Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 42: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Tiba di rumah, renata tidak banyak melakukan apa-apa, seperti biasa dia hanya berdiam diri kamar, ya setidaknya dia masih mau makan, dan tidak menangis lagi.


kejadian itu memberi pukulan keras pada dirinya bahkan ayahnya bisa melihat perubahan itu,


"nak makan dulu lalu minum obat?"


renata masih meringkuk di sudut tempat tidur dan tidak perduli dengan kedatangan ayahnya.


Pak adi mendekat mengusap kepala putrinya dengan kasih sayang.


"nak? Ayo makan dulu ayah akan menemanimu,"


"aku tidak lapar?" ketus rania meskipun sudah tidak berteriak lagi.


"tapi ayah lapar rena, apa kamu tidak ingin makan untuk ayah,"


renata mendelik menatap ayahnya lalu membuang nafasnya dengan kasar.


"baiklah aku akan makan, berikan piringnya, seharusnya aku yang banyak meminta, tapi Kenapa mala ayah yang banyak permintaan," ucap Renata sambil membolak-balikkan makanannya.


Pak tidak marah ataupun tersinggung, dia hanya tersenyum, meski putrinya tidak bersikap baik padanya, setidaknya dia mau makan atas permintaannya,


Ya itulah salah satu perubahan renata, jika dulu Renata akan berteriak jika ayahnya banyak memintanya melakukan ini dan itu lalu kemudian pergi entah kemana?.


Tapi sekarang? meskipun masih kasar setidaknya dia masih di tempatnya dan melakukan apa yang di pintah ayahnya.


"kenapa ayah tidak kekantor hari ini?" tanya Renata di sela-sela makannya, sepertinya dia sangat lapar hingga dia makan seperti kelinci.


"hehehe...ayah hanya ingin menemanimu saja, lagipula kerjaan di kantor tidak akan ada habisnya, ayah juga butuh libur untuk meluruskan pinggang ayah yang sudah tua ini," ucap pak ada dengan tawa khasnya,


"apa ayah sangat sibuk di kantor, maksudku? apa ayah butuh renata membantu ayah," ucap Renata melihat keterkejutan ayahnya,


pasalnya dulu jika di tawari pekerjaan di kantor renata pasti selalu menolak dengan alasan tidak tertarik, tapi sekarang dia justru menawarkan dirinya sendiri.


"bukan membantu nak, lebih tepatnya kamu menggantikan posisi ayah,"

__ADS_1


"tidak yah, rena tidak bisa? Saat ini rena Hanya butu kesibukan agar tidak terus-terusan mengurung diri di kamar," ucap renata meletakan piringnya dan meminum air segelas.


"posisi apa yang kamu inginkan di kantor,?" tanya pak adi.


"apa saja yah, jadi tukang bersih-bersih pun tidak maslah? Rena hanya butuh kesibukan agar tidak terlalu stress berada di rumah,"


"hhh...ada-ada saja kamu nak, jika ingin bersih-bersih kenapa tidak melakukan di rumah saja, ayah akan memberimu posisi di bagian keuangan, karena beberapa hari yang lalu orang yang bertugas di bagian itu ingin mengundurkan diri, katanya si mau buka usaha sendiri, mumpung kamu mau, jadi ayah akan menempatkan mu di bagian keuangan, bagaimana?"


"kapa rena bisa kerja?"tanya Renata. Menyetujui usul ayahnya.


"besok juga bisa jika kamu mau?" ucap pak adi tak lepas dari senyumnya.


"baiklah, rena akan menyiapkan diri,!" hanya itu hingga percakapan merekapun berkahir.


Pak adi mengambil nampan yang dia bawa tadi dan membawanya keluar, melihat putrinya melakukan sesuatu,! cukup membuat dia lebih senang,


Jika renata bekerja di kantor , tentu dia akan lebih leluasa untuk meluangkan waktu bersama putri semata wayangnya.


Ke esokan harinya, Renata sudah siap berangkat, di luar pak adi sudah menunggunya dengan kemaja berwarna senada dengan pakaian putrinya.


