
"bu? Si marmut mana, dia belum bangun ya," tanya wira.
"hus...kamu itu, seenaknya saja ganti nama orang, biarkan saja kakakmu tidur mungkin mereka masih lelah dengan perjalanan kemarin di tambah lagi kakak iparmu lagi berduka, lebih baik tutup mulutmu dengan pisang goreng dan jangan banyak bertanya."
Tukas ibu meletakkan sepiring pisang goreng di depan wira.
"kasian kak niah ya bu? Udah nggak punya orang tua keluarganya juga nggak ada yang perduli," ucap wira terus mengisi mulutnya dengan pisang goreng, macam kambing saja dia mengunyah.
"nanti jika kakakmu bangun jangan kamu berkata seperti itu, nanti dia sedih lagi, ibu takut kondisinya akan memburuk jika terus menangis seperti semalam," ucap ibu ikut duduk di Depan wira.
"tapi aneh ya bu? Selain ranti keluarga yang lain juga tidak ada yang melakukan pengajian untuk bibi rida, padahal itu penting banget bagi yang sudah meninggal." jelas wira.
"hem..apa boleh buat, kebanyakan orang seperti itu, jika sudah merasa mampu pasti akan lupa pada keluarga lainnya yang menurutnya bisa menjadi beban keluarga."
Wira hanya mangguk-mangguk dan memakan pisang goreng yang terkahir.
"bu? Tambah lagi dong, kurang nih pisang gorengnya."
Ibu berbalik menatap piring kosong di depan wira,
"kurang gundulmu? kamu laper apa doyan tuh,! sepiring kamu habiskan sendiri kamu bilang masih kurang?" cecar ibu tetap meletakkan sepiring pisang goreng lagi,
"hehehe...habis enak bu pagi-pagi gini sarapan pisang goreng."
"makanya nikah doooong? Bira ada yang masakin, ibu sudah tua masa iya masih ngurusin kamu, noh lihat kakakmu, kan enak kalau ada temenin tidur, lapar ada yang masakin pulang ada yang nungguin, capek ada yang pi?" belum juga selesai bicara wira main potong pita aja
"stop bu? Nggak usah jelasin sepanjang rel kreta api deh, otakku muter kalau mikirin jodoh," wira merengut dan berlalu ke kamar mandi.
"bener-bener dah tuh anak? Di kasih tau kok malah ngeyel, mbok ya di iyakan biar ibunya seneng bisa keturutan punya menantu dua." gerutu ibu menghela nafas.
"ada apa bu?" ibu terlonjak tidak menyadari aku berdiri di belakangnya.
"oh..wala ndok ndok..mbok ya ngucap salam yo kalau datang, ibukan jadi kaget." ucap ibu, dengan logat khas jawanya.
__ADS_1
"yo maaf atuh bu, niah teh ndak bermaksud bikin ibu jantungan." ucapku mengikut cara bicara ibu, kami hanya tertawa bersama dan sejenak melupakan kesedihanku.
"ibu senang melihat mu tertawa lagi,! Tetap seperti ini ya, ibu hawatir jika kamu terus menangis." ucap ibu mengelus kepalaku dengan kasih sayang.
"maaf" ucapku lirih hampir tidak terdengar.
"oh iya tadi ibu goreng pisang, makanlah untuk mengganjal perutmu, soalnya ibu belum masak, tadi pisangnya dari bude fatma dan langsung ibu goreng." ucap ibu mengalihkan pembicaraan.
Aku juga tidak ingin terus memikirkan bibi, kurass sudah cukup semalam aku menangis, jika bibi di sini, dia pasti akan marah jika melihatku terus menangis.
"apa si bagong belum bangun juga" tanya ibu membuatku bingung.
"bagong siapa bu?" tanyaku belum mengerti.
"hhhhh....suami kamu kak, kan cuman kak faiz yang suka bangun kesiangan." jawab wira keluar dari kamar mandi sambil tertawa keras.
