
Arga pergi ke apartemen lamanya. Ia menenangkan diri. Sambil berbaring mengingat ngingat dulu saat ia bersama Aira. Dimana Aira masih malu malu dan selalu menurut dengan nya. Ia tersenyum mengingat polos nyan Aira.
Tapi akhir akhir ini kenapa Aira selalu berbuat sesukanya. Dan tidak mau mendengar omongannya
"Apa yang salah? apa yang membuat mu jadi kasar dan masa bodoh seperti ini ra?" Gumam Arga.
Arga menelpon Anna menggunakan telepon yang ada di apartemen ini. Karena Arga tadi tidak sempat membawa hp.
"An bawakan aku makan. Antar ke apartemen." Ucap Arga dengan tegas. Meski ia tidak berselera makan. Tapi ia ingin makanan itu ada tersaji. Jadi saat dia lapar ia langsung bisa memakannya.
"Baik tuan." Jawab Ana. Arga langsung mematikan panggila itu.
"Huh.. ada apa lagi ini, kenapa tuan ada di apartemen?" Gumam Anna.
Sementara di rumah. Erika terus membujuk Aira agar segera keluar kamar.
"Ra.. kamu ngak sarapan ra, ayo keluar temanin ibu sama mami ke hotel lihat lihat persiapan pernikahan Rey." Ucap Erika. Dengan sabar ia terus membujuk Aira.
jujur Hesti sangat malu melihat tingkah Aira yang seperti ini. Apa lagi melihat Erika yang dari tadi membujuk Aira tapi Aira tak junjung membukakannya pintu.
"Bu, kak Aira kenapa sih. Kok jadi gitu, untung aja mami Erika ngak terpancing emosinya." Ucap Bima. Bima juga memnggil Erika dengan sebutan mami. Karena Erika yang memintanya.
Ya Erika memang sangat berubah. Ia menjadi orang yang baik dan tidak lagi melihat orang dari status sosialnya.
"Ya, ibu juga ngak tau. Kok kakak mu jadi gitu ya. Kasian Arga kemana ya tadi dia pergi." Ucap Hesti. Ia memikirkan Arga. Mengingat wajah Arga yang tampak kesal saat meninggalkan rumah.
Hesti pun menghampiri Erika. " Sudah yu Bu, kita pergi saja. Biarkan saja Aira, nanti kalau di bujuk terus malah makin besar kepala." Ucap Hesti. Sungguh ia kecewa dan malu dengan sikap anak nya.
"Tapi jeng belum makan Airanya. Bara coba kamu yang panggil mamah kamu." Ucap Erika ia masih mau berusaha.
"Mamah buka pintu nya. Mamah cepat buka pintu nya." Ucap Bara bahkan ia menangis melihat situasi. Walau ia tidak terlalu paham. Tapi Bara merasa sedih saja Aira tidak mau membuka pintu kamar nya.
"Sudah.. sudb biar kan saja. Cup cup.. cucuk nenek ngak boleh nangis dong. Ayo bu biarkan saja Aira dengan keras kepalanya itu! kasian Bara jadi nangis." Ucap Hesti kesal.
Erika mengikuti saran dati Hesti. Mereka pun akan pergi tanpa Aira.
Saat mereka mau turun, mereka melihat Bi ijah membawa nampan yang cukup besar untuk sarapan Aira.
"Buat Aira bi? " Ucap Erika.
"Iya nya, tadi bu Aira telpon saya minta di bawakan makn dan minum ini Nya." Jawb Bi Ijah.
"Asatag anak ini benar benar. Pakai makan dikamar segala lagi. Sudah kaya tuan putri aja kelakuannya. Jangan bi, biarkan saja dia kelaparan kalau ngak mau keluar kamar! " Ucap Hesti marah. sungguh sebelumnya ia tidak pernah semarah ini dengan Aira.
__ADS_1
"Sudah jeng. Biar kan saja kalau Aira mau makan di dalam. Dari pada nanti ngak mau makan. Ayo mending kita lihat hasil dekorasi Rey. Sekalain kita ke mal nenangkan pikiran. Yu.. " Ucap Erika. Ia tidak mau membuat maslah ini jadi besar. Mungkin dengan membiarkan Aira nanti jadi tenang sendiri. Erika ingin saat pernikahan Rey. Arga dan Aira tidak marahan lagi. Apalagi besok sudah hari pernikahan Rey.
Dengan berat hati Hesti mengikuti saran Erika. Walau sebenar nya ia sangat malu dengan sikap Aira.
"Aira.. kenapa sikap kamu jadi gini nak." Batin Hesti.
Erika, Hesti Bima dan Bara pun pergi. Mereka menggunakan 2 mobil karena kedua beby sister Bara juga ikut.
