Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 38: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Di bawa sudah ada bu ranti dan beberapa pelayan yang menyajikan makanan, wira keluar kamar bersamaan dengan faiz turun dari atas bersama dengan rania.


"ehhemm..! Ciee..yang baru nikah," ujar wira berjalan melewati faiz, dia tidak melihat ekspersi kakaknya yang tidak bersahabat.


"pagi bu?" sapa wira pada ibunya yang menatapnya penuh dengan selidik.


"pagi bu?" sapa faiz bersama rania lalu ikut duduk di meja makan.


"wira kamu belum cerita siapa orang yang kamu tolong tadi malam,?"


Wira yang sedang mengambil nasi berpaling menatap ibunya, dia tau jika dia belum bicara, ibunya tidak akan berhenti bertanya seperti wartawan.


"memangnya semalam wira kemana lagi bu?" tanya faiz, karena semalam dia tau jika wira pulang lebih awal, dan saat dia pulang tidak ada tuh berita seperti yang ibunya katakan.


"semalam wira ke rumah sakit lagi dan dia baru pulang jam 2 subuh," ucap bu ranti masih menatap wira dengan penuh pertanyaan.


"katakan wira siapa orangnya,! semalam kamu bilang akan menjelaskan besok pagi, ini sudah pagi,! Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?," ucap bu ranti lagi tidak mengalihkan tatapannya pada wira.


"bagaimana ini, jika aku cerita apa ibu akan marah? Tapi aku tidak akan lolos jika aku ketahuan berbohong pada ibu," batin wira sambil sesekali memainkan sendok nya.


"apa yang kamu tolong itu adalah seorang gadis?" tanya faiz tiba-tiba membuat wira mendelik padanya.


"dari mana kakak tau?"


"bukan tau, tapi menebak je,! Ucap faiz berbicara seperti upin ipin.


"memangnya benar ya di itu cewe, terus siapa namanya?" tanya faiz lagi semakin membuat wira membulatkan matanya.


"sepagi ini ibu sama kak faiz sudah menghakimiku,! Membuat perutku mules saja,!"


"memangnya dia siapa wir? Kenapa kamu enggan untuk bicara," kini giliran rania yang bertanya, membuat wira tidak punya pilihan selain bicara.

__ADS_1


"bicaralah wir? Kakak iparmu sedang bertanya?" ucap faiz di setujui bu ranti ibunya.


"sebenarnya orang itu adalah renata?, di..."


"apa? renata? Kenapa dia bisa ada di jalan di malam pekat seperti itu, dan Kenapa dia pingsan? Apa kamu melakukan sesuatu padanya?"


Bu ranti berdiri berkacak pinggang seakan ingin memakan wira.


"wira tidak melakukan apa-apa bu, yang ada wira sendiri bingung? Kenapa wanita seperti renata bisa berakhir buruk seperti itu" ucap wira mencoba membela dirinya.


"apa dia wanita yang sama yang kita temui di butik itu" tanya rania tiba-tiba hingga semua mata terfokus padanya.


"iya? Tapi renata yang ku temui semalam sangat berbeda dari renata yang beberapa hari yang lalu datang ke rumah sakit ku dan membuat kekacauan," jelas wira mencoba mengingat kejadian semalam.


"kenapa kamu tidak meninggalkannya saja, bukankah dia selalu menyulitkanmu,"


"mas kenapa bicara seperti itu, sejahat apapun dia, dia tetap berhak mendapat pertolongan,"


Faiz menatap istrinya namun tidak mengatakan apa-apa, ada rasa kagum di hatinya, namun hanya dapat terlihat dengan tatapannya yang hangat bagi rania.


"sayang mas berangkat dulu,"


Rania mencium tangan suaminya dan tak lupa memberinya bekal agar tidak lupa makan.


"ya ampun kalian ini,! Tidak bisa kah menghargai aku yang jomblo ini, setidaknya jangan melakukan syuting di depanku," sungut wira tidak terima, padahal faiz hanya pamit dan mengatakan sayang pada istrinya, tapi kenapa wira sampai kepanasan gitu.