"pagi sayang? Bagaimana dengan penampilan ayah,?" Tanya pak adi membuat Renata memandangnya dari atas sampai bawah.


"biasa saja?" jawab renata enteng tidak terlalu perduli maksud dari ayahnya.


"hemm maksudku kita memakai baju warna yang sama,! padahal aku sudah siapkan semua, sampai aku harus mengintip baju apa yang Renata pakai, tapi nyatanya biasa saja kata renata, sudahlah? bukankah renata memang irit bicara jika sedang kesal," batin pak adi menginjak pedal gas.


Jalan di kota hari ini tidak terlalu padat, mungkin Karena masih terlalu pagi, hingga belum banyak kendaraan yang lalu-lalang.


30 menit perjalan akhirnya mobil sampai juga di depan kantor.


renata jeluar lebih dulu dan menunggu di loby, Sementara pak adi memarkirkan mobilnya,


Setelah selesai, pak adi menemui Renata yang menunggunya di loby kantor.


"ayo sayang ayah tunjukan di mana ruanganmu,"

__ADS_1


renata tidak menjawab dan hanya membuntuti ayahnya.


ruangan Renata ada di lantai 10, sedang ruangan pak adi ada di lantai 14, dan lantai 15 adalah tempat dimana ruangan miting berada, dan di bawah lantai 14 untuk para staf bekerja.


"masuklah, ayah akan ke ruangan ayah yang ada di lantai 14, setengah jam lagi kita akan mengadakan miting kamu tidak usah ikut jika belum siap ayah,akan menanganinya sendirian,"


"Baiklah, ini juga pertama kalinya aku masuk di kantor ayah jadi aku masih butuh penyesuaian untuk berada di sini" ucap renata lalu menutup pintu Setelah memastikan ayahnya masuk ke dalam liff.


"eh ku dengar pegawai yang bekerja di bagian keuangan sudah mengundurkan diri," bisik salah satu karyawan yang suka bergosip jika sedang tidak ada bosnya.


"ha? Maksudmu marzel?" ucap pria yang terlihat kurus seperti kekurangan gizi itu.


"iya,! Siapa lagi coba kan dia yang bekerja di bagian itu, kalau aku pribadi merasa bahagia jika dia keluar dari kantor ini, sebab dia itu suka menggelapkan uang tanpa sepengetahuan pak adi,"


"darimana kamu tau jika marzel sering menggelapkan uang kantor? Apa kamu juga ikut terlibat?"


"ya enggala, aku cuman Enggak sengaja dengar dia meminta salah satu rekannya di sebrang telpon untuk mengirim uang dari penjualan bulan lalu ke rekening dia"


"terus kenapa kamu tidak memberi tahu pak adi akan hal itu, kamu juga bisa kena tuduhan jika menyembunyikan kebenaran marzel,"


"ya kali aku ngomong sama pak adi, aku masih mau hidup kali?, lagian aku juga tidak punya bukti, dan menuduh orang tanpa bukti, itu sama saja aku mengantarkan nyawaku ke si pelaku,"


"terus siapa yang menggantikan posisi marzel, dan apa sebabnya marzel mengundurkan diri,! Bukankah kedudukan itu sangat bagus,"


"setahuku,! Dia adalah seorang wanita, jika tidak salah dia itu putri pak adi sendiri, tapi aku juga belum memastikan apa itu benar atau tidak"


"putri pak adi? Maksudmu renata?"


"yaps...dan dialah singa betina yang paling di benci pak faiz, karena ku dengar dia selalu mengejar-ngejar pak faiz, bahkan dia tidak akan segan melabrak jika ada wanita yang dekat dengan faiz, Pokoknya dia itu jauh lebih amatir dari pada marzel?"


"sudah-sudah ayo kembali bekerja, jika ada yang melapor ke atasan kita semua pasti akan di pecat,"


Setelah mereka bubar kesibukan kembali riuh, tidak ada lagi yang bergosip bahkan mereka hanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, hingga jam makan siang tiba barulah mereka bergosip lagi,


Setiap hari akan seperti itu, seakanvtidak ada yang sayang dengan pekerjaannya jika mereka harus di pecat.

__ADS_1


__ADS_2