Gadis Pilihan Tuan Muda

Gadis Pilihan Tuan Muda
Part 21


__ADS_3

Hari yang di tunggu oleh fadli akhirnya tiba, tepat jam 7 malam fadli sudah pergi dari apartemennya menuju rumah Aira. Ya malam minggu Fadli dan Aira akan jalan bersama.


Aira sudah mendapatkan izin dari Arya, tapi Mila memberi izin kalau fadli yang datang sendiri meminta izin kepada mereka. Mila penasaran dengan sosok Fadli.


Ting nung....


Ting nung...


Bi inah segera kedepan melihat orang yang sudah memencet bel.


Aira merasa gugup karena takut kalau tante nya akan ngomong yang macam macam dan menyinggung perasaan Fadli.


"Temannya non Aira ya?" Tebak bi Ina, menyambut dengan sopan.


"Iya bi, saya fadli, Aira nya ada?"


"Iya ada, silahkan masuk tuan, non Aira sudah ada didalam."


Fadli pun mengikuti bi inah sampai menuju ruang tengah, disana sudah ada Arya, Mila dan Aira.


"Selamat malam om."


"Selamat malam tante, saya Fadli temannya Aira." Ucap fadli sopan.


"Malam." Ucap Arya sambil sedikit mengangguk kan kepalanya.


"Malam juga, oh jadi kamu yah temannya Aira. Silahkan duduk." Jawab Mila dengan ramah.


"Dari mana kenal Aira?" tanya Mila.


Dari tampilannya sepertinya anak ini orang kaya. (Batin Mila, sambil memperhatikan dari atas sampai bawah.)


"Saya teman waktu sekolah tante." Jawab Fadli sopan


"Hoo disini sama siapa?" Mila terus menggali informasi tentang Fadli.


"Saya tinggal sendiri di apartemen tante." Jawab Fadli.


"Memang orang tua kamu dimana?" Mila tidak henti hentinya bertanya.


"Sudah ma, Biarkan mereka berdua jalan nanti keburu malam." Ucap Arya, karena pertanyaan Mila semakin dalam. Ia juga merasa tidak enak dengan sikap istrinya, yang terlalu kepo.


"Tidak apa om, orang tua saya ada disini, cuma saya lebih suka tinggal di apartemen." Jawab Fadli jujur.


"Hoo gitu, ya udah kalian dua jalan sana, hati hati yah, jangan pulang larut malam." Jawab Mila, sebenarnya banyak yang ia ingin katakan. Tapi ia takut jika Arya memarahinya, karena Arya sudah memberikan kode, agar Mila tidak lagi banyak bertanya.


Betul dugaan saya dia anak orang kaya, kerja apa orang tuanya, sebesar apa perusahaannya, tapi dia tidak mungkin bisa mengalahkan kekayaan Arga. (Batin Mila.)


Fadli pun berpamitan dengan sopan. Ia dan Aira pun pergi meninggalkan rumah itu.


Fadli menggunakan motor, bukan ia tidak punya mobil, tapi Aira yang memintanya agar menggunakan motor, Aira ingin menikmati udara segar malam ini.

__ADS_1


Aira tampak cantik menggunakan kemeja oversaize crem yang panjangnya sepinggul, dan menggunakan celana kulot lepis berwarna hitam. Ia juga menggunakan sepatu kets berwarna hitam.


Fadli membawa helm couple dari rumah, berwarna hitam, Ia memasangkan helm itu kepada Aira. Mereka berdua tersenyum dengan penampilan mereka, tidak janjian tapi stail baju mereka sama, hanya perbedaan di warna, Aira menggunakan warna cream sedangkan Fadli menggunakan kemeja coklat. Tapi dari celana hingga sepatu warnanya sama.


"Kita seperti sepasang kekasih." Ucap fadli.


Aira hanya tersenyum, Ia langsung menaiki motor itu. Motor pun mulai berjalan, tidak terlalu laju dan tidak terlalu pelan, mereka berdua sangat menikmati udara malam ini, Fadli dan Aira berbincang bincang hangat mengingat masa sekolah dulu.


