Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 77: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang tetapi mata ini enggan untuk terbuka, ku raih ponsel di atas nakas dan melihat jam.


"ternyata suda jam 4, pantas saja suara adzan suda mendayu-dayu," gumam ku pelan sambil menyipitkan mata menatap layar hp yang terlihat silau di mata ku.


Ku letakan kembali hp di atas nakas lalu melanjutkan tidur, tepat jam tuju aku terbangun akibat melanjutkan tidur akhirnya aku kesiangan.


"ha? Jam 7, kenapa bisa kesiangan sih, pasti ranti suda menunggu ku," gumam ku loncat dari tempat, menyambar handuk dan gegas ke kamar mandi.


Selesai mandi, ku pilih baju asal-asalan lalu memakainya, tak lupa juga dengan sepatu dan jam tangan, serta dompet sebagai pelengkap.


"sempurna, apapun yang ku pakai pasti terlihat tampan, Bukankah begitu cermin ajaib, kau tentu tidak akan mendustai ku, bahwa apa yang ku lihat itulah kenyataannya,"


Ku letakan sisir lalu sedikit menyemprotkan parfum ke tubuh ku.


"baik ranti tunggu aku, kamu pasti suda menunggu aku kan,"


Aku bergegas turun kebawa lalu menuju di mana mobil ku terparkir.


"semoga saja dia tidak berangkat duluan,," gumam ku masuk dalam mobil lalu menginjak pedal gas dan berhenti di depan kontrakan ranti.


"ranti ayo udah siang ini, maaf tadi aku bangun kesiangan." aku sedikit berteriak karena dia masih depan di kontrakan, mungkin sedang menunggu ku, ah maniss sekali.


"kamu suda sarapan apa belum," tanya ku saat dia suda duduk di sebelah ku, aku sengaja tidak turun membukakan pintu karena aku memang tidak ingin melakukannya.


"belum mas, mungkin nanti saja sekalian makan siang," jawabnya sedikit nyengir menampilkan giginya yang terlihat kuning, mungkin dia jarang sikat gigi makanya giginya kuning seperti kunyit, kalau seperti emas di jual pasti mehong tuh.


"nanti kita pesan saja di kantor, tenang aku yang teraktir, anggap saja sebagai permintaan maaf aku yang hampir membuat nyawa kamu melayang,"


Dia hanya mengangguk pertanda iya, jujur dia tak kalah cantik dari rania, bahkan sekilas ada kemiripan yaitu murah senyum dan sedikit keras kepala.


"mas nanti aku kerja di bagian mana?" tanyanya, mungkin dia gugup untuk mengarahkan dirinya.


"bagiamana kalau kamu di bagian marketing atau pemasaran, kalau aku sih kamu lebih cocok di bagian pemasaran karena kamu murah senyum dan juga banyak bicara, kurasa posisi itu cocok untuk kamu,"

__ADS_1


Ku lihat wajahnya masih menampakkan raut kebingungan, aku hanya menanggapinya dengan senyum, aku tau dia masih belum faham.


"tenang,! Nanti akan ada yang melatih dan mengarahkan kamu, jadi kamu tidak perlu bingung seperti orang yang tak tau jalan pulang," ucap ku sedikit bercanda tapi ada kesan jujur di dalamnya.


"iya mas nanti aku akan mencobanya,"


Setelah seharian aku berkutat di kantor, seharian pula aku tidak bertemu dengan ranti, aku jadi bertanya-tanya apa saja yang dia lakukan seharian ini, aku bahkan lupa untuk mentraktirnya.


karena suda sore, aku menuju tempat dimana ranti ku tempatkan.


"ran ayo pulang ini suda sore lo," ucap ku berdiri di dekatnya.


Tak ku pedulikan tatapan karyawan ku, aku mengerti ada begitu banyak pertanyaan di pikiran mereka.


"iya mas ayo, aku juga suda selesai kok, tapi kita mampir bentar ya mas soalnya aku belum makan siang, laper banget nih," keluhnya terlihat biasa saja.


"kok tidak makan siang apa kamu sesibuk itu hingga lupa dengan dunia tengah kamu," selorohku meski dia jadi bingung apa itu dunia tengah, ah bodo amat emang gue pikirin.


