
Satu bulan berlalu saat kejadian dimana Erika membuat Aira pingsan akibat hasutan dari Bella.
Bukannya sadar Erija malah semakin bertambah parah kebenciannya kepada Aira, semua itu karena Bella terus terusan saja menghasut Aira.
"Tante bagaimana nanati kalau Arga sampai punya anak sama Aira. Kita pasti bakal gak diperdulukan lagi. Bahkan tersingkir dari hidup Arga. Bella sih gak papa, Bella kuat tahan rasa sakit ini, tapi Bella yakin tante kuat. Bella sangat prihatin kepada tante." Ucap Bella, ia tidak henti henti nya membuat hati Erika panas.
"Kamu benar, tante gak mungkin biarkan Arga mempunyai anak dari perempuan itu, gak sudi tante, perempuan murahan seperti dia melahirkan penerus keluarga rahandirta. Apa jadi nya nanti." Ucap Erika ketus.
Bella tersenyum puas karena lagi lagi Erika mendengarkan dirinya.
**
"Sayang pingin makan bakso." Ucap Aira tiba tiba. Ia merengek manja membangun kan Arga
"Hmm jam berapa ini ai." Ucap Arga sambil memejam kan matanya.
"Jam lima pagi." Ucap Aira sambil melihat jam dinding.
"Hem." Jawab Arga singkat. Tapi ia tetap melanjutkan tidurnya.
Aira tidak lagi membangun kan Arga. Ia kembali tidur dan membelakangi Arga. Aira merasa sedih karena Arga mengabaikannya.
Air mata nya perlahan jatuh, ia menangis dalam diam. Ia merasa Arga sudah tidak menyayangi nya. Cukup lama Aira merasa sedih. Tiba tiba saja Arga memeluknya dari samping. Dengan kuat Aira melepaskan tangan Arga dari tubuhnya.
Sontak itu membuat Arga kaget dan langsung bangun. "Ai.?" Ucap Arga bingung.
Aira tidak menjawab ia terus saja membelakangi Arga.
"Ai, kenapa gak mau dipeluk?" Ucap Arga lembut. Ia sangat heran dengan sikap Aira akhir akhir ini.
Aira masih tidak menjawab. Ia malah semakin menangis dalam diam.
Arga pun mencoba mengelus kepala Aira, tapi lagi lagi Aira memepis tangan Arga.
"Ai kenapa? aku ada salah?" Ucap Arga bingung.
Aira masih diam tidak bergeming, ia malah memeluk guling dan menutup wajahnya.
"Ai, jangan buat aku marah, kenapa kau bersikap tidak jelas seperti ini." Ucap Arga dengan nada sedikit marah.
Lagi Aira diam tidak bersuara. Bahkan ia semakin menagis dan sedikit bersuara membuat Arga semakin bingung.
"Ai, ada apa, kenapa kau menagis. Aku bisa setres kalau kai tidak jelas seperti ini." Ucap Arga, ia marah karena Aira marah dan mengis tanpa sebab. Di tanya pun tidak menjawab.
"Ya sudah! Terserah kau saja!" Ucap Arga, ia bagkit dari tempat tidur, dan Pergi mandi.
__ADS_1
Aira langsung bangun. "Aku pulang saja kerumah ibu, disini tidak ada yang sayang sama aku, Arga sudah tidak perduli dengan aku." Gumam Aira, sambil mengemaskan pakaianya kedalam koper.
Arga mandi dengan cepat, ia ingin membujuk Aira. Ia merasa bersalah karena tadi membentak Aira.
"Ai mau kemana!" Ucap Arga panik. Ia melihat Aira mengemas pakaian dengan mata sembab.
"Aku mau pulang, kau sudah tidak perduli sama aku. Untuk apa aku disini." Ucap Aira dengan mata berkaca kaca.
Arga semakin kaget mendengar Aira memanggilnya dengan sebutan kau.
Arga langsung memeluk Aira erat. Ia takut jika Aira benar benar pergi darinya.
"Ada apa Ai? apa mami memarahimu? Jangan pergi ai, Aku akan ngomong sama mami, tunggu lah sebentar!" Ucap Arga, ia mengecup pipi kiri, kanan dan dahi Aira.
"Bukan mami, tapi kau." Ucap Aira.
"Aku? apa salah ku? apa karna aku tadi membentak mu. Maaf ai maaf aku minta maaf, Aku janji gak akan membentak mu lagi." Ucap Arga, ia kembali mengecup dahi Aira.
"Bukan karna itu!" Ucap Aira.