"noh cari jodoh kaya abangmu itu, biar ada wanita yang bisa kamu panggil sayang juga seperti abangmu,?"


"dia akan datang sendiri jika sudah waktunya wira punya jodoh, tidak usah pusing-pusing, lagipula anak ibu ini sangat tampan, ya meski tidak setampan kak faiz tapi cukuplah untuk mengait wanita di luaran sana" ucap wira dengan pongahnya.


"wajah tampan saja tidak cukup seyeeeeng? Jika kamu tidak ada usaha yang ada nanti kamu jadi perjaka tua?"

__ADS_1


"ucapan adalah doa bu,! jdi tolong doakan aku yang baik-baik, meski jadi perjaka tua setidaknyakan aku masih tersegel"


"idih...apa kamu menyamakan dirimu dengan barang yang masih baru" ucap bu ranti memindai wira dari atas sampai bawah.


"hemm sudahlah bu aku mau berangkat, banyak pasien yang menunggu untuk di periksa,"


"aih..biasanya juga kamu berangkat jam 7,! ini masih setengah tuju kenapa buruh-buruh sekali, Apakah karena pasien itu adalah renata hem,! Ucap bu ranti sengaja menggoda putranya.


"bu biarkan saja wira pergi, makanlah lalau minum obatnya, jangan sampai ibu sakit lagi karena terlalu pikiran," ucap rania yang sejak tadi hanya diam saja, rania juga tidak terlalu ingin mengurusi siapa wanita itu, melihat anak dan ibu ini bertengkar sejak tadi membuatnya harus mengambil alih keadaan.


"hemm kakak ipar kau membuat pekerjaan ku jadi lebih mudah, kakak tau, dulu saat belum ada kakak ipar, ibu sering kali tidak meminum obat, jika penyakitnya kambuh dia akan diam saja atau dia akan membuat ku lari maraton karena penyakitnya sudah di luar kendalinya, aku harap dengan adanya kakak ipar ibu akan lebih terawasi,"


"kamu bisa bekerja dengan tenang, aku akan menjaga kesehatan ibu, jika ada apa-apa aku pasti segera menghubungimu,"


Wira mengangguk iya,! Dan menyalami ibunya.


"bu dengarkan kakak ipar, dan semoga ibu tidak menyulitkannya, ingat? Jangan sampai lupa dengan obatnya oke,!" ucap wira membentuk huruf o di tangannya.


"baiklah...ibu akan patuh, lagi pula ibu tidak bisa berbohong lagi jika ada yang mengawasi," jawab bu ranti dengan lesu.


"jangan cemberut begitu nanti wajah ibu semakin berkeriput, tersenyum lah agar tetap awet mudah." ucap wira dan berlalu pergi dari hadapan ibunya.


"anak itu sama sekali tidak menghargai ku, bisa-bisanya dia berkata seperti itu," kesal bu ranti melihat putranya yang sudah menghilang di balik pintu.


"bu,! Mungkin maksud wira bukan seperti itu, ini obatnya bu minumlah,"


Bu ranti mengambil obat yang di berikan rania dan langsung meminumnya.


"sayang apa kamu ingin melakukan sesuatu?" tanya bu ranti yang melihat rania sibuk membereskan obat-obatan mertuanya.


"melakukan apa bu?" tanya rania menatap ibunya dengan seulas senyum yang sangat terlihat sangat manis bila sedang tersenyum.

__ADS_1


"bagaimana jika pergi mall untuk jalan-jalan, sudah lama ibu tidak berbelanja," ucap bu ranti terlihat sangat bersemangat.


"tapi niah ijin mas faiz dulu ya bu, bagaimanapun niah sudah punya suami dan tidak bisa pergi seenaknya sekalipun itu pergi dengan ibu," jawab rania sedikit tidak enak pada ibu mertuanya.


__ADS_2