Dulu fadli murid yang nakal bahkan ia sempat dua tahun tidak naik kelas, bukan dia bodoh hanya saja dia malas kesekolah, dan selalu bolos, bahkan saat ulangan penaikan kelas ia tidak turun, tapi semua itu berubah sejak ia mengenal Aira, Aira membawa hal yang positif kepada Fadli. Fadli sangat kagum dengan sosok Aira yang mandiri dan baik hati, Sebagai perempuan juga Aira bukan tipe yang centil dan suka tebar pesona, makanya Fadli sangat menyukai Aira. Ia berusaha menjadi pria yang baik untuk Aira.


"Kok perasaan gue jadi merinding gini ya." (Batin Aira.)


Dua orang pria yang ada di mobil menatapnya dingin, Hati nya memanas, tangannya menggepal erat, ingin rasanya ia menerkam kedua orang ini yang sedang asik berbincang di atas motor, Ya dua pria itu adalah Arga dan Rey, mereka bertemu dengan Aira di lampu merah.


Aira tidak menyadari bahwa yang disamping motor ini adalah mobil Arga. Ia sedang asik berbincang dengan Fadli, cuma perasaannya saja seperti tidak karuan. Lampu hijau pun menyala, Fadli segera menjalankan motornya, pertama tama Fadli akan membawa Aira makan malam, Fadli pun mengendarai motornya ke sebuah restoran.


"Restoran apa ini!" Ucap Arga kesal. Arga dan Rey terus saja mengikuti Aira diam diam.


"Rey katamu mereka tidak punya hubungan, terus apa ini! bahkan mereka mengunakan helm dan baju yang serasi." Ucap Arga lagi.


"Maaf tuan, tapi mereka memang tidak punya hubungan apa apa, itu informasi yang saya dapatkan. Dari orang terdekatnya."


"Apa kau yakin?" Untuk pertama kalinya Arga meragukan Rey


"Ya tuan saya yakin."Rey tetap percaya diri.


Mereka berdua pun ikut masuk ke restoran itu, mereka memilih kursi paling pojok tempat yang aman agar tidak terlihat oleh Aira.


Arga melihat Aira tertawa bahagia saat bersama Fadli, sedangkan kalau dengan dirinya, Aira selalu memasang senyum terpaksa.


"Saya tidak tau tuan." Jawab Rey, karena tempat duduk mereka memang jauh dari Aira.


Pelayan pun datang membawakan menu untuk kedua pria yang sedang mengutit Aira.


"Selamat malam, Aaaaaa ini tuan Arga dan tuan Rey kan." Pelayan itu teriak histeris saat melihat Arga dan Rey di depannya, ya ini buka restoran mewah ini hanya sebuah restoran biasa, makanya pelayan itu kaget, selain melihat dengan dekat ketampanan kedua pria ini, dia juga tidak menyangka kalau Arga dan Rey akan makan di restoran ini.


Orang orang mulai penasaran, kenapa pelayan itu bisa sampai teriak, semua mata tertuju pada meja mereka, begitu juga dengan Aira, Ia langsung melihat Arga dan Rey di meja itu, dengan cepat ia membawa fadli keluar dari restoran itu.


Aira langsung menarik tangan Fadli agar keluar dari restoran itu.


"Ada apa ra? makanannya belum datang." Ucap fadli ia menahan Aira.


"Aku tidak suka makan di sini." Ucap Aira, Ia memaksa Fadli agar mau keluar dari restoran ini. Aira seperti orang yang kepergok sedang selingkuh. Ia panik


Fadli pun mengikuti kemauan Aira, mereka berdua pun keluar dari restoran itu, dan langsung tancap gas ke tempat yang lain.


Sementara Arga ia kehilangan jejak Aira karena banyak para wanita yang ingin melihat wajahnya dari dekat.


Ah sial kemana gadis bodoh itu ( Batin Arga) Ia kesal karena orang orang mengeruminunya, Ia sampai tidak bisa lihat kalau Aira sudah pergi dari restoran ini.


Arga dan Rey langsung keluar dari restoran itu, mereka tidak menghirau kan orang orang yang menyapanya. Bahkan ia memasang wajah dinginnya, mereka menerobos orang orang, bahkan ada yang terjatuh, karena Arga dan Rey terus saja berjalan dengan langkah besar, agar cepat keluar dari restoran itu.