"ish...mana ada mas faiz bangun kesiangan, dia tuh sudah bangun wir, paling lagi mandi." jelasku memakan pisang goreng,
"ha? Nak kemana lagi tuh,?" ucap ibu tak kalah bengeknya seperti kak ros.
"ala akak nie,! Macam tak tau wira saje,." ais..suamiku pula macam ipin malah panggil ibunya kakak, lah kenapa juga aku meniruh mereka.
"hhhhhh...ini keluara Dirgantara? Atau keluarga upin ipin si,!" tawaku membahana di penjuru dapur kecil ini.
"hhh....yo wes kalo pada mau jalan-jalan, ibu tidak jadi masak, ibu mau jalan-jalan yo bareng kamu bertiga," ucap ibu lagi, kini logat berganti seperti orang jawa.
"yo nda bisa to bu? Wong ibu juga sudah tua ko malah mau jalan sama yang mudah?" aku hampir menyemburkan pisang goreng di mulutku mendengar wira bicara seperti orang keselek batu salak.
"jangan begitu lee, orang bilang kalau jalan bertiga itu artinya yang ketiga itu dedemit, lah wong yang punya istri itu abangmu, ya berarti kamu dedemitnya" jelas ibu lagi benar-benar membuat ku sakit perut,
"eh..sayang mau kemana?" tanya mas faiz melihatku berlari ke kamar mandi.
"mules mas dengerin dialog kalian bertiga," jelasku setengah berteriak di kamar mandi.
__ADS_1
"hahahahaha....." tawa mereka bertiga masih Terdengar riuh di meja makan.
"Assalamu'alaikum..." ucap seseorang Terdengar dari luar, sepertinya itu bude fatma, suaranya sangat jelas karena rumah ini memang tidak terlalu besar.
segera ku selesaikan hajatku lalu keluar menemui bude fatma.
Ku lihat ibu sudah depan menemui bude, sementara dua bersaudara itu pergi entah kemana.
"bude bawa apa,?, kok banyak sekali,!" kataku menelisik barang bawaan bude.
"neng niah ini bude habis belanja untuk keperluan nanti sore, tadi pagi-pagi sekali mertua neng ke rumah dan kasih uang belanja, kebetulan hari ini hari pasar, jadi bude langsung ke pasar untuk belanja," jelas bude panjang lebar dan membawa semua belanjaan dan meletakkannya di atas meja.
Ibu hanya tersenyum padaku, tanpa mau menjelaskan apapun, ternyata ibu menepati apa yang di ucapkannya semalam.
"Terimakasih ya bude, bude sudah mau membantu niah,,"
"iya neng sama-sama, bude pulang dulu ya, soalnya di rumah masih berantakan, nanti bude kesini lagi bantuin masak buat nanti sore."
"iya bude," jawabku tersenyum tulus padanya dan meralih menatap ibu.
"Terimakasih ya bu, niah sangat bersyukur, masih ada orang seperti ibu dan bude yang mau mengurus masalah niah."
Ku peluk ibu dan merasakan hangatnya belayan dari tangannya, rasanya aku sangat rindu pada almarhum ibuku,
Ku lepaskan pelukanku karena tidak ingin larut dalam kesedihan.
Ibu hanya tersenyum membuat wajah cantiknya lebih terlihat.
meski wajah sudah penuh dengan keriput dia tetap terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda, wajar saja jika mas faiz dan wira terlihat tampan seperti pangeran di negri dongeng, ibunya saja sudah secantik ini, apa lagi mereka berdua sudah pasti terlahir tampan dan rupawan.
"ayo masuk, kita mulai lebih dulu masak-masaknya, sebentar lagi bu fatma pasti akan ke sini." ajak ibu menggandeng tanganku seperti anak kecil.
Aku menurut saja, dan mengikuti ibu seperti anak ayam yang mengikuti kemana ibunya pergi.
__ADS_1