"Jadi apa? kasi tau ai, aku gak bisa tau ai." Ucap Arga ia semakin bingung.
"Aku cuma ingin bakso, tapi kau tidak menghirau kan ku." Ucap Aira sedih.
"Astaga ai, aku minta maaf, aku kira tadi hanya mimpi, aku gak bermaksud mengabaikan mu."
"Sekarang ayo kita makan bakso. Mumpung hari ini aku libur, ayo jalan jalan, jangan marah lagi ya. Apa lagi mau pergi dari sini. Aku bisa gila Ai kalau kamu gak ada. Kamu mau aku gila." Ucap Arga panjang lebar.
Aira meggelang, sungguh ia takut kalau sampai Arga benaran gila.
"Ayo, sekarang kamu mandi, terus kita pergi makan bakso." Ucap Arga tersenyum lebar.
Kenapa Aira jadi sering merajuk seperti ini, dia juga sering cemburu dan sangat sensitif ada apa dengannya. (Batin Arga.)
"Aku sudah gak mau bakso. Aku mau makan di kamar saja. Bersama intan." Jawab Aira.
"Siapa itu intan?" Ucap Arga bingung.
"Dia temanku!" Jawab Aira jutek.
"Ai, gak bagus sama suami jutek seperti itu."Ucap Arga, ia tidak bisa kalau Aira jutek terhadapnha.
"Hemm sayang aku mau makan disini sama intan." Ucap Aira manja, ia kembali lagi bersikap manja. Meski ia cepat merajuk tapi dia juga cepat baiknya. Kalau dibujuk.
"Iya boleh, tapi siapa itu intan, aku baru mendengar namanya." Ucap Arga penasaran.
__ADS_1
"Dia itu pelayan disini. Dia baik, aku suka berteman dengannya." Ucap Aira tersenyum.
"Baik lah kalau itu mau mu, mulai sekarang dia yang akan menjadi pelayan pribadi mu. Kamu mandi dulu ya ai, aku panggilkan intan." Ucap Arga lembut.
"Iya." Ucap Aira. Ia langsung mengecup bibir Arga. Ia merasa senang karena Arga menuruti permintaa nya. Aira punsegera kekamar mandi.
Arga turun dia melihat Erika dan Bella berada di meja makan, Arga melewatinya begitu saja. Ia menuju dapur kotor untum mencari pelayan yang bernama intan.
"Tante lihat kan, Arga tidak mengabaikan tente, tuh lagi, ngapain dia kedapur kotor, itu pasti di perintah sama Aira." Ucap Bella. Yang tak henti henti nya memanasi Erika.
"Tante bingung harus bagaimana lagi Bel. Semakin hari Arga sepertinya semakin menyayangi istrinya itu." Ucap Erika pasrah.
Sementara para pelayang menjadi sangat gugup dan panik melihat Arga berada di dapur kotor.
"Ada apa tuan." Ucap Bi ijah kepala pelayan.
"Saya mencari yang bernama intan." Ucap Arga datar.
Semua karyawan langsung menatap intan kaget dan kasian. Begitu juga dengan bi ijah.
Intan merasa lutut nya lemas, ia takut Arga akan memarahinya setelah mengetahui dia dan Aira sering ngobrol dan Aira membawa ia berteman.
"Intan kemari." Ucap bi ijah lembut. Ia yakin intan tidak mungkin melakukan kesalahan. Ia cukup mengenal intan. Intan baik dan rajin.
Dengan langkah pelan dan gugup intan menghampiri bi ijah.
"Jadi kau yang bernama inta." Ucap Arga datar. Arga memang tidak mengenal pelayannya, ia hanya mengenal bi ijah saja.
"I.. iya tuan." Ucap intan gugup.
"Terimakasih karna sudah menemani istri ku, Sekarang kau keatas temani istri ku, ingat jangan membuat dia sedih." Ucap Arga,masih dengan ekspresi datar.
Intan dan bi ijah menjadi lega karena intan di panggil karena Aira ingin bersamanya.
"Bi ijah tolong bawakan makanan untuk kami bertiga." Ucap Arga datar, ia pun segera pergi dari dapur itu.
Para pelayan yang lain langsung bergosip kecil, ada yang kagum melihat wajah Arga yang begitu tampan dan sangat perhatian dengan istri nya. Ada juga yang membicarakan intan karena sangat beruntung bisa dekat dengan Aira.
"Sudah sudah jangan bergosip kembali kerja." Ucap bi ijah membubarkan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung😁