
Menjalani hari hari sebagai pacar Tuan muda pemilik perusahaan tempat ia bekerja membuat Aira serba salah, Ia bingung terhadap perasaan Arga kepadanya, karena Arga masih saja sering mengatai dia bodoh, dan sering meneriakinya. Andai saja Aira bisa memutus hubungan pasti ia sudah lakukan.
Astaga lima puluh juta, apa dia tidak salah memberikan aku gaji sebesar ini, pekerjaan ku juga tidak ada dikantor ini, gila dasar pria tidak waras.
Ini adalah gaji pertama yang Aira dapatkan, Ia kaget melihat nominal yang langsungnya kirimkan padanya, Aira mengecek m-banking nya. Bukannya senang Aira malah marah, karena gaji ini tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan. Ini terlalu besar.
"Tuan! apa yang tuan lakukan!" Aira bangkit dari sofanya, Ia menghampiri Arga yang sedang sibuk dengan laptop nya.
"Apa, kau tidak lihat aku sedang bekerja." Jawab Arga ketus.
Kenapa wajahnya, apa dia marah? ( Batin Arga)
"Bukan itu tuan, tuan mengirim saya uang terlalu banyak, saya tidak mau!" Ucap Aira dengan wajah yang kesal, tapi Arga malah tersenyum melihatnya.
"Kau sekarang berani membentakku, baru jadi pacar beberapa hari, kau sudah berani kasar kepadaku." Ucap Arga, Ia sengaja menggertak Aira, Ia ingin lihat apa gadis ini berani dengannya.
"Hehehe tidak tuan, saya minta maaf. Saya cuma kaget melihat gaji yang tuan kirimkan, itu terlalu banyak, saya tidak pantas menerimanya." Ucap Aira lembut dengan senyumnya, Ia takut tindakannya barusan membuat Arga marah padanya.
Arga semakin tersenyum melihat kelakuan Aira, bagaimana bisa Aira merubah sikapnya dalam sekejap.
"Itu gaji sekalian bonusmu, karena kau selalu datang tepat waktu, tidak pernah membuat masalah, dan tidak pernah izin, semua karyawan disini akan mendapatkan gaji besar jika mereka melakukan tugasnya dengan baik." Ucap Arga panjang lebar, supaya Aira mengerti, Ia tau Aira tidak akan mau menerima uang yang dikasih cuma cuma. Ya semua yang bekerja di sini memang mendapatkan bonus tambahan jika mereka melakukan pekerjaan dengan baik, tapi bonus mereka tidak sebesar Aira.
"Tapi tuan...
"Kau membantah ku? kalau kau keberatan kirim saja semua uang itu kembali, aku tidak mau menerima setengah atau seperempatnya!" Ucap Arga denga nada mengancam.
Aira panik mendengar ucapan Arga, mana mungkin ia mengirim kembali semua uang itu, Ia membutuhkan uang itu, sudah banyak rencana yang ia mau lakukan, Aira juga harus segera mengirim uang buat ibu dan adiknya, karena sebentar lagi adikknya akan lulus sekolah, pasti butuh uangan banyak untuk kuliah.
"Hehehe tidak tuan, sebenarnya saya mau mengucapkan terimakasih karena tuan sudah berbaik hati memberikan saya gaji yang sebesar ini." Ucap Aira dengan senyum terbaiknya, semakin pandai ia menyenangkan hati Arga dengan perkataannya. Walau itu tidak sesuai dengan hatinya.
Aira kembali ke sofa tempat ia biasa duduk, Ia langsung mengirimkan uang adiknya sebesar lima belas juta, Aira juga mengirim uang untuk feby dan vita masing masing dua juta. Aira mengingat kebaikan dua sahabatnya itu yang selalu membantu nya di kala dia sedang susah.
Aira sekarang di perbolehkan menggunakan hp, karena diam diam Arga sudah memblokir nomor Fadli dari hp Aira. Arga melakukannya saat Aira pergi ke toilet dan meninggalkan hpnya di atas meja. Dengan cepat Arga mengecek hp Aira, ya tidak ada nomor pria lain selain Fadli. Arga sempat kesal melihat isi chat Fadli yang terlalu perhatian kepada Aira. Meski sekarang Aira menjadi pacarnya, tetap saja ada rasa takut jika Aira meninggalkannya dan pergi memilih bersama Fadli.
Setelah mengirim uang kepada kedua sahabatnya itu mereka langsung melakukan video call, mereka kaget dan senang mendapatkan uang cuma cuma dari Aira. Tapi sebelum mengangkat Aira minta ijin dulu kepada Arga.
Aira berjalan ke kursi Arga.
" Tuan." Ucap Aira gugup. Ia sebenarnya takut mengganggu saat Arga sedang sibuk dengan laptop nya.
__ADS_1
"Ya." Jawab Arga singkat. Arga tau kalau Aira mau minta ijin untuk mengangkat vc itu, karena meski suara nya kecil tapi Arga bisa mendengarkan suara telpon itu.
"Apa saya boleh mengangakat vc dari teman saya?" Ucap Aira hari hati.
" Iya." Jawab Arga singkat
"Makasih tuan." Aira langsung kembali ke sofanya, panggilan itu sempat berhenti tapi temannya menelponnya ulang. Dengan cepat Aira mengakat nya. Mereka melakukan video call bertiga.
"Ra, lo kok kirimin gue uang ra? banyak lagi, lu sudah kaya di sana pake kirimin gue yang segala lagi." Ucap Vita, dia memang sedikit tomboy dan ngecas saat bicara.
"Ya, gue juga dikirmin uang, sudah kaya kali dia ya, tapi makasih lo ra, lu tau aja gue lagi bokek." Ucap Feby.
