
"mas?,apa masih jauh,!"
"kenapa? Kamu tidak betah di belakang situ?"tanya faiz berbalik hingga jarak wajah mereka begitu dekat,
"i..itu,! Anu?"
"hem..sudahlah? Mas hanya ingin membeli ponsel untuk kamu, jadi tidak perlu banyak bertanya," terang faiz membuat rania hanya menyembunyikan wajahnya di bahu faiz.
"apa mas tidak tau jika aku sangat malu di gendong seperti anak kecil di tengah banyaknya orang, lihat? mas faiz bahkan kelihatan biasa saja, apakah dia berwajah tembok hingga tidak merasa risih sama sekali dengan tatapan orang-orang,"
Faiz hanya tersenyum mendengar pikiran rania, bahkan saat rania mengatainya bermuka tembok dia sama sekali tidak marah,
"bisa-bisanya istriku mengatakan aku bermuka tembok, untung saja istriku,! Kalau wira atau orang lain berbicara seperti itu, pasti sejak tadi sudah ku makan?," batin faiz senyum-senyum sendiri.
"turun sebentar ya, mas mau lihat mana yang cocok untukmu,"
"emm...?"
"mas? berikan saya ponsel yang kualitasnya bagus yang cocok untuk istri saya"
"ya allah Terimakasih banyak atas jodoh yang engkau hadirkan,! meski penampilan ku seperti ini, mas faiz sama sekali tidak merasa malu mengakuiku sebagai istrinya,"
Rania menatap faiz dengan lekat, seakan dia baru pertama kali melihat faiz, faiz yang sadar dengan sikap rania langsung meraih pinggang ramping itu dan memeluknya.
"apa yang kamu lihat? Apa kamu merindukanku hem," bisik faiz tepat di telinga rania membuat bulu kuduknya merinding, bahkan pipinya pum terlihat merona seperti tomat yang terlalu matang.
"mas? Enggak usah usil deh,! Apa yang salah jika aku menatapmu, lagipula,! dari pada kamu di lihatin cewe lain mendingan juga aku yang sudah halal untukmu," ucap rania pura-pura tidak terpengaruh dengan situasi tadi.
"ai..kenapa ngomongnya jadi kemana-mana?" tanya faiz belum puas membuat rania kesal.
"mas?"
"baiklah,!"
"Mas tolong cepat sedikit, istri saya sudah lelah kami harus pulang sebelum mata harinya menghilang," ucap faiz lagi.
"bugk?"
"ada apa? Kenapa menghakimiku,!"
Ucap faiz pura-pura terkejut karena rania baru saja memukul bahunya.
"tidak apa-apa? Tanganku hanya gatal ingin memukul seseorang?" ucap rania terlihat santai namun faiz tau jika bidadarinya sedang marah.
Setelah membayar, ponsel di berikan untuk rania lalu pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"sudah sekarang kita pulang, ayo naik lagi?"
"Enggak usah niah juga sudah Enggak capek kok,"
"tapi mas memaksa?"
Rania memutar bola matanya dengan malas, melihat faiz enggan untuk berdiri di hadapannya.
Namu sedetik kemudian rania tersenyum sinis seakan merencanakan sesuatu.
"Kenapa perasaanku jadi Enggak enak ya, apa rania merencanakan sesuatu? senyuman itu terlihat sangat mengerikan," batin faiz menahan bobot tubuh rania yang tidak terlalu berat untuknya.
"sayang apa kamu memikirkan sesuatu?" tanya faiz masih mengingat ekspresi rania tadi.
"tidak? Memangnya aku harus memikirkan apa?" ucap rania balik bertanya.
"bukan apa-apa?" jawab faiz lagi lalu menurunkan rania Karena mereka sudah sampai di parkiran.
Sesampainya di rumah, faiz memarkirkan mobilnya lalu turun membawa semua belanjaan rania ke kamar.
Sesampainya faiz di kamar, faiz baru sadar jika rania tidak ada di belakangnya.
"kemana anak itu? Apa dia masih di luar,?"
"Kenapa dia masih di dalam mobil, apa dia tertidur?" ucap faiz berjalan menghampiri rania.
