
"Kak faiz ini resep obatnya kau bisa menebusnya di depan, tugasku sudah selesai, aku tinggal dulu ya soalnya masih banyak pasien yang harus ku tangani."
"Emm.. Iya Terimakasih maaf suda merepotkan," kata faiz.
"Tidak masalah kak, ini sudah tugasku, oh iya untukmu, emmm...siapa namamu?."
"Raniah dok!"
"ok niah, untuk saat ini kamu jangan banyak berjalan dan gunakanlah kursi roda, di pagi hari jangan lupa melakukan peregangan otot agar kakimu cepat sembuh."
Tutur wira menjelaskan.
"Dok apa kakiku separah itu sehingga harus pakai kursi roda, orang sepertiku yang hidup hanya seorang diri bagai mana aku mengurus diriku sendiri dengan kursi roda itu?"
Wira tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi, sebenarnya wira juga kasihan, tapi wira juga harus bertanggung jawab dengan tugasnya sebagai Dokter.
"niah kenapa kamu harus hidup Seorang diri bukankah ada dia yang bisa nemenin kamu!"
"Dia? Maksud dokter siapa?"
"Kak Faiz?"
"Hahaha...mana mungkin bang faiz mau nemenin aku selama aku sakit, lagian kami juga baru bertemu jadi nggak mungkinlah aku merepotkan dia, bang faiz udah banyak bantuin aku dan aku nggak Mau merepotkan dia lagi."
"Niah kalau bukan kak faiz yang jagain kamu lalu siapa lagi, lagian kamu dekatnya sama kak faiz bukan aku, jadi yang bertanggung jawab itu kak faiz, dan kamu nggak perlu hawatir kak faiz itu orang nya baik kok."
"Dari mana dokter tau?"
"Karena dia itu kakak aku jadi aku sangat mengenalnya dengan baik, oh iya bukan kah tadi kak faiz bilang kalau kak faiz yang nabrak kamu?"
"Iya..!"
"Berarti fiks..kak faiz harus bertanggung jawab sama kamu."
"Bang faiz sudah banyak membantuku, mulai dari dia bawa aku ke rumah sakit, terus aku di beri tempat tinggal dan tadi dia juga udah janji kalau setelah selesai periksa dia mau cari makan buat aku soalnya aku udah lapar banget, gara-gara pagi tadi aku ke jambret aku jadi nggak bisa makan karena barang beserta ponsel dan uangku di ambil oleh preman itu, tapi karena aku bertemu bang faiz meskipun awalnya aku celaka tapi allah menggantikan dengan rezeki melalui bang faiz, jika aku mengharapkan sesuatu yang lebih lagi, itu sama saja aku memanfaatkan kebaikan bang faiz."
Wira tertegun dengan sikap niah, yang tidak ingin mengambil keuntungan dari kebaikan orang lain.
"ternyata masih ada gadis yang begitu polos seperti niah, ya allah apa masih satu wanita seperti niah, kalau ada tolong pertemukan aku ya allah, karena kak faiz lah yang lebih dulu bertemu dengan wanita yang ada di hadapanku ini, jadi kak faiz lah yang berhak mendapatkannya, aku hanya meminta salah satu wanita seperti niah bolehkan ya alla, ya tentu saja boleh amin," batin wira berandai-andai.
Di tenga percakapan niah dan dokter wira, faiz mendengar semua pembicaraan mereka termasuk apa yang di pikirkan wira, usai mendengarkan pembicaraan mereka faiz memutuskan untuk masuk.
"Ehemmm...apa aku boleh masuk."
__ADS_1
Wira terkejut karena kedatangan faiz, masalahnya wira tau jika kakaknya itu bisa membaca pikiran orang lain, yang artinya faiz mendengar semua yang di katakan wira dalam hatinya, habislah kau wira hahaha....
"Ha...kak faiz sejak kapan kakak di situ?"
"Sejak tadi!"
"Apa?"
"Apanya?"
"Bagai mana? Obatnya sudah dapat."
"Suda nih.!"
