
Aira sudah berada di pintu Apartemennya, ia berharap Arga sudah pulang dan tidak menunggunya.
Huuu ngapain juga dia masih disini.( Batin Aira )
Saat Aira membuka pintu ia langsung melihat Arga berdiri tepat di depannya.
"Kenapa dengan wajahmu. Apa kau tidak suka melihat aku ada disini." Ucap Arga sinis.
"Tidak tuan, saya suka saya hanya kaget saja, karena tidak biasanya tuan berada di apartemen saya." Ucap Aira dengan senyumnya. Ia tidak mau Arga tau kalau ucapan Arga itu benar, ya Aira memang risih jika Arga berda diapartemnenya.
"Aku lapar." Ucap Arga, ia ingin mengajak Aira makan diluar.
"Apa tuan mau saya masak kan?" Ucap Aira bersemangat, ia ingin sedikit berguna untuk Arga.
"Gak, aku ingin kita makan diluar." Jawab Arga ketus.
"Saya capek tuan, seharian habis jalan." Ucap Aira dengan wajah memelas, Aira tidak capek cuma ia merasa malas saja jalan bersama Arga.
"Lain kali aku tidak akan mengizin kan mu." Ucap Arga, ia membuang nafasnya kasar.
"Kalau gitu, saya akan masak untuk tuan." Ucap Aira semangat.
"Tidak, aku akan menyuruh Rey untuk mengantar makanan kesini." Ucap Arga masih dengan wajah yang kurang bersahabat.
"Tuan saya ingin memasak untuk tuan. Saya jamin masak kan saya pasti enak."Ucap Aira, ia tetap berusaha memohon kepada Arga.
"Ya, Tapi awas saja kalau tanganmu terluka akibat pisau. Akan aku tutup semua pabrik pisau itu." Ucap Arga serius.
"Iya tuan, saya akan hati hati." Ucap Aira dengan senyumnya.
Sedikit ngeri Aira mendengar ucapan Arga yang lebay itu, tapi Aira yakin ia sudah sering memasak dan tidak mungkin ia akan terluka dengan pisau yang sering ia gunakan.
"Mandi sana! setelah itu baru kau boleh memasak untukku." Ucap Arga, ia langsung kembali ke sofa sambil sandaran.
Aira langsung bergegas ke kamarnya, ia langsung mandi dengan cepat, ia tidak mau Arga menunggunya terlalu lama. Setelah mandi Aira menggunakan baju oblong putih dengan celana pendek hitamnya tadi. Aira menggunakan celana itu karena tadi sudah terlanjur keluar dari lemarinya. Ia langsung bergegas keluar dengan handuk yang masih di atas kepalanya.
Aira langsung ke dapur untuk menyiapkan bahan makanan, ia akan memasak nasi goreng untuk Arga, Aira mulai memotong bawang dan juga sosis yang akan di campur kan di dalam nasi goreng. Tiba tiba saja tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Tau tuan, apa yang tuan lakukan." Ucap Aura gugup
"Aku ingin melihat mu masak." Jawab Arga sambil menaruh wajahnya di bahu Aura.
__ADS_1
"Tapi saya susah bergerak tuan. Tangan saya bisa taurus pisah kalau tuan terus memeluk saya." Ucap Aira jujur. Karena ia merasa gugup dan tidak konsentrasi saat Arya memeluknya.
"Awas saja kalau sampai pisau ini membuat mi luka." Ucap Arga, ia mencium pipi Aira, dan kembali kesofa.
Kenapa aku jadi deg degan gini, ah kenapa dia seenaknya mencium aku. Dasar pria jahat.
Aira kembali melakukan aktivitas memasaknya, dengan perasaan yang aneh pada jantungnya.
Sementara Arga, ia merasa sedikit prutasi, sebenarnya ia ingin melakukan hal yang lebih kepada Aira, melihat penampilan Aira yang seksi dimatanya, tapi ia juga tidak mau kalau Aira sampai terluka karena perbuatannya. Makanya Arga mengurung niatnya.
Ia pun menyalakan tv untuk membuang rasa yang sudah bergejolak dalam dirinya.
kring...
kring..
