
Pov faiz.
Sore ini aku suda menerima surat cerai dari pengadilan agama,! Dan saat itu juga aku langsung ke apartemen wira untuk menanyakan rania tinggal di mana.
Tiba di apartemen wira, aku tidak melihat sosok adik ku itu, mungkin dia masih di rumah sakit.
Cukup lama aku menunggu hingga saat lift terbuka aku tertegun beberapa saat melihat dia juga ada di sini.
Ya! seperti dugaan ku kemarin mereka memang tinggal bersama.
Selesai bernegosiasi rania beranjak dari duduknya tapi dengan cepat aku mencekal tangannya, tadinya aku hanya ingin bermain-main saja, namun melihat reaksi rania yang kesakitan aku jadi diam hingga wira membawa rania menuju rumah sakit.
Aku tidak bermaksud berlaku kasar padanya, meski dengan sengaja aku menoreh luka di hatinya, Aku mengikutinya hingga tiba di parkiran dan berniat untuk menemani wira, tapi aku teringat akan ucapan rania, jika setelah dia menanda tangani surat ini, maka aku tidak boleh lagi mengganggu kehidupan dia lagi.
Aku masuk dalam mobil lalu meninggalkan apartemen wira, meski rasa hawatir terus menyelimuti hati ku aku tetap pulang tanpa berniat mengikuti wira.
terserah saja mereka mau berpikiran apa? Yang pasti setelah ini aku juga akan melanjutkan hidupku.
Di tengah pikiran ku yang sedang kacau aku terus mengemudi tanpa memperhatikan jalan didepan hingga tepat di tikungan yang tak jauh dari rumah, aku hampir saja menabrak seorang wanita.
"aaaarrkkk..!" teriak wanita itu histeris, untung saja aku masih sempat menginjak rem, kalau tidak? Bisa ku pastikan, tubuhnya pasti akan terlindas ban mobilku.
"ya tuhan hampir saja dia ketabrak," gumam ku segera keluar dari mobil.
" apa mba tidak apa-apa, apa ada yang sakit,! maafkan saya mba saya kurang fokus saat menyetir, " ucapku setelah aku sudah berada tepat di hadapannya.
"lain kali hati-hati mas,! Untung saja saya nggak apa-apa, coba kalau sampai ketabrak kan saya bisa celaka," kata mba itu yang belum aku tau siapa namanya.
"iya mba sekali lagi saya mohon maaf, lagian mbanya juga ngapain malam-malam begini ada di jalan, kalau ada apa-apa gimana?" ucap ku kini justrus dia terlihat kesal.
"terserah saya mau ada di mana,! memang situ siapa pake nanya-nanya" ucapnya ketus lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Aku juga tidak ingin ambil pusing dan memilih masuk ke mobil setelah dia suda tidak terlihat lagi.
Tapi baru saja ingin menutup pintu mobil seseorang menahan pergerakan ku.
"kamu,! Ngapain lagi kesini," tanya ku pada orang yang tak lain adalah gadis yang tadi dengan nafas yang ngos-ngosan.
"m..mas aku nebeng ya di belakang sana ada preman, jalan cepat mas nanti premannya ke buru datang," ucapnya lagi langsung masuk saja ke mobil ku.
"Bukannya tadi mba marah ya aku kasih tau bahaya kalau di jalan malam-malam begini, kok balik lagi? Dan apa katamu tadi,! Siapa saya pake nanya-nanya? Kenalkan saya faiz Dirgantara, jika tidak suka saya mencampuri urusan mba lalu Ngapain mba minta tolong pada saya " cibir ku tanpa menoleh padanya.
"maa...maaf mas aku salah," jawabnya menunduk meremas kedua jarinya.
"kamu tinggal di mana?" tanyaku, taku enak juga melihat dia seperti kucing yang kena tabok
"kebetulan mas, saya tidak punya tempat tinggal, untuk saat ini saya masih nyari kontrakan," jawabnya, dengan suara pelan hampir tak terdengar.
