
"pagi..."
"huuuaaaamm.....kak faiz ngagetin aja deh, ngapain sih sepagi ini sudah nongol aja di kamar niah." niah sedikit cemberut, dan menatap faiz dengan malas.
"sayaaang...sampai kapan kamu akan tertidur, apa kamu tidak ingin jalan jalan,"
"degg.?, sayang, apa kak faiz tidak salah ngomong," raniah menyentuh kening faiz.
"tidak panas," faiz menyingkirkan tangan raniah, dan memintanya segera bersiap siap.
"Ayo bangunlah, dan tinggalkan tempat tidur ini," faiz sedikit memaksa, dan membantunya duduk di kursi roda, faiz mendorong dan meninggalkan raniah di kamar mandi guna membersihkan dirinya.
" bersihkan dulu dirimu, jika selesai panggil kakak," tanpa menunggu jawaban raniah, faiz langsung berlalu pergi dan menunggu di luar.
Cukup lima belas menit raniah selesai dengan acara mandinya, sebelum faiz keluar, faiz sudah menyiapkan baju ganti untuk raniah, jadi raniah tinggal make up saja setelah keluar dari kamar mandi.
Setelah merasa semuanya sudah selesai, faiz membantu raniah mendorong kursinya, sebelum pergi, faiz membawa raniah untuk bertemu dengan ibunya, karena sejak kemarin faiz belum menemui ibunya.
Jangan hawatir ibunya baik kok, tapi meskipun baik, beliau tetap bisa tegas kepada anak-anaknya jika ada yang membuat masalah.
"kak kita mau kemana, kenapa kita tidak turun kebawa," raniah bertanya setelah dia sadar mereka tidak mengarah ke lantai bawah tapi melainkan ke sebuah kamar.
"niah, kita ketemu ibu dulu yah, seharusnya kita menemuinya sejak kemarin, tapi tidak apa, hari ini pun jadi," faiz berlutut di hadapan raniah dan mejelaskan dia harus menemui ibunya, raniah juga setujuh, karena bagai manapun dia adalah tamu di rumah ini.
"ya suda ayo," faiz kembali berdiri dan mendorong kursi raniah,
"Tok tok tok..." faiz mengetuk pintu sebelum dia masuk,
"siapa?" terdengar suara wanita paruh baya dari dalam kamar.
"ini faiz bu, apa boleh faiz masuk." sebelum masuk penting bagi faiz meminta ijin lebih dulu, jika tidak, dia bisa kenna semprot dari ibunya.
"masuklah, pintunya tidak di kunci." teriak sang ibu dari dalam kamar.
__ADS_1
Faiz masuk sambil mendorong kursi raniah.
" ada apa nak, apa ada sesuatu yang menyulitkanmu," sang ibu memandang ke bawah, melihat raniah yang duduk di kursi roda.
"siapa gadis yang bersamamu itu, kenapa ibu baru melihatnya," jelas sang ibu sambil melihat faiz dan raniah bergantian.
" tidak ada apa apa bu, seharusnya sejak kemarin faiz di sini, faiz terlalu sibuk sampai lupa kalau masih punya ibu." ungkap faiz sambil mencium tangan sang ibu.
"tak apa nak, di sini juga banyak pelayan yang bisa mengurus ibu, gunakan saja waktumu untuk beristirahat, kau pasti lelah bekerja sepanjang waktu,"
"emm...apa kamu tidak ingin memperkenalkan gadis itu," sang ibu melihat raniah yang sejak tadi terdiam menyimak pembicaraan dua orang yang berbeda usia itu.
"ah iya bu, faiz lupa, anakmu ini datang bersama dengan seorang gadis," jelas faiz yang sengaja menggoda raniah.
Faiz berdiri dan mendorong kursi raniah agar lebih dekat lagi pada sang ibu.
"boleh ibu tau siapa nama kamu nak,"
"raniah bu."
" iya bu."
"kalian mau kemana, sepagi ini suda rapih."
"faiz mau ngajak niah jalan jalan dulu, sekalian raniah meregangkan otot kakinya,"
"apa kau yang membuat dia seperti itu," bu ranti melempar pertanyaan yang membuat faiz terdiam.
