
Hari semakin siang dan hampir semua selesai karena bude cukup cekatan memasak bahan makanan.
Aku juga turut membantu memasak, sementara ibu ku biarkan untuk istirahat, mas faiz dan wira kebagian bagian depan untuk menggelar tikar untuk orang-orang nanti.
Tepat pukul 1 siang aku meninggalkan dapur dan berlalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan menunaikan sholat dzhuhur, tak butuh banyak waktu hingga aku selesai dengan kewajiban ku.
Aku kembali ke dapur dan melihat bude sedang membersihkan sisa-sisa bekas minyak yang tercecer di dekat kompor.
"bude? Tinggalkan itu, biar niah yang menyelesaikan," ucapku seraya menghampirinya.
Bude menatapku sekilas dan kembali membersihkan kompor, " tanggung nih sedikit lagi juga selesai," katanya tetap sibuk dengan kompor itu.
"hug? Bude, apa bude tidak sholat, bentar lagi lewat loh waktu sholatnya." jawabku mengingatkannya.
Bude tetap tidak bergeming dari tempatnya membuatku sedikit gemas dengan tingkahnya,
"bude ada apa di kompor itu? Kenapa bude betah berlama-lama di situ." tanyaku sedikit konyol, padahal sudah ku tahu bude hanya ingin membersihkan semuanya sebelum dia pulang.
"baik neng bude pulang sholat dulu, tolong teruskan pekerjaan bude ya, siapa tau bude ketiduran setelah sholat dzuhur hehehe..." ucap bude cengengesan, rasanya ingin sekali ku cubit pipinya yang tembem itu.
"nanti bude kesini lagi ya." ucapku sedikit berteriak karena bude sudah keluar di depan rumah.
"iya,?" jawabnya juga setengah berteriak tak kala kerasnya.
karena bude pulang jadi aku membersihkan yang lain seperti piring untuk wadah kue, dan mengepel lantai karena tadi bude belum sempat mengepelnya.
"sayang apa yang kamu lakukan,! Lihat dirimu? Kamu begitu kelelahan,"
Belum juga selesai dengan lantai, suara bariton mas faiz mengejutkanku hingga hampir saja aku terjungkal,
"kalau masuk biasakan mengucapkan salam mas, ini bukan rumah hantu sampai mas masuk seenak dengkul mas," ucapku ketus merasa dongkol,
"Assalamu'alaikum..." ucap wira masuk melewati mas faiz.
__ADS_1
"nah? Lihat tuh adik mas,! Harusnya kaya gitu pas mas masuk tadi?" cecarku membuat mas faiz balik badan dan berjalan keluar.
"mas mau kemana lagi?," dia tidak mengubris panggilan ku dan tetap berjalan keluar lalu membalik badan.
"Assalamu'alaikum sayang..." ucap mas faiz kembali keluar lalu masuk mengucapkan salam
"oh ya ampun?" gumamku menepuk jidat sendiri.
"mas? Mandi sana terus sholat biara otak kamu itu nggak geser dari tempatnya " kataku ketus dan memberikan pel lantai dan juga ember berisi air.
"mas harus lakuin yang mana yang? Mandi atau ngepel lantai?" tanyanya terlihat bingung.
"mas mandi,! Itu ember dan pelnya tolong sekalian dibawa ke kamar mandi yah, soalnya niah mau bangunin ibu,!" jawabku dan di angguki mas faiz.
"bu, bangun, apa ibu sudah sholat? Ini sudah hampir jam dua loh," kataku membangunkan ibu.
Menyadari ada yang mengganggu tidurnya, ibu mengerjabkan mata beberapa kali dan menatapku dengan lekat,
"ibu kenapa menatap niah seperti itu? Ada yang salah ya sama niah," ucapku memeriksa tampilanku, mungkin saja ada yang robek atau ada bau tidak sedap di badanku.
"hehehe...Memangnya siapa lagi bu,! Bukankah niah memang menantu ibu?"
Ku bantu ibu untuk bangun lalu aku duduk di depannya.
