Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 18: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"tok tok tok!, niah! Apa kamu sudah bangun!," bu ranti ke kamar niah untuk memintanya ke butik langganannya untuk fitting baju pengantin.


"apa itu bu ranti? kenapa datang sepagi ini yah," niah meletakkan pengering rambutnya, karena niah baru saja selesai mandi.


Niah berbalik dan baru menyadari jika faiz masih tertidur di kamarnya,


"ya tuhan? kak faiz masih di kamar aku, bagai mana ini? Apa aku bangunkan saja ya!, tapi kak faiz baru saja tertidur, aku harus memikirkan sesuatu, tapi apa ya!"


"tok tok tok, niah!, apa kamu dengar ibu?, apa anak itu belum bangun ya, ya sudah aku bangunkan faiz saja,"


Bu ranti beralih ke kamar faiz, karena niah tidak mendengar panggilannya.


"tidak ada cara lain selain membangunkan kak faiz!, Bismillahirrahmanirrahim, semoga saja singa nya tidak ngamuk karena di bangunkan?," ucap niah menghampiri faiz yang masih tertidur.


"kak bangun! Ada ibu di luar! Cepat keluar dari kamar niah sebelum ibu melihat kakak di tempat tidur niah," faiz sama sekali tidak menggubris ocehan niah, niah bingung dengan cara apa dia membangunkan faiz.


"kak ayolah bangun, tidurnya nanti lagi ya, pergilah ke kamarmu sebelum ibu melihatmu tidur disini," niah terus mengguncang, mencubit, bahkan menarik tangan faiz hingga faiz duduk dengan mata yang masih terpejam.


"ya ampun kak, kamu tidur apa mati sih?, kenapa susah sekali bangunin kamu.." ketus niah merasa kesal.


Di kamar faiz.


"tok tok tok, faiz bangun!, ibu mau bicara sebentar," di dalam kamar begitu tenang, seperti tidak ada siapa-siapa di dalam sana?.


"kemana faiz sepagi ini!," ucap bu ranti membuka pintu kamar anak sulungnya.


"kemana anak itu!, ini kan masih jam 7 pagi, Seharusnya dia masih di kamar,! Pergi kemana dia?" bu ranti kembali ke kamar niah, karena faiz tidak ada di kamarnya .


"tok tok tok?, niah sayang buka pintunya, ibu perlu bicara dengan, kamu".


"deg...?"


"bagaimana ini, ibu kembali lagi, aku harus berbuat apa, ibu juga pasti menunggu aku membuka pintu, ibu kembali pasti karena tidak menemukan kak faiz di kamarnya," niah kebingungan dan terpaksa membuka pintunya, karena sejak tadi bu ranti terus saja mengetuk pintu.


"niah sayang buka pintunya?,"

__ADS_1


"i..iya bu, sebentar,?" teriak niah di dalam kamar.


"tidak ada jalan lain, aku harus buka pintunya,! kak faiz!, kamu membuatku dalam masalah, ini juga salahku!, Seharusnya tadi aku menyuruh kak faiz tidur di kamarnya, Bukannya meminta dia untuk untuk tidur di sini, sekarang aku dalam masalah besar, ya allah mohon lindungi hamba,"


Meski takut niah tetap harus membuka pintu, di depan sana ada calon ibu mertua, jika dia melihat niah dan faiz satu kamar, dia pasti berpikiran yang tidak-tidak.


"niah apa kamu baik-baik saja?" Teriak bu ranti karena meras hawatir


"hehe...ibu? Maaf!, ibu kelamaan nunggunya ya,"


Ketika pintu terbuka, bu ranti masuk dan tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat faiz di tempat tidur niah.


"faiz....?"


Satu teriakan saja dari sang ibu, mampu membangun kan faiz, faiz terkejut dan masih sangat mengantuk.


"dasar anak kurang ajar? Apa yang kamu lakukan di kamar seorang gadis, bahkan kamu sampai tidur di sini juga," sang ibu terus berteriak dan memukuli faiz, niah yang melihat hal itu berusaha menghentikan aksi calon ibu mertuanya.