"sayang Kenapa kamu masih di sini? tanya faiz membuka pintu mobil untuk rania.
Rania mengangkat tangannya ke udara dan memberi isyarat pada faiz agar berjongkok.
"apa?" tanya faiz mengerutkan keningnya.
"jongkok?"
"buat apa?" tanya faiz semakin bingung.
"sudah jongkok aja,! Ucap rania lagi tanpa ada ekspresi.
"ya allah apa lagi yang ada di pikiran istriku ini," batin faiz menurut saja apa yang di minta rania.
"sudah,! sekarang apa lagi?" tanya faiz menunggu perintah selanjut.
Dalam hitunga ketiga rania meloncat kepunggung faiz hingga faiz tersungkur kedepan dengan posisi seperti kuda-kudaan.
"astaghfirullah...raniaaaaaa?" teriak faiz dengan tingkah rania membuat dia kalang kabut di buatnya.
__ADS_1
"hhhhh...mas ayo berdiri,! Kenapa malah jadi Kuda-kudaan begini," ucap rania tertawa seakan di puas mengerjai faiz.
"sayang apaan si nih, Kenapa Enggak ngomong kalau mau di gendong," faiz berbicar sementara rania masih di punggunya seeprti anak kecil yang sedang main Kuda-kudaan dengan ayahnya.
"lah emangnya tadi niah Enggak kasih isyarat, tadi niah kan juga suruh mas jongkok, masnya saja yang Enggak ngerti?" ucap rania masih tertawa terbahak-bahak.
"tapikan niah inikan sudah di rumah kenapa masih harus di gendong?"
"bukankah kekamar niah harus jalan kaki,? tadi di mall mas faiz maksa mau gendong niah, sekarang niah mau di gendong lagi karena mas yang memaksa"
"hemmm...baiklah,!"
"hadeee....ini namanya senjata makan tuan,! Sepertinya aku memang salah bicara, dan istriku yang polos ini salah mengartikan ucapanku tadi?" batin faiz berusaha berdiri karena tadi sempat tersungkur akibat rania melompat ke punggungnya.
"aduuuuuhhh....punggungku?"
"ada apa dengan punggungmu mas?" tanya rania saat mereka sudah sampai di kamar.
"kayanya butuh di pijet deh? Tolong pijetin ya," ucap faiz melihat rania menoleh padanya.
"iya nanti nia pijitin," jawab rania meninggalkan faiz ke kamar mandi.
"beneran ya?" teriak faiz takut rania hanya mengibulinya saja.
"iya suamiku sayang, nanti aku pijet," rania berteriak karena posisnya sedang di kamar mandi.
"syukurlah niah mau mijitin, ku pikir dia akan menolak,?" batin faiz merebahkan tubuhnya di sofa.
Setelah membersihkan dirinya, rania keluar dengan wajah yang lebih segar dari yang tadi, berada selama setenga hari di dalam mall membiat tubuh terasa lengket dan gatal padahal cuman belanja tapi rasanya seperti habis ke sawah.
"mas? Katanya mau di pijitin, kok malah tidur si,"
Faiz menggeliat seperti ke pong-pong ulat bulu, namun Setelah itu dia tertidur lagi.
rania mengambil selimut dan menutupi tubuh faiz yang tertidur di sofa.
"hemm..sepertinya mas faiz terlalu lelah, mungkin terlalu jahat karena sudah mengerjainya,"
"maafin aku ya mas?" ucap rania lalu mengecup kening faiz dan ikut berbaring di samping faiz meskipun sofa itu sempit untuk dua orang.
Merasa terganggu dengan tempatnya, faiz terbangun mendapati istri sudah tertidur di sampingnya.
"lah? Katanya mau mijitin aku, kok malah ikutan tidur?, hemm...sudahlah mungkin istriku juga lelah dan butuh istirahat,"
Setelah terbangun faiz kembali tertidur sambil memeluk rania dari belakang, takut rania terjatuh, jadi harus dia peluk, karena pengalaman kemarin cukup mengingatkan faiz jika rania. Suka rusuh jika sedang tertidur.
__ADS_1