"Ya mi." Arga langsung mengangkat telepon dari Erika.
"Kamu dimana? pulang sekarang ada hal penting yang ingin mami bicarakan." Ucap Etika, ia penasaran dengan keberadaan Arga.
"Arga di tempat calon istri mi." Jawab Arya santai, ia selalu menyebut Air calon istri diserang Erika, supaya Etika paham kalau Arga serius dengan Aura.
"Iya sebentar mi, Arya masih menunggu calon istri masak dulu. Selesai makan Sega langsung pulang. Mami sabar ya." Ucap Arga, ia memang selalu bersikap lembut kepada maminya.
"Arga! ngapain kamu makan disitu, yang ada nanti perutmu sakit makan masakan gadis penjilat itu! " Ucap erikabertambah marah.
Arga menutup matanya dan membuang nafas perlahan, ia tidak mau terpancing dengan ucapan Erika, ia tidak mau bertengkar dengan Erika karena Aira.
"Sudah dulu ya mi, sebentar Arya pulang." Ucap Arya, ia langsung menutup panggilan itu, sebenarnya ia marah karena sikap maminya yang selalu melihat orang dengan status sosialnya.
Etika merasa sangat marah, karena Arga lebih memilih Aura ketimbang dirinya, Ia merasa Aura membawa pengaruh buruk kepada Arga.
Masakan sudah selesai, Aira membuat nasi goreng dengan telor ceplok, ia sudah menyiapkan di atas meja. Ia pun segera meranggi Arya.
"Tuan makanannya sudah siap." Ucap Aira.
Kenapa dengan wajahnya, kenapa dia kesal seperti itu? apa aku terlalu lama menyiapkan ia makanan. (Batin Aira.)
Aira melihat wajah Arga yang tampak kesal dan bingung.
Arga langsung kemeja makan, Ia pusing memikirkan Erika yang menolak hubungannya dengan Aira, apalagi Erika yang selalu berbicara buruk tentang Aira. Ia bingung harus apa agar Etika mau menerima Aira.
__ADS_1
Aira mengikuti langkah Arga kemeja makan. Ia duduk disamping Arga menemani Arga makan.
"Tuan maaf." Ucap Aira, ia merasa bersalah melihat wajah kesal Arya, karena Arga terus saja makan tanpa berbicara atau melihat dia.
Arga langsung memegang tangan Aira. Ia langsung menghadap kesamping Aira.
"Kenapa kau minta maaf? " Ucap Arga lembut.
"Tuan pasti marah karena saya masaknya lama." Ucap Aira sambil menunduk, ia merasa gugup setiap kali Arya bersikap lembut kepadanya.
"Aku tidak marah." Ucap Arga tersenyum. Ia selalu gemas setiap kali melihat wajah gugup Aura.
" Tapi kenapa wajah tuan seperti sedang marah." Ucap Aira.
Arga langsung mencium kedua tangan Aira secara bergantian.
"Apapun yang terjadi, kau tidak boleh meninggalkan ku. Kau harus tetap bersamaku, dan bertahan dengan ku." Ucap Arga dengan sungguh sungguh. Ia yakin Etika pasti akan berusaha memisahkan ia dan dan Aira.
Aira merasa sangat deg degan dengan uacapan Arga yang sangat serius. Aira menatap mata Arga, ia melihat kesungguhan dan ketakutan di mata Arga.
"Apa terjadi sesuatu?" Ucap Aira serius, ia bingung kenapa Arga berbicara seperti itu.
"Tidak, aku hanya ingin kau tetap bersamaku. Kau mengerti."
" Iya tuan, saya hanya akan pergi jika tuan yang meminta." Ucap Aura serius.
Arga langsung mengecup dahi Aira. Ia selalu merasa tenang saat bersama Aira.
"Aku akan pulang. Kau istirahat lah." Ucap Arga.
Aira mengangguk ia mengantarkan Arga sampai kesepian pintu.
"Hati hati di jalan tuan." Ucap Aura tersenyum sambil melambaikan tangan nya.
Arga tersenyum melihat kelakuan Aira, ia membalas lambaian tangan Aira.
.
.
.
__ADS_1