__ADS_1


Fadli dan Aira masih mengelilingi jalan, Aira beralasan ingin memakan bakso yang ada dipinggir jalan, Fadli pun mengikuti kemauan Aira. Sebenarnya dari tadi sudah melewati tiga gerobak bakso, tapi Aira beralasan tidak mau makan bakso yang ada di tempat itu, Aira memilih sendiri tempat yang ia inginkan, walau sebenarnya Aira juga tidak tau, tapi Aira mencari tempat yang aman agar tidak dilihat oleh bosnya, yaitu Arga.


"Ya di situ, besok di situ enak." Ucap Aira saat melihat gerobak bakso yang ada dipinggir jalan. Aira juga mulai merasa tidak enak dengan Fadli, karena susah banyak gerobak bakso yang mereka lewati.


"Pak bakso nya dua ya." Ucap fadli saat mereka sudah sampai Di tempat yang Aira tunjukkan. Fadli kembali duduk di samping Aira.


"Kamu kenapa ra?" Tanya fadli lembut, karena Ia melihat Aira seperti orang panik.


"Oh, gak papah kok, kamu gak keberatan kan aku ajak makan disini?" Jawab Aira, Ia juga mencoba untung tenang. Selain itu juga merasa tidak enak, karena telah membawa fadli makan di pinggir jalan seperti ini.


"Gak papa kok ra, santai aja, yangpenting sama kamu." Jawab fadli, Fadli memang sering sekali mengglobal Aira, walau di tempat ini cuma ada satu meja panjang dan dua kursi panjang yang berhadapan. Fadli tidak masalah, ucapannya bukan hanya sekedar gombal. Tapi ia serius, berada di dekat Aira memang membuatnya nyaman.


Bakso yang di pesan pun datang, mereka berdua menghabiskan bakso itu dengan lahab.


Setelah selesai memakan bakso dan meminum es teh, Fadli dan Aira juga mampir ke pasar malam. Mereka menaiki kincir angin, memakan es cream. dan mencoba jajanan pasar, mereka berdua sangat menikmati kebersamaan mereka.


"Oh ya, aku mau beli ikat rambut." Ucap Aira sang mereka melewati penjual aksesoris, Ia mengingat Arga yang menyuruhnya untuk mengikat rambut nya.


"Gak jadi deh." Ucap Aira tiba tiba, Ia sadar kalau dia tidak membawa uang, karena dari tadi Fadli lah yang mentraktir nya.


"Kenapa ra, ambil aja." Fadli heran


"Gue lupa bawa uang." Jawab Aira


Bukan lupa tapi gue gak punya uang. (Batin Aira)


"Lain kali aja, ayo pulang) Ucap Aira, Ia langsung menarik tangan Fadli. Fadli mengikuti Aira, Ia senang Aira menggandengnya, Tapi bukan Fadli namanya jika keinginan Aira tidak ia penuhi.


"Tunggu sini bentar ya ra, kabag kemana mana, gue ke toilet bentar." Ucap Fadli, padahal ia ingin kembali ketempat orang penjual aksesoris itu, untuk membelikan Aira ikat rambut.


Tidak butuh lama Fadli sudah kembali ke parkiran motor membawa kresek yang berisi ikat rambut, Ia membeli 10 ikat rambut dengan warna yang berbeda. Ia langsung memberikan nya pada Aira.


"Loh, apa ini?"


"Hadiah buat kamu, karna sudah mau jalan bareng aku." Jawab Fadli.


Aira membuka kresek itu, Ia melihat ikat rambut yang ia mau tadi.


"Makasih ya Fad, nanti gantian gue yang traktir loh." Ucap Aira.


"Oke, aku tunggu." Jawab Fadli senang, dengan begitu berarti ia punya kesempatan jalan bareng Aira lagi.


Fadli pun mengantar Aira pulang, karena sudah hampir jam sebelas malam.


Sementara Arga ia sangat sangat marah, Ia merasa kalah denga Fadli, padahal kalau dilihat dari sisi manapun ia lebih dari Fadli, tapi kenapa Aira begitu nyaman saat bersama Fadli.


.


.


.

__ADS_1


* Makasih yang buat yang sudah mau membaca novel ini, dan memberi dukungan.*


Buat kalian semua love banyak banyak 🥰🥰🥰


__ADS_2