"Non ini saya bi Ijah." Ucap bi Ija di balik pintu kamar Aira.
"Iya bi, bentar." Ucap Aira dengan sedikit malas Aira membuka pintu itu. Dan membiarkan bi Ijah membawanya kedalam.
"Bi pijitin kaki Aira dong." Ucap Aira manja.
"Iya non." Jawab Bi Ijah.
"Pakai minyak zaitun aja bi. Ada di dalam laci. Buka aja lacinya." Ucap Aira. Ia sudah terlentang di atas kasur sambil bermain hp.
Bi Ijah pun menuruti kemauan Aira. Ia mulai memijit mijit kaki Aira.
"Non.." Ucap Bi Ija lembut.
"Iya bi."Jawab Aira.
Aira langsing duduk saat mendengar perkataan bi Ijah.
"Astagfirullah non." Ucap bi Ijah panik.
"Bi. Kaya nya Aira sudah lama tidak datang bulan. Jangan jangan Aira hamil!" Seru Aira.
"Di cek dulu non, ayo non bibi ngak sabar." Ucap Bi Ijah semangat.
"Ya sudah bi Ijah belikan saya tespeck yah." Ucap Aira.
"Iya non. Sebentar ya. Di luar kompleks situ ada apotik. Non tunggu sebentar ya." Ucap Bi Ijah.
"Iya bi." Jawab Aira tersenyum.
Bi Ijah pun keluar segera. Binijah pun meminjam motor satpam untuk membeli tespek.
Hanya butuh delapan menit saja bi Ijah pun sudah kembali membawa tespek untuk Aira.
"Non.. Ini non." Ucap Bi Ijah sedikit ngos ngosan.
__ADS_1
"Hehehe bi Ijah lucu, makasih ya bi." Ucap Air. Aira sangat senang melihat sikap semangat bi Ijah. Padahal yang maubdi tes kan dia.
"Cepatan non bi Ijh sudah ngak sabar." Seru bi Ijah.
Aira pun hanya tersenyum dan segera ke toilet.
"Non gimana hasil nya." Ucap bi Ijah, ia sedikit kecewa melihat ekspresi wajah Aira.
"Non gimana?" Ucap bi Ijah lagi karena Aira tidak menjawab.
"Aira hamil bi!" Ucap Aira semangat. Ia langsung melihatkan hasil nya.
"Wah non selamat ya." Ucap Bi Ijah, mereka bersua saling berpelukkan.
"Ya sudah, sekarang non Aira makan dulu ya. Atau non Aira mau makan yang lain. Biar bi Ijah siap kan." Ucap Bi Ijah.
"Ngak bi. Saya mau makan ini aja. Tapi nanti sore bi ijah bisa ngak buat kan saya cake coklat. Tapi toping nya campur keju." Ucap Aira manja.
"Bisa non bisa, tenang aja." Ucap Bi Ijah.
"Pantasan aja non Aira jadi gini. Rupanya pembawaan hamil." Batin bi Ijah.
"Oh ya non. Non harus segera kasi tau nyonya sam tuan Arga non." Ucap Bi Ijah.
"Nanti aja bi. Habis acara pernikahan Rey. Nanti yang ada saya di suruh istrihat di rumah kalau kasi tau sekarang. Saya kan mau lihat Pernikahan Rey." Ucap Aira.
"Hem ya sudah kalau non mau nya gitu. Tapi non harus minta maaf sama ibu non." Ucap Bi Ijah. Melihat suasana hati Aira yang sudah membaik.
"Tapi kan bi, bi Ijag tau kan saya ngak salah." Ucap Aira manja.
"Iya non ngak salah. Tapi ibu non kan cuma ngak mau kalau laki laki lain lihat non berpakaian yang kaya gitu. Bibi aja sampai kaget." Ucap Bi Ijah ia mencoba merayu Aira.
"Tadi bi ijah lihat. Ibu Hesti kelihatan banget non sedih nya." Ucap Bi Ijah lagi.
"Iya bi, nanti Aira minta maaf." Ucap Aira.
"Ya sudah. Non Aira jangan sedih dong. Nanti kasian dedek yang di dalam. Kaya nya anak non Aira cewe deh. Soalnya saya perhatikan non Aira suka dandan." Ucap bi Ijah lagi. Ia pandai membuat hati Aira menjadi senang.
"Wah masa sih bi. Aira juga pinginnya anak perempuan. Semoga aja ya bi." Jawab Aira semangat.
Aira dan bi Ijah mengbrol sambil menunggu Aira selesai makan. Setelah itu bi Ijah, ijin keluar untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.
Bersambung...
__ADS_1
Yuhuuuuuuu makasih buat yang sudah mampir