"bu jangan?, kak faiz tidak berbuat apa-apa bu?," mohon niah namun bu ranti tidak menggubrisnya.


"bu ada apa? kenapa rambutku di tarik sih bu, emang aku salah apa?," faiz yang kebingungan melihat ibunya dan niah bergantian.


Wira yang sedang berpakaian juga mendengar pertengkaran mereka, wira bergegas ke sumber suara dan itu tertuju di kamar niah.


"siapa orang yang membuat keributan di kamar niah ya, ha,?.....jangan-jangan ada Renata?, oh tidak matilah aku ini, kakak faiz pasti marah, jika aku tidak berhasil mengatasi wanita sialan itu," gerutu wira berjalan ke kamar niah.


"kamu tanya kamu salah apa?, coba lihat kamu sekarang ada di mana?"


"di kamar fa...!" Ucapan faiz berhenti setelah menyadari dia ada di kamar niah.


"kenapa aku di kamar niah sih, pantesan saja ibu marah-marah, dia pasti berfikir aku dan niah bertindak yang tidak-tidak," batin faiz mengusap wajahnya dengan kasar.


Ketika sampai wira kembali tercengang, karena ternyata bukan renata yang mengacau di kamar niah, tapi ibunya sendiri.


"bu ada apa sih pagi-pagi begini sudah pada ribut,?" wira masuk dan duduk di samping faiz seperti tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Pletaakk,?"


"aduh bu?, sakit" wira meringis kesakitan mendapatkan satu pukulan kecil dari ibunya namun tetap terasa sakit.


"turun kalian berdua dari tempat tidur niah, kalian tidak boleh ada di situ,,"


"ha,?..kenapa bu?"


"ibu bilang turuuuunn...?"


Baru saja bu ranti mengangkat tangan, kedua kakak beradik itu kini lari tungga langan.


"dasar anak tiada akhlaq," kesal bu ranti menghempaskan bokongnya Di sofa.


"bu sebenarnya apa yang ibu lihat tidak seperti apa yang ibu pikirkan"


Bu ranti menatap niah.


"ibu tau nak, kamu tidak usah pikirkan apa yang ibu katakan barusan, ibu hanya sedikit memberi pelajaran untuk mereka berdua, agar kelak mereka berpikir ribuan kali sebelum membuat masalah,"


Niah menghembuskan nafas dan merasa lega, dia pikir bu ranti juga akan marah padanya.


"oh iya niah, ibu kesini ingin memintamu untuk pergi ke butik,tadi ibu sudah menelpon langganan ibu, bahwa kamu dan faiz akan ke sana untuk fitting baju pengantin."


"jika kamu butuh sesuatu katakan saja pada faiz, dia akan menyiapkan segala sesuatunya yang kamu perlukan!, bersiaplah,? ibu akan turun ke bawah, dan jika faiz datang ke, sini tolong beritahu dia, kalau hari ini kalian harus ke butik, bilang padanya kalau ini perintah dari ibu, dia pasti tidak akan menolak, tadi ibu tidak sempat memberitahunya, karena dia sudah terlanjur lari,"


"baik bu, niah akan sampaikan! Kalau begitu niah siapa-siapa dulu," ucap niah dengan mengembangkan senyum.


"tentu saja!, ibu keluar dulu,"


"emmm,"


Setelah kepergian bu ranti, niah bersiap-siap dan membersihkan tempat tidurnya, meskipun kakinya sakit dia tetap berusaha melakukan hal kecil agar tidak selalu merepotkan orang lain.


Selesai dengan tempat tidur, niah mendorong kursinya untuk mengambil sendal, setelah selesai memakainya, tidak lupa niah mengambil tasnya yang di belikan faiz dua hari yang lalu.

__ADS_1


karena faiz tak kunjung datang, niah pun memutuskan ke kamar faiz agar mereka tidak kesiangan berangkat ke butik.


__ADS_2