
Hari ini keluarga om Arya beserta istri dan anaknya datang kerumah Arga. Karena kemarin ada urusan di luar kota, dan pulangnya malam jadi tidak sempat datang ke acara tujuh bulanan Aira.
Bi ijah menuntun Keluraga om Arya keruangan tengah, di mana para keluarga berkumpul dan mengobrol santai.
Arga tidak kekantor dia ingin menikmati suasana dengan keluarga nya. Apalagi ada ibu dan adik Aira. Arga sangat senang, karena apa yang di dingikannya akhirnya bisa terjadi. Erika sekarang mau menerima Aira dan keluarga Aira .
"Om Arya." Ucap Bima. Ia segera menghampiri om nya dan membawanya bersama mereka.
"Maaf ya Aira. Kemarin om tidak sempat datang." Ucap Arya.
"Iya om ngak papa Aira ngerti kok." Ucap Aira tersenyum senang.
Erika yang sangat akrab dengan Riska pun langaung menyambut kedatangan Riska. Erika sangat senang karena sudah lama tidak bertemu Riska.
"Apa kabar sayang. Kamu makin cantik aja." Ucap Erika.
"Riska baik kok tan." Ucap Risak. Ia begitu sedikit malu saat mengingat dulu dia sangat menggilai Arga.
"Sayang banget ya kita batal jadi besanan. Tapi gak papa Aira ini sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Jadi kita sekarang tetap besanankan jeng." Ucap Mila, basa basi. Padahal Arga sudah tau betapa jahatnya dulu Mila dengan Aira.
"Mah!" Ucap Riska. Ia begitu malu mendengar ucapan dari Mila.
"Apa sih Ris. Mamah bicara apa adanya kok. Coba aja dulu Aira tidak ada pasti sekarang kamu yang jadi istrinya Arga."Ucap Mila lagi. Entah dari mana ia punya keberanian bicara seperti itu didepan Arga.
Suasana jadi sesikit tegang akibat ulah Mila. Arga sebenarnya sudah ingin meneriaki Mila. Tapi karena Aira terus menggengam tangannya dan memberi kode agar tidak terpancing dengan ucapan Mila.
"Sudah deh mah! jangan buat malu Riska disini." Ucap Riska. Wajahnya lamgsung berubah kesal.
"Apaan sih Ri, kamu...
"Kalau sudah tidak ada yang di bicarakan. Anda bisa pulang, dan satu lagi. jangan pernah membahas masa lalu yang anda pikirkan itu. Semua itu tidak ada dipikiran saya. Karena bukan saya yang menginginkannya." Ucap Arga dengan tegas, ia sangat emosi mendengar perkataan Mila.
Mila langaung terbengong mendengar perkataan Arga. Yang secara tidak langsung mengusir nya.
Sementara Erika, Aira dan lainnya tidak berani ikut berbicara atau menahan mereka. Karena Arga memasang wajah marah.
"Saya pamit, terimakasih karena sudah mengizin kan saya datang dan bertemu dengan Aira." Ucap Arya langsung. Dengan berat hati Arya harus pulang. Karena ulah
Arga tidak memberi respon apapun. Bahkan langsung mengabaikan mereka.
"Aira krim tante sudah habis. Tante mau dong, krim yang seperti kamu lagi." Ucap Mila dengan tidak malunya saat berjabat tangan dengan Aira.
__ADS_1
"Mah!" Ucap Riska, ia begitu malu dengan sikap Mila yang terkesan sangat tidak malu.
"Iya tan, Nanti Aira kirim kan lagi ya." Ucap Aira tersenyum kikuk. Ia tau kalau Arga sangat marah dengan kelakuan Mila.
Arya menahan wajah malu akibat ulah istrinya itu.
Bella mencerna omongam Mila tadi. Twrnyata Riska dan Arga pernah di jodohkan oleh Erika tapi Arga menolaknya.
Bella sedikit kesal dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.
Arumi mengantarkan Mila sampai luar. Ia begitu tertarik dengan Mila. Menururnya Mila bisa membantunya untuk menyingkirkan Aira. Dari yang Arumi tangkap Mila tidak begitu suka dengan Aira. Terlihat senyum palsu wajah Mila saat menatap Aira.