Faiz mengangkat kantong plastik berisikan obat-obatan niah, dia berpura-pura tidak mendengar apa-apa dan langsung masuk meminta niah meminum obatnya lebih dulu.
"Niah minum obatnya dulu setelah ini kita cari makan."
"Emmm...Kak!"
"Ada apa?"
"Kau suda di sini kalau begitu aku tinggal yah."
"Tunggu dulu wirr.."
"Apa lagi kak!"
"Aku akan bawa niah pulang ke kontrakan, dan untuk sementara dia akan tinggal di sana kalau perlu selamanya niah tinggal di sana, tapi aku butuh bantuan darimu."
"Bantuan apa?"
"Menjauhkan renata dari niah."
"Ya ampun kakak kamu boleh meminta bantuan apapun tapi jangan ada kaitannya dengan wanita gila itu."
"Wira kau tau renata itu seperti apa? Jika dia tau tentang niah, hal-hal buruk pasti terjadi karena renata itu wanita yang sangat nekad, dia akan menyingkirkan semua yang menurutnya bisa menjadi ancaman."
"Bagai mana jika dia sampai tau?"
"Maka niah pasti akan celaka dan aku tidak ingin itu terjadi, kamu seorang pria tentu saja kamu bisa menghadapi wanita liar seperti renata, kalau perlu beri obat penenang agar dia tidak terus-terusan membuat masalah."
"Oh ya ampun kenapa kakak selalu membuatku dalam masalah, apa belum cukup renata membuat semua pasienku berlarian karena ketakutan, sekarang kakak malah memberiku tugas untuk menjauhkan renata dari niah, lagi pula menjauhkan renata itu tidak akan mungkin semudah itu."
__ADS_1
"Apanya yang tidak mungkin? Renata akan datang jika dia tau siapa niah dan dengan siapa niah datang kesini, jika renata tidak tau apa-apa, maka semuanya pasti baik-baik saja, maka dari itu jangan sampai renata tau apa pun tentang niah."
Perdebatan faiz dan wira membuat niah sedikit bingung dan bertanya-tanya siapa gadis yang bernama renata itu dan kenapa renata tidak boleh mengetahui keberadaan niah.
"Emm..maaf bang faiz renata itu siapa?, apa dia kekasih bang faiz!"
"Eh...bukan? Dia itu bukan siapa-siapa, hanya saja sebaiknya untuk saat ini lebih baik kau jauhi wanita yang bernama renata itu ok."
"Emm...aku akan menjauhinya, tapi?"
"Tapi apa?"
"Apa boleh aku panggil bang faiz sayang," batin niah
Faiz membulat matanya mendengar ucapan niah, meskipun hanya dalam hati niah mengatakan, faiz tetap akan tau.
"Barusan kamu bilang apa?"
"Ehh...itu anu niah cuman mau bilang, boleh nggak niah panggil kalian kakak."
"Kok aneh ya aku kan belum ngomong tapi kok bang faiz seperti mendengar aku mengatakan sesuatu apa ini hanya perasaanku saja kali ya, mana ada sih orang yang bisa baca pikiran orang lain, mungkin ini hanya perasaanku saja," batin niah.
"Boleh kok, asalkan jangan panggil Wira sayang, kalau aku boleh kok kamu panggil Sayang emmm...."
"Apaan sih kak,?"
"Hahaha...ya suda kalau begitu ayo kita cari makan dulu aku juga sudah lapar, emm...wira apa kamu mau ikut."
"enggak?"
"Kenapa nggak mau?"
"Malas jadi obat nyamuk."
"Suster di sini banyak yang cantik kenapa kamu tidak mengajak salah satunya buat nemenin kamu."
"Ya kali aku kaya gitu, yang ada nanti jabatan ku hilang gara-gara meladeni cewe seperti mereka."
"Jadi beneran nggak mau ikut?"
"nggak kak faiz aku masih banyak pasien kasihan kalau di tinggal."
"Ok..kalau gitu kakak duluan yah."
__ADS_1
"Iya..!"