Gadis Pilihan Tuan Muda

Gadis Pilihan Tuan Muda
Part 22


__ADS_3

Minggu pagi, Seperti biasa Aira selalu bangun pagi untuk membantu bi Ina, Mereka berdua melakukan pekerjaan itu bersama sama, Ya kalau setiap hari minggu Aira menemani semua pekerjaan bi ina, dari nyuci baju, nyapu, mengepel, nyiram tanaman yang ada di depan rumah, masak, nyuci piring, bahkan terkadang Aira menemani bi Ina belanja kebutuhan dapur.


Aira melakukannya dengan senang hati.


Saat ini Aira sedang memasak dengan bi ina, sambil memasak mereka dua juga bercanda gurau


"Non ganteng loh teman non Aira yang tadi malam." Ucap bi Ina Sambil menaruh sayur di mangkuk.


"Iya bi Aira tau." Ucap Aira, ya memang Fadli ganteng.


"Sepertinya suka sama non Aira ya, cocok loh non ganteng dan cantik, sepertinya nya juga baik."


"Hehehe bi ina, ada ada aja, Aira mau siapin piring dulu bi." Aira mengalihkan pembicaraan bi inah, Ia bingung kalau membahas soal perasaan.


Bi nah pun tidak lagi membahas tentang Fadli, Ia pun menemani Aira menata masakan di atas meja, untuk sarapan pagi.


Arya dan Mila turun secara bersamaan dari tangga atas, mereka berdua selalu tampak romantis, meski sering terjadi pertengkaran kecil.


Mila duduk di samping Arya, sementara Aira ada di hadapan mereka, kalau Riska ia sedang joging, Ia selalu menjaga tubuhnya agar tampak langsing dan sempurna.


Mereka makan dengan tenang. Tiba tiba saja Mila bertanya tanya tentang Fadli disela makan mereka.


"Apa pekerjaan temanmu yang semalam." Ucap Mila, Ia tidak mengingat nama Fadli.


"Masih kuliah tante." Jawab Aira sopan.


"Apa orang tua nya punya perusahaan?" Ya Mila selalu memandang orang dari hartanya.


"Aira tidak tau tante." Aira memang tidak banyak tau tentang Fadli, Ia tulus berteman dengan Fadli. Bukan karma harta, melainkan karena Tali sosok pria yang baik


"Seharusnya kamu tanya, dan tau bebet bobot nya. Tante gak mau kamu membawa sembarang orang datang kerumah ini, bagaimana kalau dia kompolatan pencuri." Ucap Mila, Ia kesal karena Aira tidak mendapatkan informasi tentang orang tua Fadli.


"Mah, sudah ma, sarapan dulu, jangan membahas hal yang tidak penting." Ucap Arya, karena istrinya ini sering sekali bicara sesuka hatinya, tanpa memperdulikan perasaan orang lain.


'Iya pa, lagian mamah gak asal ngomong kok." Ucap Mila yang selalu merasa benar. Mila sambil melirik sinis Aira.

__ADS_1


Aira hanya tersenyum kecut dan kembali melanjutkan makannya, begitu juga dengan Mila, Ia kembali melanjutkan sarapannya.


Sarapan telah usai, Aira dan Bi inah langsung membersihkan meja, dan mencuci piring kotor. Sementara Mila dan Arya sepertinya akan jalan. Entah itu kemana, Arya memang sering menemani Mila jalan, di kala dia tidak sibuk.


Selesai mencuci piring, Aira langsung menyiram taman yang ada di halaman rumah, Ia juga mencuci motornya yang terlihat berdebu.


Gara gara punya bos aneh, motor ini jadi ngak kepakai.( Batin Aira.)


Aira ke kamarnya setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, di lihat nya hpnya yang tergeletak di meja rias. Ia ambil hp itu ternyata mati, Aira segera mengecas hp itu, dan menghidupkannya.


"Pagi ra, joging yu!" isi chat Fadli.


"Maaf baru balas, gue gak bisa, lagi sibuk." Jawab Aira.