"da...dari mana ibu tau, bukan?, maksudku iyah, faiz yang mencelakai raniah, tapi faiz sama sekali tidak sengaja bu," faiz berusaha menjelaskan, dan berusaha memberi kode pada raniah untuk mencari pertolongan.
"sengaja atau tidak, tetap saja, kamu suda membuatnya celaka, sekarang lihatlah kau membuat anak orang sampai duduk di kursi roda," jelas bu ranti berapi api,
Hingga menimbulkan rasa sakit pada dadanya.
__ADS_1
"Aaaaa....dadah ibu sakit.." keluh sang ibu menahan sakit.
Bu ranti memiliki riwayat penyakit lemah jantung, sedikit tekanan saja, bisa berakibat fatal.
" ibu kita ke rumah sakit saja ya, biar fauz antar ibu." faiz ingin membawa ibu nya ke rumah sakit, tapi ibunya malah menolak.
"tidak usah, berikan saja obat ibu yang di atas meja, ibu hanya butuh istirahat, dengan begitu sakitnya akan hilang dengan sendirinya."
Faiz segera mengambil obat di atas meja dan memberikannya pada ibunya.
"ini bu obatnya," bu ranti mengambil obat dan segera meminumnya, sesudah meminum obat, bu ranti kembali menata putra sulungnya.
"ingatlah nak, jangan pernah lari dari tanggung jawab mu, jadikanlah kedewasaan mu dengan bertanggung jawab dengan apa yang telah lamu perbuat, karena ibu tidak akan mendukung jika kamu sampai meninggalkan raniah dalam keadaan seperti itu, jika memang harus, nikahi dia, agar kamu lebih mengerti bagaimana caranya bertanggung jawab."
Bu ranti memberi wejangan pada putranya tanpa titik koma, faiz dan raniah saling tukar pandang, mereka berdua bingung dengan perkataan bu ranti yang terakhir.
"bu, ini memang kesalahan faiz, dan faiz pasti akan bertanggung jawab, tapi, jika harus menikah, apa raniah mau menikah dengan anakmu ini," faiz tidak bisa berpikir lagi, selain mengakui apa yang dia rasakan.
"meskipun raniah memaafkan mu, dan menolak menikah denganmu, bukan berarti kamu bisa kabur dari kesalahanmu itu."
"ibuu...niah tidak papa kok, kak faiz juga tidak sengaja menabrak niah,, lagi pulah apa yang ibu hawatir kan, niah masih disini itu karena kak faiz sudah menjaga niah dengan baik, kemarin kak faiz tidak menemui ibu, itu karena raniah juga,"
"sebelum niah ketemu kak faiz, keadaan niah jauh lebih buruk, jangankan punya tempat tinggal, untuk makan saja niah tidak punya,"
"sekarang niah mendapatkan ke duanya, meskipun keadaan niah seperti ini yang di sebabkan oleh kak faiz, niah tetap bersyukur, karena adanya kak faiz niah tetap baik baik saja sampai sekarang,"
"putra ibu sangatlah biak, jadi tolong jangan menyalahkannya terus."
"ibu hanya ingin dia bertanggung jawab, tapi itu bukan berarti ibu marah padanya," raniah mendekat dan menggenggam tangan bu ranti.
"raniah juga tau, marah nya seorang ibu bukan berarti dia tidak sayang pada anak anaknya, terkadang seorang ibu yang marah akan terlihat jahat, tapi itulah cara mereka menyayangi anak-anak nya, itulah cara mereka menjaga anak-anak nya,"
"jika ibu marah karena menginginkan anak ibu bertanggung jawab, cukup nasehati saja, karena di usia ibu yang sudah lanjut usia, tidak biak jika terus berteman dengan emosi,"
__ADS_1
"raniah tidak menasehati ibu, ranaih hanya ingin meminta ibu menjaga kondisi ibu, jangan terlalu menghawatirkan anak-anak mu, mereka pasti akan selalu mengikuti arahan dari."
Keduanya sama-sama terdiam, baik faiz ataupun bu ranti, tidak ada yang bersuara, mereka hanya merenungi kesalahan masing-masing.