"Jeng bisa minta nomor hp nya ngak. Siapa tau kita bisa menjadi teman." Ucap Arumi ramah.
"Bisa jenga. Oh kamu keluarganya Jeng Erika ya." Ucap Mila penasaran.
"Ho saya sahabat nya Erika. Kami sudah seperti keluarga." Ucap Arumi.
Gak masalah dia juga pasti orang kaya. Tapi kok wajahnya gak asing ya. (Batin Mila.)
Mila sangat pemilih dalam berteman, ia tidak mau berteman dengan orang dari kalangan bawah.
Mereka berdua pun saling bertukar nomor ponsel.
Sore hari Fita dan Aira lagi mengobrol di pinggir kolam renang sambil merendam kan kaki mereka dan memakan cemilan yang sudah di bawakan oleh Intan.
"Sini aja ntan gabung sama kita." Ucap Aira, saat Intan ingin kembali kedapur.
"Maaf non. Tapi ada yang harus saya kerjakan." Ucap Intan. Ia menolak karena sedikit malu jika harus ikut mengobrol bersama mereka.
"Oh ya. Kemana Ana, tumben dia gak ada di sekitar lo." Ucap Fita.
"Hoo lagi temanin Rey. Ngurus kantor, disinikan lavi ramai makanya suami gue ngak terlalu khawatir. Lo tau ngak Fit, gue sudah seperti tawanan. Kemana mana harus ditemanin." Ucap Aira.
"Hahahaha seharusnya lo bersykur ra. Arga itu sayang banget sama loh." Ucap Fita.
"Feby kok gak ada kabar ya. Emang sibuk apaan sih dia." Ucap Aira. Karena Feby hanya mengirimi Aira chat bahwa ia tidak bisa datang. Setelah itu sudah tidak ada lagi kabar.
"Ngak tau. Biasa diakan bucin tu sama pacarnya. Tapi ya gue lihat pacar Feby itu seperti ada ganjalan gitu." Ucap Fita.
"Lo ini. Bisa saja. Ngak bagus ngomongin orang yang kita sendiri saja tidak tau." Ucap Aira.
__ADS_1
"Hehehe. Bentar dulu ya ra, gue mau ketoilet bentar. Lo hati hati jangan ngapa ngapin nanti kejebur lemas lo." Ucap Fita. Ia tau Aira yang tidak trelalu pandai berenang.
"Iya, iya." Ucap Aira.
Sementara dari kejahuan Arumi sudah memantau Aira dan Fita.
"Ini saat yang tepat!" Gumam Arumi.
Peelahan ia jalan menuju Aira dengan langkah pelan agar Aira tidak mengetahuinya.
"Aaaaaaaaa." Teriak Aira.
"BYUUUUUUAAAAR." Siara Air terdengar.
Arumi langsung berlari masuk meninggalkan Aira.
Intan yang tidak jauh dari Aira langsung dengan cepat berlari dan membantu Aira. Begitu juga pelayan yang lain. Mereka langsung menyebur kekolam dan menyelamati Aira.
Aira selamat karena ia tau sedikit berenang walau tidak terlalu pandai berenang.
"Intan! Intan. Tolong selamatin intan!" Ucap Aira langsung. Ia begitu panik melihat keadaan Intan.
Para pelayan itu kembali melompat kekolam menyelamati intan. Intan pingsan karena terlalu banyak Air yang masuk kemulutnya.
Suasana menjadi riuh. Semua para pelayan langsung panik karena mereka takut kena amukan Arga. Karena lalai menjaga Aira.
Arga langsung dengan capat datang menghampiri Arga dengan wajah yang sangat panik. Begitu juga dengan Erika, ia berlari ke arah kolam berenang. Ingin memastikan keadaan Aira.
Arga langsung dengan erat memeluk Aira.
"Ai, apa kau tidak papa. Apa kau terluka. Apa yang sakit." Ucap Arga begitu sangat khawatir.
"Apa yang kalian lakukan! kenapa tidak ada yang menjaga istri saya!" Teriak Arga.
"Sa... sayang aku tidak apa." Ucap Aita begitu gugup.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...