
Rania berhenti mengunyah melihat dua orang di depan, rasanya ingin sekali dia menjemur dua orang itu bawa terik mata hari agar tidak berbicara sedingin itu.
"mas? Setiap hari kamu seperti ini,!" tanya rania masih sibuk dengan keripik di tangannya.
"seperti bagaimana?"
"ya? seperti orang yang kekurangan uang,! Bicaramu irit sekali, padahal kalau di rumah, mas dan wira yang paling rusuh,"
Faiz menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar penuturan istrinya.
"dan kamu,! Siapa nama kamu?" tanya rania menunjuk ke arah akza.
"akza bu rania?" jawab akza menunduk menghadap ke rania.
Padahal di bagian depan jas akza sudah tertulis namanya tapi rania masih saja bertanya?.
"oh akza! ternyata kamu sudah tau namaku, kamu itu sama saja dengan bosmu itu,? sama-sama irit bicara?"
"akza apa masih ada yang ingin kamu bicarakan,!" tanya faiz ke akza dan mengabaikan ucapan istrinya.
"sudah tidak ada pak, saya hanya ingin memastikan itu saja"
"kalau begitu kamu bisa kembali keruangan kamu, nanti susul aku saja di ruangan miting,"
Akza paham dengan maksud atasannya dan cepat keluar dari ruangannya itu agar tidak mendengar istri bosnya terus berceloteh seperti anak kecil.
"baik pak saya permisi?"
Setelah akza keluar barulah faiz merubah sikap, seperti ada kepribadian ganda dalam diri faiz dia bisa berubah dalam sekejam saja.
"kenapa mas menyuruh akza keluar, diakan baru masuk, setidaknya biarkan dia mengobrol dengan kita,"
Rania masih terus menomboki mulutnya dengan kerupuk, melihat itu dia terlihat seperti kelinci, mulutnya tidak berhenti mengunyah dan berbicara dengan mulut penuh dengan makanan.
"habiskan makananmu? Jangan bicara sambil makan"
"mas mau?" rania menyodorkan kerupuk yang tinggal sedikit itu, untung faiz menolaknya, kalau tidak dia pasti nelangsa.
"tidak? Untukmu saja, sebentar lagi miting akan segera di mulai, kamu Enggak papakan mas tinggal di sini,"
__ADS_1
Rania mengurungkan niatnya untuk memakan kerupuk lagi lalu melihat faiz mengemas berkas-berkas kebutuhan miting nanti.
"mas apa kamu akan lama?" tanya rania terlihat tidak nyaman akan di tinggal faiz,! hemmm padahal cuman di tinggal miting kenapa rania terlihat melow gitu.
"kenapa? Apa kamu takut di sini,!" faiz kembali berjongkok di depan istrinya karena tadi dia sempat berdiri mengambil berkas di meja kerjanya.
"maaf niah belum terbiasa mas di tinggal kamu, selama niah di jakarta, mas selalu bersama niah, rasanya aneh aku di tinggal sendirian,"
Satu kecupan mendarat di kening rania, dia tau istrinya hanya belum terbiasa dengan situasinya.
"sayang inilah kesibukanku, dan kamu harus terbiasa, mas hanya miting dan itupun bagian dari pekerjaan, mas akan segera kembali, kamu baik-baik ya di sini,"
"emm..cepat kembali ya mas?"
"iya?" jawab faiz hampir menutup pintu.
"pagi pak? Sapa tika melihat atasannya melewatinya.
Faiz tidak menjawab seperti biasanya Hanya menganggukkan kepala saja.
"tika?"
"iya pak?" jawab tika antusias mendengar atasannya memanggil namanya.
"baik pak, nanti saya ke ruangan bapak" jawab tika pura-pura biasa saja, padahal dalam hatinya dia sangat kesal dengan istri bosnya sendiri.
Setelah mendapat jawaban, faiz berlalu pergi menuju ruangan miting dimana semua supervisor penting sedang menunggunya.
