Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 36: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"kenapa kesehatannya sangat memperihatinkan,! Apakah dia sedang mempunyai masalah hingga dia jadi sakit begini,!"


"aq harus menghubungi pak adi, barang kali saat ini dia sedang mencari putrinya,"


Wira mengambil benda pipih miliknya dan menekan nomor pak adi. Butuh beberapa hingga pak adi mengangkat telpon dari wira, hingga pada akhirnya telpon pun tersambung juga.


Pov pak adi.


"aju berkeliaran di tenga larutnya malam, guna mencari di mana renata berada, saa sedang sibuk mencari dan bertanya pada beberapa orang lewat namun nyatanya nihil, tak satupun dari mereka yang melihat putriku, aku terduduk lemas di pinggir jalan memikirkan kemana putriku pergi, hingga suara dering ponselku mengagetkanku,"


"wira?"


"itulah nama yang tertera saat aku melihat siapa yang menghubungiku,"


"Assalamu'alaikum wira,! Ada apa kamu menghubungiku,?" tanya pak adi berusaha baik-baik saja, dia tidak ingin jika sampaic orang lain tau apa yang terjadi pada keluarganya.


"Walaikumsalam pak adi?" jawab wira di sebrang telpon.


"saya menghubungi bapak karena saya ingin memberitahu renata ada di rumah sakit saya, saya tidak sengaja bertemu dengannya di pinggir jalan, tadinya saya ingin mengatarnya pulang, tapi renata menolak dan justru malah pingsan," terang wira menjelaskan, dia tidak ingin disangka mencelakai anak orang hingga sampai berkahir di rumah sakit.


"Terimakasih nak wira,! Saya akan segera ke rumah sakit sekarang?" ucap pak adi langsung mematikan telpon dan kembali ke rumah untuk ke rumah sakit dengan mobil.


"dasar pak tua,! Tidak bisakah dia mengucap salam sebelum mematikan telpon" gerutu wira memandangi ponselnya.


setelah beberapa menit akhirnya pak adi sampai juga di rumah sakit, dengan terburu-buru pak adi memarkiran mobilnya hingga hampir saja dia menabrak seseorang.

__ADS_1


tapi pak adi tidak perduli sama sekali, dia keluar dari mobil dan berlari masuk ke rumah sakit tanpa melihat apa orang yang di tabraknya baik-baik saja atau tidak.


"dasar orang kaya,! Seenaknya saja nabrak orang, dia bahkan tidak bertanya apa aku baik-baik saja atau tidak," ucap orang itu mengumpat karena di tinggal begitu saja.


"sudahlah pak, yang sabar saja ya, saya tau siapa orang tadi,! sepertinya dia sedang terburu-buru hingga tidak menyadari telah menabrak bapak," ucap sekuriti rumah sakit yang bertugas menjaga di area parkir itu.


"iya saya juga mengenalnya, dia itu pak adi yang memiliki putri yang sebongnya minta di kurangin, seharusnya dia meminta maaf atau sekedar menawarkan saya untuk berobat, lihat? Kaki saya sampai luka begini, sekarang siapa yang akan bertanggung jawab jika sudah seperti ini"


Bapak itu tetap marah dan tidak terima di biarkan begitu saja.


"baiklah mari saya antar bapak ke dalam" ucap sekuriti itu menunduk untuk membantu pria itu berdiri.


Pak adi tiba di kamar renata dengan penampilannya yang sangat sulit sekali di kenali, bahkan kening wira sampai berkerut memandangi pak adi dari atas sampai bawah guna memastikan apakah dia benar pak adi atau bukan.


"renata,! Sayang apa yang terjadi nak, kenapa kamu begini," ucap pak adi memandangi wajah putrinya yang terlihat sangat pucat.


"iya ini saya, kenapa,? Apa kamu tidak mengenal saya" jawab pak adi merasa bingung dengan pertanyaan wira.