"Hey kau dimana!" Isi chat Arga. Isi chat Arga sudah dari jam 12 malam kemarin.


Aira tidak membalas isi chat Arga, Ia rasa tidak perlu, selain ini bukan jam kerja, chat Arga juga sudah terlalu lama menurutnya.


*****


Tok.. Tok.. Tok..


Aira langsung membuka pintu kamarnya. Ia melihat Riska yang berdiri di hadapannya.


"Enak aja lu ya, jam segini tiduran di kamar." Ucap Riska jutek.


Aira diam tidak menjawab, lagian semua pekerjaan sudah dia lakukan.


"Lu, dikantor jangan norak ya, jangan bikin malu keluarga gue." Ucap Riska jutek. Ia takut kalau tingkah laku Aira dikantor akan membuat Arga ilfil dengannya, dan semakin jauh dengannya. Ya meski Riska mengira kalau Arga tidak mengetahui kalau Aira adalah sepupu Riska. Riska langsung pergi dari hadapan Aira. Ia ingin memanjakan tubuhnya agar terlihat semakin cantik.


****


Waktu sudah pukul sepuluh malam, setelah habis telponan dengan ibu dan adiknya, Aira langsung menyetrika baju yang akan dia pake besok.


"Kenapa kemarin malam dia menatapku marah, apa dia akan ikut campur dengan urusan pertemananku." Gumam Aira sambil menggantungkan baju nya di lemari. Ia juga kesal dengan sikap Arga yang semakin hari semakin tidak jelas, Arga selalu melarangnya ini dan itu, bahkan Aira tidak punya teman dikantor, karena ia hanya keluar dari ruangan Arga di saat jam makan siang, dan di jam pulang, itupun Rey selalu mendampingi Aira. Makanya Aira tidak punya teman sama sekali.

__ADS_1


Kemarin malam Aira sempat melihat kemarahan wajah Arga yang menatapnya tajam. Makanya Aira takut dan segera kabur dari restoran itu.


"Pusing gue, punya bos yang semena mena seperti itu." Guamam Aira, Ia menjauhkan tubuhnya pelan di kasurnya.


"Tuan Arga punya pacar gak sih, selama ini gue gak pernah lihat ia berhubungan dengan wanita."


"Haaa kenapa gue jadi mikirin pria jahat itu, gak ada urusannya sama gue." Akhirnya Aira memutuskan untuk tidur. Perutnya juga sedikit sakit karena sedang datang bulan. Dengan tidur akan mengurangi rasa sakit itu, dan mungkin akan hilang.


Sementara Arga ia masih kesal mengingat Aira yang bergoncengan dengan Fadli, bahkan Aira tertawa lepas saat bersama Fadli.


Arga tidak bisa tidur memikirkan Aira dan fadli, Ia tidak sabar untuk besok pagi.


"Apa dia lupa dengan ucapanku!" Ucap Arga sambil mondar mandir di balkon kamar nya.


"Aku sudah mengatakan, kalau dia tidak boleh naik motor kalau itu bukan dengan ku."


"Ahhhhh... Kenapa dia membuat ku seperti ini!"


"Bahkan sampai sekarang dia tidak membalas chat ku, berani sekali dia."


Arga mengacak nya gak rambutnya, memikirkan Aira, Ia seperti seorang yang sedang putus cinta.


Arga kembali masuk ke kamarnya, karena cuaca yang semakin dingin, Ia langsung membanting tubuhnya di kasur besar empuknya itu.


Dia pejamkan matanya terlintas wajah Aira yang lugu dan polos, yang selalu menuruti ucapannya, tapi ia kembali kesal saat muncul bayangan fadli dan Aira berboncengan naik motor.


Arga langsung duduk ia memukul kasur empuk nya itu, sungguh Aira membuat nya tidak tenang seperti ini.


Bahkan rasa Arga terhadap Aira melebihi saat ia bersama bela. Jika dulu Arga dan Bella saling menyukai, membuat ia dengan mudah menjalin hubungan dengan bella, beda dengan Aira, Arga merasa hanya dia yang menyukai Aira, sementara Aira tidak.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2