Miting itu sengaja di satukan agar tidak memakan waktu yang tidak terlalu banyak, berhubungan mereka semua orang penting, jadi mereka harus pandai memainkan waktu dalam bekerja.
Setelah beberapa jam berlalu , tiba saatnya makan siang, tika menuju ruangan faiz dimana ada rania sedang menunggu orang mengantar makanan untuknya.
"tok..tok..tok..?"
Rania yang sedang menopang dagu tersadar ada orang yang mengetuk pintu.
"siapa ya jam segini keruangan mas faiz, apa dia tidak tau jika beruang kutub itu sedang ada miting," rania bergumam sendiri lalau membuka pintu selebar mungkin.
Rania terperanjat melihat wanita sexy yang ada di hadapannya, dengan sepotong rok mini dan baju yang kekurangan bahan membuat rania geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Tika yang sedari tadi berdiri ikut menatap dirinya sendiri seperti apa yang di lakukan rania.
"kenapa melihatku seperti itu, apa kamu baru melihat wanita cantik sepertiku,"
rania menahan tawa hingga kedua pipinya mengembul seperti ikan buntal, "kamu sebut dirimu cantik?" tanya rania mendapat anggukan dari tika.
Tika terus berlenggak-lenggok dan sesekali mengibas-ngibakan rambutnya di depan rania.
Rania tau jika tika hanya sedang memamerkan ke cantiknya dan bermaksud untuk membuat rania kesal hingga memutuskan meninggalkan kantor.
"ada perlu apa kamu ke ruangan suami saya," tanya rania tanpa basa-basi, rania sengaja menekan kata suami, agar si ulat bulu tau bagaimana dia harus bersikap.
"lama-lama jengah juga melihat ulat bulu ini terus meliuk-liuk di depan saya,"
Tika mencebik kesal mengingat akan perintah dari bosnya yang selama ini sudah jadi impiannya, impian menjadi nyonya faiz, tapi tempat itu justru rania yang dapat.
"saya kesini atas perintah pak faiz, saya hanya mau tanya kamu mau makan apa?"
"kamu? Lebih sopan kalau memanggil saya, saya tidak suka dengan bawahan yang tidak tau batasannya, jika suami saya mendengar kamu memanggil saya tanpa sopan santun, dia pasti mendelet nama kamu dari perusahan ini,"
Terlihat jelas jika tika berdecak kesal, tapi secepat kilat dia merubah ekspresinya,
"maaf bu lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi,! Ibu mau makan apa, biar saya belikan,"
Rania duduk dengan bersilang kaki dan kedua tangan di lipat, rasa penasarannya membludak kala mengetahui jika tika menyukai suaminya,
Itu dapat terlihat dari sikap tika yang tidak menyukainya sebagai istri faiz.
Jika bukan karena alasan suka, lalu kenapa harus merasa terganggu dengan rania yang berstatus istri,
Mungkin selain renata dan tika, pasti di kantor ini masih banyak ulat bulu seperti si tika ini.
"baiklah, karena kamu sudah berbaik hati mau membelikan makanan, jadi tolong kamu belikan saya rujak yang tidak terlalu pedas ya, jangan lupa buatkan saya jus jeruk juga karena saya sangat suka dengan itu,"
Rania tau jika wanita seperti tika ini Pasti tidak suka datang ketempat kumuh seperti penjual rujak,
"ingat? jangan menyuruh orang lain untuk melakukan tugasmu, saya tidak suka dengan orang yang tidak bertanggung jawab"
"mau kesel bodoh amat dah? Siapa suruh sok cantik di depan saya, jadi mati gaya kan harus beli rujak"
__ADS_1
"baik bu kalau begitu saya keluar dulu"
Dengan malas tika memutar tubuhnya hingga menghilang di balik pintu, senang sekali rania dapat mengerjai si tika itu,