"maaf pak, saya hanya pangling dengan penampilan bapak yang biasanya rapi dan beribawah tapi sekarang terlihat sangat sulit untuk di kenali, ucap wira lagi membuat pak adi sedikit menyunggingkan senyum.


"saya hanya sedikit merasa kacau dengan keadaan putri saya, jika dia baik-baik saja, maka tampilan saya tidak akan seperti ini," jawab pak adi sekenanya, sambil terus mengusap wajah pucat putrinya.


"hmm..kasihan juga pak adi, dia pasti menghawatirkan putrinya yang suka membuat onar ini," batin wira beranjak dari duduknya.


"baik pak adi, karena bapak juga sudah di sini, maka saya permisi pulang dulu, besok pagi saya akan kembali memeriksa putri bapak, semoga besok dia akan lebih baik,"

__ADS_1


"Terimakasih nak wira, saya tidak tau bagai mana keadaan putri saya jika anda tidak menemukannya," ucap pak adi berterima kasih pada wira.


"sama-sama pak, saya juga senang dapat membantu bapak" ucap wira lalu pergi meninggalkan ruangan itu menyisahkan pak adi dan putrinya.


"ya allah Terimakasih engkau telah mengirimkan orang baik seperti nak wira untuk menolong putri saya, jaman sekarang jarang ada orang yang akan perduli dengan keadaan orang lain, bahkan ada yang sengaja pergi begitu saja dan lebih memilih menutup mata dari pada mengulurkan tangan untuk meringankan beban sesama manusia"


"sayang bangunlah,! Ayah di sini, apa kamu akan terus seperti ini" ucap pak adi seakan putrinya suda koma selama bertahun-tahun, padahal belum ada semalam renata berada di rumah sakit, tapi pak adi merasa dia suda sangat lama menunggu putrinya sadar hingga dia tidak bisa tidur sama sekali.


Di dalam mobil wira masih bermain dengan pikirannya karena merasa aneh dengan kondisi Renata.


Wira mulai menerka-nerka jika terjadi sesuatu pada Renata.


"sebenarnya apa yang terjadi pada Renata,! Kenapa dia sampai sakit begitu, setahuku selama ini renata selalu baik-baik saja, jangankan sakit bahkan aku tidak pernah melihat dia menangis seperti tadi,"


Wira memijit pelipisnya terasa berat sekali jika terus berpikir,


Mungkin dia terlalu lelah bekerja seharian, bahkan jam segini dia masih berada di jalan.


"apa yang bisa ku perbuat, aku juga tidak ingin ambil pusing, mungkin renata memang sedang ada masalah hingga berdampak buruk pada kesehatannya," ucap wira masih tetap fokus dengan jalan di depannya.


Sesampainya di rumah wira memarkirkan mobilnya dan keluar masuk ke dalam rumah, bu ranti sudah menunggunya sejak tadi karena wira memang tidak mengatakan apa-apa saat dia pergi tanpa memperdulikan panggilan ibunya.


"Jam segini baru pulang?" ucap bu ranti berkacak pinggang di ujung tangga tadinya dia ingin tidur saja karena terlalu lama menunggu wira untuk pulang, tapi mendengar deru suara mobil wira bu ranti menghentikan langkahnya dan berbalik melihat putra keduanya suda masuk.


"ibu ngagetin saja,! Kenapa ibu belum tidur?" ucap wira tanpa memperhatikan raut wajah ibunya dan melongos ke dapur untuk mengambil air minum.

__ADS_1


"ibu tidak tidur karena menunggu kamu pulang,"ucap bu ranti masih berusaha merendahkan suaranya namun wira tau jila ibunya sedang marah.


"ibu kan tau perjaan wira, seharusnya ibu yau kemana wira akan pergi tadi," dengan entengnya wira berbicara, sementara ibunya sudah terkantuk-kantuk karena menunggu dia pulang.


__ADS_2