emm..Bukannya sejak dulu bibi makannya memang di sini non,?"
lagi-lagi renata tepuk jidat bingung dengan kepolosan pembantunya itu yang suda lanjut usia.
"itu dulu bi waktu aku tidak punya hati, jika kalian selalu berprilaku sungkan padaku lalu, lalu kapan aku bisa memperbaiki diri." keluh renata menatap bi darmi dengan mata berkaca-kaca.
Bi darmi lagi-lagi menatap tuanya meminta izin sebelum mengiyakan permintaan renata.
"ayo bi kemarila, mulai hari ini kita makan Bareng-Bareng ya, supaya anak gadis ku tidak merajuk lagi."
Kekeh pak adi menggoda putri semata wayangnya.
selesai makan malam bi darmi segera merapikan meja makan lalu membersihkan diri untuk melaksanakan sholat isyah.
"bi ayah mana?" tanya renata mengembulkan kepala di balik pintu kamar bi darmi.
"paling di kamar non," jawab bi darmi menghampiri anak majikannya itu yang sudah di anggap seperti putrinya sendiri.
ya karena sedari bayi, bi darmi lah yang mengurusnya hingga renata dewasalah.
"nggak ada bi, ya suda bi aku lihat ke ruang kerjanya dulu"
"iya non" jawab bi darmi kembali menutup pintu, sementara renata berjalan ke ruangan ayahnya.
__ADS_1
Tok...tok..tok.
"masuk?" jawab sang ayah terdengar dari dalam.
"ayah kenapa belum tidur, ini suda hampir jam sebelas lo yah, ayo istirahat dulu." kata renata menghampiri ayahnya.
"sayang ini masih ada yang perlu di benahi, kamu tidur saja dulu nanti ayah juga akan istirahat jika suda selesai." jawab pak adi tetap fokus pada laptopnya.
"ish...ayah susah banget di bilangin, ya suda aku tidur duluan." karena merasa kesal akhirnya renata pergi dengan wajah yang cemberut, pak adi hanya tersenyum menanggapi sikap putrinya yang keras kepala itu seperti ibunya.
Keesokan harinya, renata suda bersiap, lalu keluar dari kamar menuju meja makan.
"pagi bi" sapa renata pada bi darmi.
"pagi juga non!" jawab bi darmi disertai senyuman.
"bi ayah mana? biasanya jam segini ayah suda di meja makan sebelum aku keluar dari kamar." tanya renata menatap bi darmi.
"bibi juga tidak tau non, tidak biasanya tuan kesiangan." seperti renata bi darmi juga ikutan bingung dengan majikannya itu.
"ya suda bi biar ku lihat dulu di kamarnya."
"iya non."
Tok..tok..tok.
"ayah sarapan dulu," ajak renata membuka pintu karena tidak ada sahutan dari dalam.
'aneh tidak biasanya ayah kesiangan, apa ayah sakit ya.' batin renata meletakan punggung tangannya pada dahi pak adi.
"ya ampun biii...bi darmi...?" teriak renata panik karena suhu tubuh pak adi sangat panas.
"iya nooonn.. Ada apaaa?" bi darmi juga tidak kala paniknya mendengar teriakkan renata menggema di seluruh penjuru rumah.
"bi ambilkan kompres aku aku akan telpon dokter," ucap renata panik, sementara bi darmi masih mematung di tempatnya.
"bi darmi ngapain bengong sana cepetan ambil air untuk kompres ayah." gereget renata mendelik pada bi darmi.
"eh iya iya non maaf?" bi darmi segera ke dapur mengambil baskom kecil lalu mengisinya dengan air serta juga membawa handuk kecil warna putih yang biasanya di gunakan untuk mengompres.
"halo dok ke kediaman wijaya sekarang, ayah saya sedang sakit."ucap renata langsung mematikan telpon.
"ini non alat kompresnya"
renata segera meraih baskom berisi air itu lalu menclupkan handuk kemudian memerasnya hingga sisa airnya habis.
Setelah di rasa cukup baru dia letakan di dahi ayahnya .
"ayah mau kemana?" tanya renata melotot pada ayahnya karena berusaha bangun.
"ayah harus siapa-siapa rena, kamu kan tau hari ini ayah ada miting dengan perusahaan Dirgantara" keluh pak adi memijit pelipisnya yang terasa pening sekali.
"ini akibatnya jika ayah memaksakan diri untuk bekerja, seharunya ayah juga ingat! jika ayah itu tidak muda lagi, ngapain pake begadang segala kalau suda sakit begini ayah sendiri kan yang susah."
renata masih saja mengomel sementara bi darmi hanya garuk-garuk kepala melihat pak adi kena omelan putrinya.
__ADS_1