Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 55: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"kalian ngapain aja si di kamar kok lama banget turunnya." tanya wanita tua itu menatapku bersama anak jailnya


"maaf bu, soalnya tadi ada yang usil terus makanya lama." mas faiz mendelik namun tidak ku pedulikan.


"ini mas nasinya," ku letakan piring berisi nasi dan lauk di depan mas faiz, lalu memberinya segelas air minum.


"kak jadi enggak berangkatnya."


"jadi? Kamu siapa-siapa aja kalau mau ikut" jawabku pada adik iparku.


"ingat ya jangan aneh-aneh di kampung orang, kakak enggak mau kalau sampai dapat masalah."


"ets..itu juga berlaku untuk kakak ya, apa lagi udah punya bini, mesti di kencengin tuh sabuknya biar enggak berani macem-macem."


Aku tak perduli apa yang mereka bicarakan karena aku sudah sangat lapar, Sementara ibu hanya tertawa melihat kelakuan kedua anaknya.


"jangan ngomong sembarangan, memangnya aku jelalatan," ucap mas faiz lalu melempar sapu tangan tepat di wajah adiknya.


Wirah hanya tertawa, tanpa merasa kesal sedikitpun,


"makanlah mas jangan gulatan terus, kamu juga wir? Jangan menjaili kakak mu, kalau dia kumat lagi bisa berabe urusannya."


Aku bisa mendengar dengkusan mas faiz yang seperti kerbau yang siap melakukan penyerangan


"jangan ngomong yang tidak-tidak soal suami nanti kamu dosa lo yank." ucap mas faiz seperti orang paling benar saja.


Aku tidak menjawab dan tetap sibuk melahap makananku, sejak tadi aku sudah lapar, gara-gara suami bengek ku, aku jadi terlambat makan.


"sudahlah iz, makanlah lalu istirahat, bukankah besok kalian akan melakukan perjalanan jauh," ucap ibu menegur anaknya, entah kenapa mas faiz jadi lebih cerewet, padahal saat baru mengenalnya di tidak terlalu banyak bicara.


"ibu duluan ya, ibu juga mau menyiapkan keperluan ibu lalu istirahat." ucap ibu lagi.


"ibu mau ikut juga?" tanya wira dengan mulut di penuhi dengan makanan.


"iya? Memangnya cuman kamu yang butuh jalan-jalan," ucap ibu melenggang pergi.


"beneran ya kak ibu juga mau ikut?" tanya wira padaku masih tidak percaya setelah ibu pergi.

__ADS_1


"sebenarnya aku tidak ingin ibu ikut? Tapi ibu memaksa,! Terpaksa ku iyakan saja dari pada kepikiran terus saat sampai di sana." jelas ku bersandar di kursi, entah kenapa aku takut jika ibu ikut,


Ku pejamkan mata ini, rasanya ada yang memanas di pelupuk mataku, ku hirup udara berkali-kali berharap sesak yang tiba-tiba datang bisa segera menghilang.


"sayang ada apa?" tanya pria yang belum genap sebulan menjadi suamiku.


"aku takut mas? Aku takut mereka tidak akan menyambut mu dengan baik." sesak yang ku tahan sejak tadi akhirnya luruh juga dan memecah pertahanan ku.


"apa kita tidak usah kesana mas? Aku benar-benar hawatir akan segala sesuatu yang dapat terjadi di sana, dan bagaimana dengan kesehatan ibu jika ibu sampai drop lagi." ucapku lagi dengan suara tercekat.


"kenapa kakak merasa hawatir,! Bukankah mereka keluarga kak niah."


Aku hanya tersenyum miris mendengar kata keluarga,


"iya mereka memang keluargaku, tapi itu hanya sebuah nama saja, karena mereka berbeda dari keluarga pada umumnya, mereka tidak seperti kalian yang saling menyayangi satu sama lain,."


"jangan hawatir,! Bukankah ada mas bersamamu, tidak akan ada yang berani menyakitimu selagi kamu dalam bersamaku." jelas mas faiz mencoba menenangkanku.