"hehe..maaf mas soalnya tadi terlalu asyik kerja sama mbanya jadi lupa jam makan siang," aku hanya geleng-geleng menanggapinya lalu masuk ke dalam gua, eh dalam lift maksudnya hehehe.


"iya terserah mas saja yang penting sama aja kita bisa makan,"


Ku banting stir ke kiri lalu mundur sedikit lalu banting lagi kekanan terkhir menginjak pedal gas agar maju kedepan.


Lima menit kita suda sampai di tujuan yaitu restoran untuk mengisi perut kami.


"permisi mba mas mau pesan apa," tanya seorang pelayan wanita setelah kami menadapat tempat duduk.


"emm..kamu mau pesan apa," tanyaku bertopang dagu menatap ranti yang kebingungan memilih menu makanan.


"apa saja mas, aku juga bingung mau pesan apa," jawabnya lagi-lagi nyengir membuat ku ingin menyembur saja jika mulut ku penuh dengan air.


"ya suda mba, mas, di tunggu sebentar ya pesannya akan kami siapkan," ucap pelayan itu mencela kami berdua.

__ADS_1


Saat aku dan ranti asyik bertukar cerita, sosok yang tidak di tunggu muncul tiba-tiba seperti kebulan asap.


"mba ranti?" panggilnya lirih membuat ranti menengok kebelakang.


"rania ngapain kamu disini," jawab ranti dengan mimik wajah yang terkejut.


"kenapa mba? Apa aku mengganggu kencan kalian, tenang aku juga tidak berminat dengan sesuatu yang tidak berharga apa lagi hanya masalah dia," ucap rania membuat ku mengepalkan tangan, bisa-bisanya dia membanting harga diriku.


"jaga bicaramu,! Ada urusan apa hingga kamu mengganggu ketenangan kami," tanyaku berang menggebrak meja hingga ranti sedikit terlonjak kaget karena ulah ku.


" hem habis adik kakaknya lagi yang di incar, kamu pinter ya mas cari yang polos-polos, biar bisa di buang dengan mudah ya,," ucapnya lagi benar-benar mencuci otakku lalu menanaknya hingga mendidih.


"bicara apa kamu, aku dengan dia tidak memiliki hubungan apa-apa, lagi pula apa urusannya dengan kamu jika aku berhubungan dengan ranti memangnya kamu siapanya ranti hingga kamu begitu terganggu dengan kebersamaan kami,"


Ucap ku menahan kesal, jika ini di rumah pasti tempat ini suda ku jadikan kapal titanic yang tenggelam.


"oh ya aku bahkan tidak bertanya kalian ada hubungan apa, soal aku dan mba ranti,! Apa kamu tau jika mba ranti yang ku pertanyakan keberadaannya saat kita ke Kampung itu adalah dia, anak yang dengan teganya meninggalkan almarhuma bibi yang bahkan belum genap 30 hari,"


Aku baru ingat jika nama gadis ini menang terdengar tidak asing, hanya saja aku sulit mengingatnya.


"he? Rania sebenarnya apa mau kamu, apa kamu tidak senang jika aku dekat dengan mas faiz, kamu pasti irikan karena tidak bisa dekat dengan pengusaha sukses seperti mas faiz ini,"


lagi-lagi ranti bicara tanpa di saring lebih dulu, aku yakin seribu persen, jika dalam hati rania sedang tertawa terpingkal-pingkal.


"apa? iri katamu,! Bahkan kamu hanya mendapat bekas ku saja lalu buat apa aku iri,"


Aku semakin pusing dengan kedua wanita di depan aku ini, sepertinya aku salah menempatkan diri ku.


Cukup lama kami bertiga berdebat, hingga akhirnya wira menengahi perdebatan kami dengan mengajak rania untuk pulang.


Saat mereka hendak pulang aku bahkan masih sempat mengumpat rania karena suda berani menghina ku di tempat umum seperti ini.


"apa maksudmu bicara seperti itu," tanya ranti lagi sambil mendorong rania ketika hendak pergi, untung pahlawan kesiangan cepat tanggap jadi rania tidak jadi jatuh kelantai melainkan jatuh ke pelukan wira, benar-benar merusak pemandangan ku.

__ADS_1


"kamu pikir saja sendiri, karena dia lebih pantas menjelaskan siapa adik sepupumu ini," ucap rania kini malah aku yang jadi terpojok.


__ADS_2