Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 69: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"aku pulang?"ucap wira saat liftnya sudah terbuka.


"itsh..gayamu itu macam pak suami saja wir?" ucapku, tanpa melihat ke arah wira.


"kak sudah mandi belum?"


"ya sudah lah, kamu nggak lihat kakak sudah cantik begini," ucapku melirik sekilas padanya.


"ya sudah kakak ganti baju dulu, nih tadi aku sudah beli dress khusus untuk ibu hamil,." ucap wira menyodorkan paper bag kepadaku.


"dalam rangka apa nih aku harus ganti baju." tanyaku masih belum meraih paper bag itu.


"aku mau ngajak kak niah makan di luar biar nggak bosan di apartemen mulu, sana gih ganti bajunya nanti kita kemaleman."


"ya sudah tunggu di sini, awas kalau ngintip" ancam ku padanya.


"iya?"


Selang beberapa menit aku sudah siap dengan drees pemberian wira, tidak terlalu buruk tapi sedikit ke dodoran di badan ku, aku melenggang keluar dari kamar menemui wira,


"ayo berangkat?" ajak ku pada wira.


"wah kak niah cantik banget,"


"biasa aja kali nggak usah melongok gitu." ucap ku lalu menggandeng tangan wira.


Wira hanya tersenyum menampilkan gigi putihnya yang rapi lalu masuk ke dalam lift.


"kamu mau ngajak aku ke mana?" tanyaku saat sudah berada dalam mobil.


"nanti juga kak niah tau?" jawabnya melihat sekilas padaku.


Selang beberapa menit akhirnya sampai juga, aku turun lebih dulu karena tidak sabar melihat wahana yang berputar hingga orang-orang yang menaikinya berteriak histeris.


Ya wira mengajak ku ke pasar malam, sudah lama sekali aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini, bahkan saat bersama dengan si burung gagak aku juga tidak pernah ke tempat seperti ini.


"wir? Ayo cepetan, kamu ngapain aja sih, kok lama banget?" rengek ku menarik tangan wira, hingga wira pasrah saja dan menyeimbangkan langkahku.


"pelan-pelan kak nanti kakak jatuh."


"Biar saja, siapa suruh ngajak aku kesini, ya sudah aku tinggal ya, kamu lelet banget kaya siput" ucap ku lalu berlari arah bianglala.


"ya ampun bu mil ini susah banget si di kasih tau,! Kak? Tunggu." ucap wira ngedumel meneriaki ku.

__ADS_1


Kini aku sudah berdiri di depan wahana kesukaan ku, ya itu bianglala, sejak tadi wira juga belum muncul juga, entahlah? Mungkin dia nyasar atau mungkin dia sedang marah karena ku tinggalkan, biar saja paling juga nanti di cariin kalau suda capek marah.


"mas mas Tunggu,?"


" iya neng ada apa?" tanya penjaga bianglala nya,


"aku mau naik juga boleh kan mas?" tanyaku antusias.


"boleh kok tapi neng yakin mau naik sendiri, biasanya kan cewe kalau mau naik ke bianglala pasti ada yang nemenin ." ucap masnya membuatku merengut.


"biarkan saja mas, dia naik sama saya?"


Aku berpaling ke sumber suara, oh ternyata si burung hantu sudah di sini, entah dia pergi ke mana saja.


"kamu dari mana saja, kok baru nongol tuh batang hidung," ucap ku memindahi wajah bengeknya.


"dari mana dari mana? Ya aku nyariin kak niah lah,! dari tadi tuh aku keliling cari kak niah sampai-sampai aku tanya sana sini nyariin kak niah kaya orang hilang,"


"lah emang aku lagi ngilang, kalau nggak ngilang ngapain juga kamu bodoh nyariin aku." jawab ku sekenanya dan melengos begitu saja.


"gimana nih mba jadi naik nggak? bianglalanya mau di putar lagi." kata masnya menanyai ku.


"jadilah mas?" jawab ku berjalan ke bianglala dan naik duduk di kursi penumpang.


