
Akhirnya hari yang ditunggu tunggu pun tiba. Arga, Rey dan keluarga besar mereka sedang berada di rumah sakit, menunggu Aira yang akan melahirkan seorang anak penerus Arga.
Arga ingin sekali menemani Aira di dalam ruanagan, tapi Erika dan ibu Hesti melarangnya. Mereka berdua takut. Jika Arga akan tambah membuat para suster dan dokter menjadi kacau.
Karena Arga pasti akan tinggal diam saat melihat Aira kesakitan.
"Mi! kenapa lama sekali! apa Aira akan baik baik saja!" Ucap Arga dengan wajah khawatirnya.
"Kamu yang tenang sayang. Semua akan baik baik saja. Kamu jangan panik gitu." Ucap Erika.
"Iya nak Arga. Kamu berdoa saja yang banyak. Yakin Aira dan bayi kalian akan baik baik saja." Ucap ibu Hesti ikut menenagkan Arga.
Karena sikap Arga yang membuat mereka pusing. Dari tadi mondar mandir dengan wajah kusut nya.
"Bu, Arga takut bu, Aira pasti kesakitan. Arga mau masuk bu. Bagaimana kalau dokternya ada niat jahat sama Aira." Ucap Arga membuat yang mendengarnya menarik nafas dalam.
"Arga kamu ini apaan sih! Mana mungkin dokternya berani macam macam dengan krluarga kita. Sudah kamu jangan ngaur, lebih baik kamu berdoa biar Aira dan anak kalian semangat." Ucap Erika sedikit kesal. Erika sebenarnya juga gugup, ia juga khawatir dengan Aira. Erika takut jika terjadi hal buruk dengan Aira. Ia tidak bisa membayang kan betapa frustasinya Arga.
"Kamu duduk dulu yang tenang ya. Jangan pikir yang macam macam." Ucap Hesti sambil menuntun Arga untuk duduk.
"Rey, apa kau tidak salah pilih dokter. Apa yang didalam sudah dokter terbaik semua!" Ucap Arga. Kali ini Rey yang ia tekan.
"Iya tuan. Saya sudah mendatangkan dua dokter perempuan dari Amerika. Saya yakin dokter yang saya pilih adalah dokter yang terbaik." Ucap Rey.
"Awas saja kau, kalau sampai Aira kenapa kenapa!" Ucap Arga kesal.
"America?" Batin Bima. Ia sedikit kaget, ternyata Arga sampai memanggil dokter dari luar negri.
"Arga! mami sudah bilang, kamu yang tenang, jangan buat tambah pusing gini!" Ucap Erika. Ia begitu kesal melihat tingkah Arga.
Tak lama kemudian dokter yang memang bertugas dirumah sakit ini, yang juga ikut serta menangani Aira keluar.
__ADS_1
Arga langsung berdiri menghampiri dokter itu. "Dok gimana keadaan istri saya!" Ucap Arga dengan khawatir.
"Selamat tuan atas kelahiran anak Tuan. Istri dan anda anda anak tuan baik baik saja." Ucap Dokter itu.
"Tuan boleh masuk. Melihat Istri dan anak tuan." Ucap dokter perempuan itu dengan sopan.
Anak Arga sudah tampak bersih dan sudah di bedong sekarang ia sudah berada di tangan Aira.
Ruangan yang Aira tepati sangat lengkap jadi tidak perlu lagi harus pinda pindah ruangan. Ruangan ini memang sudah khuaus di desain untuk Aira saat nanti lahiran.
Sebenatnya sudah 1 jam yang lalu Aira selesai melahirkan. Tapi ia tidak mau Arga masuk dalam keadaan ia masih lemas. Aira ingin melihat kan kalau semua nya baik baik saja.
Makanya saat anak nya dan dia sudah tampak rapi baru ia menyuruh dokter untuk memanggil Arga.
Arga langsung masuk dan mencium dahi Aita dengan air mata yang bercucuran.
"Ai, apa kau baik baik saja." Ucap Arga dengan rasa takut. Tanpa melihat bayi yang ada di tangan Aira.
"Aduh Arga!! kamu ini bagaimana sih! kamu ngak lihat apa anak kamu itu, malah nangis nda jelas!" Ucap Erika kesal. Karena Arga tidak menghiraukan kehadiran anaknya.
Erika langsung memisahkan Arga dari Aira, Erika takut kalau cucunya terjepit oleh Arga.
"Aku baik baik aja sayang. Coba lihat anak kita juga sehat. Ganteng seperti papahnya." Ucap Aira dengan senang nya.
Arga begitu senang mendengar ucapan Aira yang memuji dirinya.
"Selamat ya Aira dan Arga kalian sudah menjadi orang tua. Nak Arga sekarang kamu azani anak kamu." Ucap Hesti. Ia begitu senang melihat keadaan Aira dan cucunya baik baik saja.
Arga pun mengikuti pintah Hesti, ia langsung mengazani bayi nya.
***
__ADS_1
Sementara Rey langsung memerintah kan dokter untuk ikut dengan ia keluar ruangan sebentar.
"Dok saya minta untuk rawat Aira dan bayi nya sebaik mungkin. Berikan nona Aira obat terbaik, jangan sampai ada keluhan dari nona Aira." Ucap Rey tegas.
"Baik tuan Rey. Tanpa tuan Rey minta, kami akan memberikan yang terbaik untuk nona Aira." Jawab dokter itu. Mereka pun kembali masuk.
Meski dokter dan suster lainnya sudah ada yang keluar dari ruangan Aira. Tapi masih ada satu dokter dan dua suster yang akan tetap stey di dalam ruang Aira. Ini perintah dari Rey.
Agar jika terjadi sesuatu Aira dan bayi nya langsung di tangani.
***
Erika tidak henti hentinya memandang cucu pertamanya itu. "Duh ganteng banget cucu nya oma." Ucap Erika dengan gemas dengan volume kecil.
Begitu juga dengan Hesti, ia sangat senang apalagi melihat cucu nya yang sehat dan hanteng seperti itu.
Tapi Arga malah sibuk bertanya tentang Aira, ia terus berada di sampaing Aira.
Membuat Aira gerah di buat nya. Tapi mau bagaimana lagi. Aira tidak bisa berkata apa apa. Ia juga tidak mau membuat Arga kecewa sama perkataannya.
"Sayang, kenapa kau malah sibuk dengan ku. Aku baik baik saja yang. Kamu kok ngak lihat anak kamu dari tadi." Ucap Aira lembut.
"Dia kan baik baik saja Ai. Yang perlu dibkhawatirkan itu. Kamu. Keadaan kamu. Bagaimana? apa ada yang sakit?" Tanya Arga lagi.
Perawat dan dokter sampai merasa bingung melihat. Arga yang begitu perhatian sama Aira. Bhakan anaknya tidak terlalu ia perhatikan.
"Bagaimana kalau sampai sesuatu terjadi sama non Aira. Mungkin saya bisa langsung di bunuh sama tuan Arga." Batin suster
Bersambung....
Maaf ya baru up lagi.🙏🙏🙏
__ADS_1
Makasih ya buat yang sudah mampir dan sudah dukung...
Makasih banyak buat kalian semua😍😍😍