
"sayang ada banyak hal yang belum bisa aku ceritakan, tapi percayalah,! Suatu saat kamu akan mengerti tanpa aku beritahu," ucap faiz masih masih enggan menatap raniah.
"baiklah mas,! Aku tidak akan memaksa, tapi jika terjadi hal seperti tadi apakah kamu akan percaya padaku?" tanya raniah menyentuh pipi faiz.
"aku akan berusaha untuk percaya dan tidak akan membiarkan hal seperti tadi terjadi lagi,"
raniah tersenyum seraya mengambil baju yang di berikan tante mirna tadi, faiz hanya mengamati raniah dan tidak ingin bertanya apapun.
"mas? Boleh niah pakai baju dulu," meski sudah menikah tapi tetap saja raniah belum terbiasa berpakaian didepan laki-laki sekalipun itu suaminya sendiri.
"tentu saja, pakailah bajumu, aku akan menunggumu di sini," ucap faiz yang berniat menunggu raniah.
"ya kali aku pakai baju di depan kamu mas,? yang ada Nanti aku jadi santapan kamu," batin raniah masih terus berpikir.
"apa dia pikir aku ini singa yang akan makan daging bila Seseorang sengaja menaruhnya di dalam kandangku," batin faiz mengerutkan keningnya.
"emm..mas? Biarkan aku berpakaian tanpa kamu harus mengawasiku, kenapa kamu tidak mandi saja?" elak raniah berniat menghindari faiz, tapi sayang faiz bisa membaca pikirannya hingga dengan mudah faiz mengetahui apa yang akan di lakukan raniah.
"sayang...lupakan tetang mandi,! Saat ini aku hanya ingin menemanimu, kemarilah dekat denganku, aku ingin memeriksa apa dia membuat luka di tubuhmu"
Tanpa menunggu persetujuan raniah, faiz sudah lebih dulu merai pinggang raniah hingga mereka sama-sama terbaring di tempat tidur.
"mas? Kamu ingin melihat luka di tubuhku atau kamu ingin melihat yang lain,
Faiz menatap mata istrinya dan berkata "sayang sepertinya aku berubah pikiran, aku ingin bermain-main dulu denganmu," ucap faiz langsung menutup tubuh mereka dengan selimut, sementara raniah hanya tertawa geli atas tingkah faiz yang sama sekali tidak dia duga.
__ADS_1
Sementara di bawah, semua keluarga berkumpul, hanya raniah dan faiz yang tidak hadir, wira yang baru pulang dari mengantar keluarga yang lain masuk dan menemukan orang-orang yang sedang berwajah masam,
"Assalamu'alaikum.." ucap wira mengucapkan salam masuk ke dalam rumah.
"walaaikumsalam...?" jawab bu ranti dan bu mirna.
"ada apa? Kenapa semuanya berkumpul di sini,! Mana kakak faiz dan kakak ipar, bukankah seharusnya mereka juga ada di sini," ucap wira yang sama sekali tidak menyapa pak ramos yang sejak tadi memperlihat wajahnya sangat jelek di mata wira.
"kakakmu sedang istirahat, sebaiknya jangan mengganggunya, kamu juga kembalilah ke kamarmu, tante mirna juga sebentar lagi akan pulang," jawab ibunya yang terlihat sedang kesal.
"hemm...baiklah,! Aku juga tidak ingin berlama-lama di ruangan ini," kesal wirah karena semua orang terlihat sangat menyebalkan, dan tidak ada yang mau menjelaskan apapun.
"apa kamu tidak ingin ada di sini itu karena aku?" wirah berbalik menatap pria pak ramos dan mencebikkan bibirnya.
"jika sudah tauh kenapa bertanya lagi? Lagipula aku tidak punya urusan denganmu hingga aku harus ada di sini, sebaiknya kamu pulang saja tidak ada gunanya kamu ada di sini,"
"kenapa kamu diam saja ha? Tidak bisakah kamu mengajari anakmu itu dengan baik," bu ranti tersenyum miring mendengar ocehan kakaknya, lalau beralih menatap kakak iparnya.