"oh kebetulan saya punya kontrakan bersebelahan dengan rumah saya, kalau mau saya antar kamu ke sana, sekalian saya juga mau pulang,"
"iya beneran, tuh kontrakannya dan rumah saya tepat di depan kontrakan, jadi kalau ada apa-apa kamu ke rumah saya saja," ucap ku lalu dia turun dan aku mengantarnya ke depan kontrakan.
"wah makasih lo mas, kalau kaya gini mah besok saya suda bisa cari kerjaan biar bisa bayar kontrakan,"
"cari kerja? Gimana kalau kerja di kantor saya, kebetulan kami butuh tambahan karyawan karena akhir-akhir ini kolega dan para investor semakin merapat, tentu semua itu akan lebih membutuhkan lebih banyak tenaga, kalau mau besok kita berangkat bersama"
Dia semakin senang, hingga tangannya reflek merangkul lenganku,!
"makasih atas bantuannya mas,! Besok pagi aku akan siapa-siapa," jawabnya masih bergelayut di lengan ku, ku biarkan saja, mungkin dia hanya terlalu senang hingga tidak menyadari apa yang dia lakukan.
"ya suda aku pulang dulu besok kamu siapa-siapa saja nanti kita berangkat bareng." ucapku lalu pergi ke seberang jalan.
Saat sampai di depan pintu aku baru ingat kalau aku belum memberikan wanita itu kunci kontrakan,
__ADS_1
"siall..kenapa bisa lupa sih, kalau nggak ada kunci bagaimana dia bisa masuk," kumam ku menepuk jidat.
aku segera masuk dan mengambil kunci kontrakan di laci dekat tv lalu kembali lagi pada wanita itu.
"eh mba maaf aku lupa kasih kunci sekalian nama mba juga saya belum tau, mba suda tau nama saya kan," ucapku setelah berdiri di depannya.
"kirain mas bakalan lupa terus dengan kunci kontrakannya, kenalin nama saya ranti, tadinya saya mau masuk, tapi karena belum di kasih kunci jadi saya duduk di sini saja, untung masnya cepat ingat,! Kalau tidak saya bisa tidur di luar sampai pagi,"
Aku hanya garuk-garuk kepala mengingat tadi aku memang lupa dengan kunci itu.
"ya suda mba ranti, saya kembali lagi ke rumah ya,"
"iya mas hati-hati," ucapnya melambaikan tangan hingga dia tidak Terlihat lagi karena terhalang oleh gerbang.
Malam ini aku tidur lebih awal agar besok aku tidak kesiangan, entah kenapa aku begitu antusias ingin berangkat bersama dengan wanita yang baru aku kenal itu,
Ku hempaskan tubuhku di atas kasur setelah melepas sepatu dan kaus kaki, rasa lelah dan kantuk menjadi satu hingga dalam hitungan menit saja aku sudah tertidur tanpa membersihkan diri.
semenjak aku memutuskan berpisah dengan rania, aku jarang sekali membersihkan diri saat pulang dari kantor, mungkin karena suda tidak ada lagi yang mengingatkan jadi aku masa bodoh dengan apa yang ku lakukan.
Dulu saat ada rania, dia akan terus berbicara sepanjang rel kereta api jika tidak di turuti apa yang dia katakan, seperti saat dia menyuruhku untuk sholat,! Di akan berkata.
"mas ayo sholat berjamaah, rezeki mu tidak akan berkurang jika kamu sholat, justru rezeki mu akan terus mengalir jika kamu tidak meninggalkan ke wajiban mu sebagai hamba allah,"
Dan ketika dia berbicara seperti itu, aku cukup mengatakan,
"iya nanti aku sholat, iya nanti aku nyusul, iya kamu duluan saja,"
Dan jika aku menjawab seperti itu, maka bantal akan jadi pesawat terbang dan mendarat di kepalaku.
Tapi sekarang tidak ada lagi kecerewetan rania, tidak ada lagi yang berebut kamar mandi denganku, teringat itu semua membuat ku malas melakukan apapun yang dapat mengingatkan aku dengan rania, termasuk untuk bersih-bersih suda tidak aku lakukan
__ADS_1