Sementara Aira tidak menjawab pertanyaan mereka, bahkan hpnya ia taruh di sofa, agar kedua temannya itu tidak melihat kalau Arga ada disampingnya. Arga tadi mengikuti Aira saat Aira kembali ke sofa, karena ia ingin tau seperti apa sahabat pacar nya ini.
"Tuan apa yang tuan lakukan disini! tema saya bisa melihat tuan." Aira berkata dengan panik dan juga kesal.
"Kau malu mengakui aku sebagai pacar mu, kau tidak mau mereka tau!" Arga jadi kesal dengan perkataan Aira, bagaiman mungkin Aira malu mengakuinya sebagai pacar. Bahkan diluar sana banyak yang menginginkan menjadi pacarnya.
"Bukan begitu tuan...
Aira menghentikan ucapannya mendengar ucapan vita, yang membuat wajah Arga semakin marah.
"Woi ra mana wajah lu. Suara siapa tu ra, lu gak sedang menggoda om om kan ra hahaha " Teriak Vita , sambil tertawa ngakak.
Aira langsung mematikan hpnya takut kalau kedua temannya ini bicara yang bukan bukan. Ya Vita memang sering bercanda dan berbicara ceplas ceplos
"Berikan hp itu! berani nya dia berbicara lancang seperti itu." Arga tidak terima dengan ucapan Vita barusan. Ia menanggapinya serius.
"Tuan jangan marah, mereka hanya bercanda, jangan marah mereka tuan mereka sahabat saya, yang selalu membantu saya, saya tidak punya teman lagi selain mereka." Ucap Aira panjang lebar dengan mata yang berkaca kaca. Ia takut Arga akan merusak persahabatan mereka.
Arga membuang nafasnya kasar, Ia jadi merasa bersalah melihat Aira jadi sedih seperti ini.
"Aku tidak akan marah. Tapi perkenalkan diriku dengan temanmu itu." Ucap Arga dengan wajah yang masih datar.
Hp Aira kembali berbunyi kedua temannya itu kembali menelpon. Arga langsung memberi isyarat agar Aira segera mengangkat Telpon itu.
"Lama banget ra lu ngangkatnya." Ucap Vita.
"Hehe maaf Vit, ada urusan sebentar tadi." Jawab Aira.
__ADS_1
"Eh ra, tadi ada suara laki, lu dimana?" Ucap Feby.
"Eh ra, makin cantik aja lu, lu ngapa kirimin gue uang, uda kaya lu." Ucap Vita, padahal Aira belum menjawab pertanyaan feby.
"Haa masa sih, ya gue kirim lu berdua uang sebagai balas budi gue, lu berdua kan sering bantu gue, kebetulan gue dapat bonus, makanya gue bagikan lu berdua. Gue lagi dikantor ni." Ucap Aira, Ia sedikit gelisah karena Arga terus meliriknya, Arga tidak sabar ingin di perkenalkan dengan teman Aira.
Karena Aira tidak kunjung memperkenalkan nya Arga tiba tiba saja merangkul bahu Aira,dan mendekatkan wajahnya dengan Aira.
Deg.. Deg... jantung Aira berdetak kencang.
"Tetap seperti ini! ini perintah." Ucap Arga pelan di telinga Aira. Arga langsung mengambil hp itu, Ia yang memegang hp itu agar wajah mereka berdua terlihat jelas. Wajah Aira langsung memerah sepeti udang rebus, Ia malu dan juga gugup.
"Aaaaaaa... Astaga ra, itu siapa? ganteng amat." Ucap feby dan vita serempak bahakan suara mereka berdua seperti orang yang sedang berkelahi menanyakan Agra.
"Hey." Ucap Arga sambil melambaikan tangannya, sangat kaku, karena Arga tidak pernah menyapa orang asing duluan, apalagi bersikap seperti ini.
"Hey juga." Ucap Feby dan Vita dengan bersamaan. Bahkan mereka berdua memberikan senyum termanisnya. Sementara Aira ia merasa jengkel dengan sikap kedua temannya ini.
Bagaimana mungkin mereka berdua menjadi centil sepeti ini.( Batin Aira.)
"Saya Arga, pacarnya Aira." Ucap Arga berbicara sangat formal.
"Astaga ra, lu pakai pelet ya hahahaha." Ucap Vita sambil tertawa lebar.
"Iya, tuh si Aira pakai dukun apa ya, sekali dapat cowo cakep kaya gini." Ucap feby, mereka berdua, sambil memuji ketampanan Arga.
Arga kesal mendengar perkataan kedua orang ini. Yang terus mengolok Aira. Untung nya saja Aira terus mengelus ngelus belakang Arga agar tidak marah. Bahkan ia membisik pelan di telinga Arga. Membuat Arga ingin menciumnya.
"Mereka bercanda." Ucap Aira pelan.
"Woi ra, kalian dua jangan sweet gitu dong depan kita, kita jadi iri."
" Sudah dulu yah, nanti malam gue telpon lagi." Ucap Aira ia takut kalau kedua temannya ini menjadi semakin aneh.
"Woi ra, nanti dulu dong." Ucap Vita.
"Ya ra, lu ni, gue masih mau lihat wajah tampan cowo lu itu. Gue kok kaya gak asing ya lihat wajahnya." Ucap Feby. Karena Feby sering membaca berita dan wajah Arga sering muncul sebagai pengusaha mudah yang sukses.
Dengan cepat Aira memencet tombol merah agar panggilan itu segera mati. Arga langsung menghadap ke Aira. Wajah mereka langsung berhadapan. Aira langsung menunduk malu, Ia tidak bisa bergerak karena Arga langsung memeluk pinggangnya erat.
__ADS_1
.
.