"kamu benar sayang,! kamu adalah menantu ibu,! dan akan tetap menjadi menantu ibu?" ucap ibu lagi terlihat hawatir, namun segera kutepis perasaan itu
"jangan hawatirkan niah bu? apapun dan siapapun di luaran sana niah akan tetap menjadi menantu keluarga Dirgantara, Lagipula apa yang membuat ibu terlihat begitu hawatir, apakah ada yang menggangu pikiran ibu."
Ibu hanya diam sepertinya ibu menyembunyikan sesuatu tapi aku tidak tau apa yang dia sembunyikan.
"berjanjilah pada ibu,! Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan putra ibu,? sayang hanya kamu yang ibu percaya, ibu yakin kamu pasti akan menjaga dia untuk ibu,"
"bu? Ada apa,! Kenapa ibu terlihat begitu hawatir, jangan membuat niah takut bu, percaya untuk apa maksud ibu?, dan dari siapa niah harus mnjaga dia untuk ibu?" cecarku pada ibu yang masih tidak bergeming di tempat tidur.
__ADS_1
"ada banyak hal yang tidak bisa ibu prediksi, ji...jika suatu sa...saat ibu ha..harus pulang, i...ibu titip fa..faiz dan wira sama ka..kamu, maafkan ibu ni..niah jika a...anak ibu menyakitimu,"
Aku mengerutkan kening mengapa ibu terlihat sulit untuk bernafas, ibu bahkan berucap dengan tergagap-gagap,
Ku tinggalkan ibu yang terlihat sangat lemah dan berlari keluar menuju kamar mandi, mas faiz sudah selesai mandi karena ada handuk yang melilit di pingganya.
Ku percepat langkahku menuju mas faiz tapi naasnya kakiku justru malah kesandung tikar yang di gelar mas faiz tadi.
"oh tuhan ruba kecil apa kamu tidak bisa berjalan?untung saja ada mas kalau tidak, pasti bibir kamu sudah cium keramik yang sudah pecah itu," tunjuk mas faiz ke lantai memperlihatkan beberapa keramik yang sudah berubah menjadi rumukan.
"mas,! Ibu?" kataku tiba-tiba menangis, aku hanya takut hal buruk akan terjadi, jika soal hati akulah orang yang mudah menangis, apa lagi ini masalah ibu,? Tentu aku tidak dapat menyembunyikan apapun pada mas faiz.
"ada apa sayang Kenapa dengan ibu,?"
"mas lihat sendiri saja ya, niah juga bingung memulai dari mana."
Tak menunggu lama mas faiz sudah berlari kekamar ibu hingga aku terperanjat mendengar jeritan mas faiz.
Ku susul mas faiz di kamar mba ranti, alangkah terkejutnya aku melihat ibu sudah terbujur kaku.
"ibuuu..." jeritku menghambur memeluk tubuh ibu yang terasa sudah sangat dingin,
"ibu,! Ada apa? Kenapa ibu begini, hiks..hiks..mas ibu?"
Tangisku pecah melihat ibu tidak ada respon sama sekali, dan mas faiz terdiam saja tanpa berkata apa-apa namun wajahnya sudah banjir dengan air mata.
"mas? Ada apa sebenarnya, tadi saat ku tinggal ibu masih baik-baik saja," ucapku tergugu dan luru kelantai,
Pedih sekali rasanya, belum juga selesai dengan urusan bibi, kini ibu juga menyusul tanpa menimbang-nimbangnya.
Memang tidak ada yang tau kapan ajal akan menjemput, tapi setidaknya ibu menata hati kami dulu baru ibu berpikir untuk pergi.
Sejak tadi mas faiz tidak berucap apa-apa, bahkan air matanya sudah tidak nampak lagi dan hilang tertiup angin.
__ADS_1
"mas,! katakanlah sesuatu, kenapa mas hanya diam saja, apakah mas menyalahkan aku," batinku dan semakin banjir air mata, tak kalah mas faiz menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.