"lagi pula, bukankah kakak punya aku juga, jika ada yang berani gangguin kakak, bilang saja sama wira, nanti wira kasih biar mereka tidur saja selama kita di sana."


lagi-lagi mereka hanya bercanda, sepertinya mereka tidak terlalu menghawatirkan apa yang ku katakan.


"sudah sayang, kita tetap akan berangkat, kamu harus tunjukan pada mereka, jika kehidupanmu kini jauh lebih baik dari sebelumnya, lagi pulang mungkin saja ibu tidak akan syok, bisa jadi ibu memberi pelajaran pada mereka jika ada yang berani mengusikmu "


Jika sudah begini? akupun tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi.


Ku pejamkan mata ini yang terasa berat, rasanya nyaman sekali berada di pelukan orang yang kita cintai,


"sayang apa kamu mendengarku?" tanya mas faiz masih setia memelukku.


"sepertinya kak niah tidur kak?" ujar wira karena aku tidak merespon sama sekali.


"iya wir,! Kamu benar, Mungkin dia kelelahan sampai tertidur di meja makan."


"bawa saja ke kamar kak, kasian kak miah tidur di sini?" ucap wira lagi dan kembali ke kamarnya.


Tepat jam 4 empat pagi ku dengar adzan berkumandang, ku tinggal kan tempat tidurku, namun langkahku terhenti mengingat sesuatu.

__ADS_1


"bukannya semalam aku di meja makan ya, kok aku nggak ingat pas kembali ke kamar?" batinku masih berdiri di depan pintu kamar mandi tanpa berniat membukanya.


"sayang kamu ngapain di sini."


"astagfirullah...mas ngagetin aja loh.." ucapku mengelus dada.


"lagian kamu ngapain bengong di depan kamar mandi, bukannya masuk malah antri sendirian." ucap mas faiz masuk lebih dulu.


"he? Mau kemana?"tanyaku menarik lengannya hingga dia berbalik lagi memasang wajah malasnya.


"mau mandilah sayaaaang..? Kamu nggak lihat ini kamar mandi" jawabnya menaik turunkan alisnya.


"minggir aku dulu,! Kan aku yang duluan disini," ku tarik mas faiz hingga dia ada di luar sementara aku masuk lalu menutup pintu.


"duluan apanya? Kan tadi kamu cuman berdiri doang?" tidak ku pedulikan teriakan mas faiz, lebih baik aku mandi dulu baru meladeni dia.


setelah beberapa menit, aku keluar dan langsung meraih mukena untuk melaksanakan kan sholat.


"lama banget mandinya?" grutu mas faiz namun tidak ku hiraukan.


"kamu mau ngapain?" tanyanya lagi,


"sudah jelas aku mau sholat masih saja bertanya, ngga tak apa aku hampir telat karena rebutan kamar mandi."


Tapi itu hanya dalam hati, tak mungkinlah aku benar-benar mengatakannya, bisa-bisa panjang lagi urusannya.


"dasar rubah kecil beraninya dalam hati doang" batin mas faiz berkacak pinggak seperti ibu kos yang menagih sewa kontrakan.


"kenapa tidak menjawab,! Apa dia sedang puasa,? Misalnya puasa untuk tidak berbicara gitu?." gumam mas faiz pelan masih terdengar olehku namun tetap tidak aku jawab.


Setelah selesai, ku rapikan mukena dan sejadah ku lalu memasukannya ke dalam koper, tak lupa aku membawa album pernikahanku dengan mas faiz, agar nanti dapat ku tunjukan dengan bibi, jika memang ada pertanyaan dari pihak keluarga.


sebenarnya membawa buku nikah saja sudah cukup, tapi akan lebih baik jika bibi juga bisa melihat hari bahagiaku menjadi seorang istri.


Ku dengar derap langkah kaki, oh Ternyata mas faiz sudah mandi,


"kamu lagi ngapain?" ku letakan album pernikahanku dalam koper lalu menutupnya.

__ADS_1


"bukan apa-apa mas,! Aku hanya memeriksa siapa tau ada yang tertinggal," ucap ku berjalan menghampirinya dan memberikan baju yang akan dia pakai.


"kamu nggak mau pakein?" tanyanya lagi, ku simpan handuk yang dia pakai lalu mengambil baju di tangannya dan memakaikannya.


__ADS_2