Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 44: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"bisa-bisanya dia bicara seperti itu," ucap rania ketus lalu meninggalkan mereka berdua dalam kebingungan.


"kak faiz? Ada apa dengan kak rania?"


"entah? aku tak taupun" jawab faiz lagi-lagi menirukan upin ipin.


"menurut apa rania berpikir jika si merah itu adalah wanita simpanan kamu," tanya faiz pada wira lalu memandangi rania yang sudah hampir sampai di meja makan.


"menurut kak faiz bagaimana,? Pasalnya,! Kak niah juga terlihat kesal saat aku mengabaikan si merah,"


"sudah ayo turun kebawa, niah pasti sudah memasang wajah yang kusut di depan ibu," ucap faiz berjalan lebih dulu di ikuti wira di belakang.


"pagi bu?" faiz dan wira bersamaan.


"pagi sayang duduklah," titah bu ranti pada kedua putranya.


"pagi kakak ipar?"


"pagi sayang?"


Sapa faiz dan wira pada rania,


"lihat dua mahluk allah ini, mereka bersikap seperti tidak terjadi apa-apa,? Bahkan mas faiz juga ikut-ikutan seperti wira, dasar dua bersaudara yang sepaket?" batin rania dan menusuk-nusuk mentimun yang dia kupas.


"sayang apa kamu bisa mengupas mentimunya?" tanya ibu mertuannya karena tidak melihat rania mengupas timun melainkan menusuk timun itu hingga bagian tengahnya bolong.


Faiz dan wira hanya senyam senyum melihat tingkah rania, karena menurutnya, rania memang sedang salah paham dengan si mera,


Setelah selesai faiz berdiri dan menghampiri istrinya duduk di samping ibunya,


"sayang apa kamu jadi ikut kekantor" tanya faiz mengusap kepala rania.


"kamu mau kekantor juga?" tany bu ranti pada menantunya.


"iya bu, niah bolekan bu ikut mas faiz"


"tentu saja sayang memangnya kenapa tidak boleh, kamu juga perlu tau bagaimana pekerjaan suamimu itu,"

__ADS_1


"kak ipar boleh kan wira ikut," tanya wira tiba-tiba.


"nebeng bu? Si merah lagi korslet,!" jawab wira enteng pura-pura tidak perduli dengan tatapan tidak suka dari rania.


"lah? Yang biasanya kamu pakai kemana?" tanya bu ranti, sementara rania semakin tidak mengerti.


"ha? Masudnya apa? Apa wira masih punya yang lain selain si merah?" pikir rania


"lagi di bengkel bu,! Kemarin waktu pulang Enggak sengaja injak paku makanya di benerin dulu,"


Bukannya menjelaskan mereka berdua justru lebih gencar mengerjai rania.


"kenapa si merah Enggak kamu jual aja wir? Terus kamu belikan yang baru, dari pada kamu habis banyak cuman buat benerin mereka berdua ya mending di jual saja," ucap faiz ikut menimpali.


"enak banget si kalian main jual-jual saja, apa seperti ini kalian bersikap,? memangnya si merah itu barang yang rusak hingga kalian harus menjualnya," ucap rania terdengar tudak suka dengan ucapan faiz.


"lah? Emang ia,! Dia memang barang yang rusak? Memangnya kamu pikir apa?" tanya ibu mertua melihat rania menggeleng-geleng tandanya dia tidak tau jika si merah itu adalah mobil wira yang mogok.


"memangnya si merah si siapa bu? Apa dia bukan seorang wanita?" tanya rania lagi membuat ketiga orang itu menertawakannya.


Wira berbicara sambil terus tertawa terpingkal-pingkal, sementara faiz dan bu ranti masih terlihat biasa saja meski sesekali terlihat bahunya terguncang menahan tawa,


"siapa suruh bicara yang tidak jelas, aku kan juga tidak tau jika yang kalian masud hanya sebuah mobil yang mogok,"


"hemm...sudahlah,? yang pasti tidak ada wanita seperti yang kamu pikirkan," ucap faiz menopang dagu di atas meja.


"jadi...? Boleh ya aku ikut,!" tanya wira melihat sepasang suami istri itu bergantian.


"kalau seperti itu boleh lah, kasian juga kalau harus di tinggal," Renata lalu meninggalkan meja makan, sementara faiz dan wira mengekor di belakangnya.


"kami pamit bu?" ucap mereka bertiga seperempat.


"iya hati-hati? Dan tolong jaga menantu ibu jangan sampai lecet dan kenapa-napa," teriak bu ranti masih terdengar hingga mereka tiba di depan pintu.


"iya bu?" teriak faiz di balik pintu lalu pergi menyusul wira dan rania yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"wira? Jika kakak tidak di rumah tolong kamu jaga kesehatan ibu ya,! Besok kakak mau pergi selama 3 hari, jadi kakak titip ibu sama kamu, lagi pula kamu itu dokter, jika ada apa-apa kamu pasti jauh lebih tau,"

__ADS_1


"kak faiz mau kemana? kenapa mendadak sekali perginya, apa ibu sudah tau kakak mau pergi?" tanya wira sedikit maju di samping kakaknya, karena wira duduk di belakang.


"kakak belum sempat bicara pada ibu, karena bari tadi kami berencana untuk pergi,? nanti setelah pulang dari kantor kakak akan bicara padanya,"


Terlihat dari kaca depan wira hanya mangguk-mangguk saja.


"Ngomong-ngomong kalian berencana pergi kemana? Apa kalian berdua akan bulan madu,?"


Faiz melirik rania d lalu tersenyum simpul.


"salah satunya adalah itu, tapi besok bukan itu tujuan kami, besok kakak mau mengantar rania ke rumah bibinya yang ada di kampung, urusan bulan madu akan kami lakukan setelah kami pulang"


"wahh...bole wira ikut kak?" ucap wira tiba-tiba.


"ikut?" Jawab faiz dan rania bersamaan.


"mau ngapain kamu ikut,? bukankah di tadi kakak menyuruhmu menjaga ibu,?"


"biarkan saja wira ikut mas,! siapa tau di sana wira bertemu dengan jodohnya," ujar rania menimpali hingga faiz pun menertawakan wira.


"oho...ho jadi adikku mau cari jodoh juga, kalau ketemu langsung pinang saja dan Enggak usah pacaran, yang ada nanti kamu cuman jagain jodohnya orang," balas faiz tertawa mendengar penuturan rania.


"ish...apalah kakak faiz ini, aku kan cuman mau ikut jalan-jalan dan Bukannya mau cari jodoh,"


Kedua pria dewasa itu terus saja beradu mulut, rania sangat senang melihat kedekatan kakak beradik itu, jika di bandingkan dirinya, rasanya sangat miris jika mengingat sang kakak yang memaksanya pergi dari rumah tanpa sepengetahuan bibinya,


Setahu bibinya rania ke jakarta ingin mencari pekerjaan dan itu atas kemauan rania sendiri.


Tapi siapa yang menduga jika rania memutuskan ke jakarta atas paksaan dari kakak,


Pernah sekali bibi rania bertanya di mana dia akan tinggal di jakarta,


Namun rania hanya akan menjawab dia akan mengontrak rumah dengan alasan akan mencari kerjaan lebih dulu.


Namun naasnya setibanya di terminal dia malah kena jambret, hingga pada akhirnya dia bertemu faiz dan kini sudah menikah.


Sesekali rania ikut tertawa dengan tingkah laku mereka berdua, berada di antara faiz dan wira sangat menyenangkan menurut rania.

__ADS_1


__ADS_2