"kakak ipar? Bukannya aku mengusirmu, tapi ada baiknya jika kamu dan kak ramos pulang saja, saat ini suasananya sangat tidak mendukung untuk kalian tetap di sini, belum lagi apa yang telah kak ramos perbuat dengan menantu, hal itu sangat membuat faiz marah, kembalilah di lain waktu dan tentunya tanpa kak ramos"
"he..?ranti,! Aku ini kakakmu sendiri, Kenapa aku tidak boleh datang ke sini bersama istriku," ucap pak ramos berapi-api.
"kak ramos,! Kamu pikir setelah apa yang kamu perbuat terhadap raniah faiz akan mengijinkanmu tetap datang ke rumah ini," jawab bu ranti tak kalah kesalnya pada pak ramos.
"mas sudah,! Apa yang di katakan adik ipar memang ada benarnya?, lagi pula priamana yang akan senang jika melihat pria yang pernah mencoba menodai istrinya berkeliaran di rumahnya, jika kamu masih ingin hidup maka dengarkan saja saran adik ipar, aku juga belum siap menjadi janda jika kamu sampai mati," ucap bu miran lalu kemudian pergi.
__ADS_1
"kak ramos! Aku heran Kenapa kak mirna begitu setia padamu, jika aku jadi dia, pasti sejak dulu aku sudah lari dengan pria lain daripada hidup dengan pria sepertimu yang sama sekali tidak punya rasa malu,"
Pak ramos tidak menjawab ucapan adiknya dan menyusul istrinya yang sudah menunggunya di dalam mobil.
"Kenapa kamu pergi begitu saja? Aku kan belum selesai memberi mereka pelajaran," bu mirna menatap suaminya dengan tatapan nyalang dan siap akan meledak,
"mas? Apa yang ada di pikiranmu sehingga kamu begitu berani menyentuh raniah, untung saja belum kejadian, jika itu sampai terjadi kami pasti sudah keluar dari rumah ini dalam keadaan tidak bernyawa," ucap bu mirna membuat pak ramos membulatkan mata dengan sempurna.
"kamu sedang mendoakan ku atau kamu sedang menyumpahiku," kesal pak ramos menunjuk tepat di wajah istrinya.
"jaga sikapmu mas? Jangan lupa kamu selamat dari amukan faiz itu karena dia masih menghormatiku sebagai istrimu, bayangkan saja jika aku tidak di sana? Aku bisa menjamin 100% kamu pasti akan di eksekusi oleh faiz,"
"beraninya kamu mengataiku seperti itu," pak ramos berniat menapar istrinya, namun dengan cepat bu mirna menghindar dan kembali menyerang pak ramos dengan tinju di tujukan ke otongnya di bawah sana.
"ahhcc...ahww...apa kamu ingin membunuhku?" ucap pak ramos masih menahan sakitnya.
"jika aku ingin kamu mati,! Pasti sudah kubiarkan faiz melenyapkanmu, nyatanya kamu masih hidupkan?, anggap saja itu hadiah untukmu Karena telah berniat menyentuh wanita lain selain aku,"
"kau?....lihat saja aku pasti memberi mu pelajaran?"
"hhhh.....kamu bahkan tidak bisa menahan sakitmu itu,"
"berhenti menertawakan ku,"
"dasar pria bodoh, bisanya bertindak dengan ceroboh, jika bukan suamiku , pasti sudah ku biarkan faiz melenyapkannya," batin bu mirna merasa malas menatap suaminya.
__ADS_1
"pak cepat sedikit, aku sangat lelah dan butuh istirahat, di sana aku sama sekali tidak bisa istirahat," pak ramos mendengus kesal karena dia juga merasa sangat lelah.
"baik nyonya, tiga puluh menit lagi kita akan tiba di bandara," ucap pak sopir tetap fokus pada jalan di depan.