"sama burung hantu itu? Tunjuk ku pada wira yang mendelik seakan ingin menerkam ku, tapi tetap naik dan duduk di samping ku dengan wajah yang di tekuk, hahaha lucu juga kalau sedang kesal.


"kenapa tuh muka asem banget di lihat?" tanyaku pura-pura tidak berdosa, saat wahananya mulai berputar.


lagi-lagi wira mendelik hingga hampir saja aku menyemburkan tawaku.


"uda mas,e sayakan cuman bercanda, lagian percaya amat kalau kamu mirip burung hantu." ucap ku sementara wira hanya mendengkus kesal.


"lagian kamu itu nggak mirip sama burung hantu, tapi?" ucap ku menggantung membuat wira sedikit menautkan alisnya.


"sedikit apa?" tanya wira kini membalik badannya menghadap ke pada ku.


"tapi? Kamu lebih mirip dengan dan cerewet seperti emak-emak komplek." jawab ku tertawa hingga perut ku terasa kaku.


"mana bisa begitu kak? Aku kan laki-laki kok di samain sama ibu-ibu sih," protes wira tidak terima dengan julukan yang ku berikan.


"nah nah? baru saja aku selesai ngomong kamu sudah seperti petasan betawi saja, meledos kemana-mana persis emak emak komplek"


Wira ngambek lagi hingga aku tergelak benar-benar terlihat lucu kalau sedang kesal.

__ADS_1


Malam ini aku benar-benar bahagia, selain jalan-jalan ketempat kesukaan aku, aku juga senang karena ada wira yang menemani meski harus berdebat selama kami jalan-jalan.


"AAaaaaakkk." teriak ku panik karena wahana tiba-tiba berhenti dan sempat memercikan aliran listrik di bagian tengah,


Bukan hanya aku yang histeris, tapi pengunjung yang di lain juga ikut histeris.


"wira bagaimana ini,?" rengek ku pada wira dan merapat memeluknya seerat mungkin,


Bukannya aku tidak punya malu, aku hanya tidak ingin mati ketakutan akibat terlalu gengsi.


"jangan takut kak, nanti juga bener lagi wahananya, hal ini sudah biasa terjadi."


"Enak banget kalau ngomong, nggak tau apa aku sudah gemetar kaya gini" ucap ku ketus.


"lagian kak niah aneh deh, takut ketinggian kok mala naik ke wahana seperti."


"siapa suruh ngajak aku kesini, kalau nggak nyobain permainan di sini lalu apa gunanya kita ke sini," ucap ku kini berbalik marah pada wira dan tetap memeluknya,


"loh kok aku yang di salahin, kan niat aku baik kak?"


"tau ah?"


"hemm..dasar cewe aneh?" gumam wira tapi masih dapat ku dengar.


"barusan kamu bilang apa?"


"eh bukan apa-apa kak,?" bohongnya, padahal tadi aku dengar dengan jelas dia mengatai ku.


"mas cungkring masih lama nggak, aku kebelet nih," teriak ku dari atas seperti tarzan.


"iya neng sabar, bentar lagi juga bener lagi kok?" jawabnya tanpa marah atau protes padaku


"sabar-sabar? orang kebelet kok di suruh sabar gimana sih mas ini."


"ya gimana dong neng, ini juga lagi di benerin, kalau nggak di suruh sabar masa iya harus du suruh loncat kan nggak lucu atuh neng."


"hahahah...emang kamu beneran mau loncat, kalau mati sih sukur, tapi kalau cuman lumpuh atau cacat gimana? emangnya mau di gendong tiap hari sama aku." goda wira mengedipkan sebelah matanya seperti orang kelilipan.


"ogah..? Lagian siapa juga yang mau lompat, aku juga masih waras kali" ucap ku sewot


"chiiiiitttt.." suara gesekan besi saat wahana kembali beroprasi.


"Alhamdulillah...akhirnya bener juga, pak? Saya mau turun cepetan pak?" aku kembali heboh lalu turun tergesa-gesa tepat saat wahana belum benar-benar berhenti

__ADS_1


__ADS_2