
Aira dan Hesti sedang menyiaapkan masakan untuk sarapan pagi.
"Mana Arga Ra?" Ucap Hesti. Karena biasanya Arga ikut kedapur memperhatikan Aira.
"Gak tau bu. Sakit mungkin tadi di pasar muntah muntah."Jawab Aira.
"Lah orang sakit, kok di biarin ra. Masakin bubur. Kasian loh ra." Ucap Hesti. Ia segera membuat kan Arga jahe hangat.
"Iya bu. Tadi Aira sudah kasi minyak kayu putih kok. Kelihatan nya juga sudah baikan." Jawab Aira.
"Ih kamu ini. Minyak kayu putih mana cukup!"
"Nih kasi sama Arga." Ucap Hesti memberikan jahe hangat kepada Aira.
Aira pun menerimanya, ia langsung mengantarkan jahe hangat itu kepada Arga.
Aira melihat Arga yang duduk di tepi ranjang sambil memijat kepalanya sendiri.
Lah masih sakit? kira sudah sembuh.(Batin Aira.)
"Ini tuan, di minum jahe hangat nya, siapa tau saja bisa enakkan." Ucap Aira.
"Apa kau sudah membuang baju mu tadi?" Ucap Arga.
"Iya tuan. Tuan masih sakit sini saya pijat kepalanya." Ucap Aira, ia sedikit khawatir melihat Arga.
Arga langsung berbaring, ia senang mendapatkan. perhatian dari Aira. Padahal ia hanya pusing mengingat bau amis tadi.
Aira pun mulai memijat kepala Arga dengan pelan. Ia terpukau melihat wajah Arga yang begitu sangat mulus.
Astaga kenapa wajahnya semulus kulit bayi. Apa dia selalu melakukan perawatan. Kenapa dia bisa setampan ini. Apa dia titisan dari dewa. (Batin Aira.)
"Mulai sekarang jangan panggil aku tuan." Ucap Arga. Ia memejamkan matanya sambi menikmati pikiran Aira.
Apa! jadi aku harus panggil apa. Apa aku harus panggil sayang, beb, atau honney, Jangan jangan dia menyuruh ku untuk memanggilnya yang mulia.
"Hey! kau dengar tidak!"
"I.. iya dengar tuan. Jadi saya harus panggil apa?" Ucap Aira bingung.
"Terserah. Yang jelas aku tidak mau kau panggi Tuan!" Ucap Arga. Karena dia juga malu untuk mengatakannya.
Dasar aneh! Aku kan gak tau. Apa aku panggil nama saja. Tapi kenapa? Aku sudah terbiasa memanggilnya tuan. (Batin Aira.)
"A.. Arga. Apa seperti itu." Ucap Aira gugup.
__ADS_1
"Itu tidak sopan! " Jawab Arga.
Jadi aku harus panggil apa, kenapa kau rumit sekali! (Batin Aira.)
Aira merasa kesal dan juga bingung. Tanpa sadar ia meremas rambut Arga dengan kuat.
"Aaaw, kau sengaja membuat kepalu semakin sakit!" Ucap Arga dengan nada yang sedkiti tinggi.
"Maaf tuan. Saya tidak sengaja." Ucap Aira gugup.
"Jangan panggil aku tuan!" Ucap Arga mulai kesal.
"Jadi saya harus panggil apa!" Jawab Aira, ia ikut kesal juga. Karena tidak mengerti maksud Arga.
Sementara Hesti tersenyum dibalik dinding Ia tadi ingin mengantarkan Arga bubur, tapi langkahnya terhenti saat mendengar dua orang itu sedang berdebat.
"Ada ada saja nak Arga ini. Aira juga masa pacar sendiri di panggil tuan." Gumam Hesti.
Arga. langsung duduk, ia kesal karena Aira membentaknya.
"Ya sudah terserah mu saja!" Ucap Arga. Dia langsung keluar dari kamar itu.
"Eh nak Arga, mau kemana? ni ibu sudah buatin kamu bubur." Ucap Hesti, ia berlaga seakan akan baru datang dari dapur.
"Di dapur aja bu. Sini buburnya biar saya saja yang bawa. " Jawab Arga sopan.
"Kamu kedapur saja, biar Aira yang bawakan buburnya." Ucap Hesti. Saat melihat Aira keluar dari kamar.
Hesti langsung memberikan bubur itu kepada Aira. Meski kesal dengan Arga, Aira tetap menerimanya. Ia memasang wajah tersenyum, seakan akan tidak terjadi apa apa.
"Nak Arga, apa. kamu serius sama Aira." Ucap Hesti tiba tiba. Di kala mereka sarapan.
Aira langsung terbatuk. Dengan cepat Arga memberikannya air putih. Aira tidak menyangka bahwa ibunya akan menanyakan hal itu.
Hesti bisa melihat kesungguhan Arga. Dengan sikap Arga yang selalu memperhatikan Aira. Walau terkadang sedikit berlebihan.
"Makan yang pelan. Tidak ada yang mau mengambil makananmu!" Ucap Arga tegas. Ia mengelus punggung Aira.
Aira hanya tersenyum mendengar ucapan Arga. Tapi dalam hatinya ia sangat jengkel dengan ucapan Arga.
"Iya bu saya serius, saya tidak pernah bercanda dalam sikap saya." Ucap Arga serius.
"Syukur lah, tapi kamu sudah lihat kan kehidupan kami. Itu pasti sangat jauh berbeda dengan kehidupan kamu." Ucap Hesti lagi.
"Saya tidak masalah bu, yang penting Aira tetap ada di samping saya dan mau bertahan sama saya."
__ADS_1
"Bagaimana dengan orang tua mu?" Hesti menanyakan secara detail, dia tidak ingin anak nya dipermainkan oleh laki laki.
"Saya minta maaf bu, sampai sekarang saya belum mengenalkan Aira langsung kepada orang tua saya." Jawab Arga jujur.
"Kenapa? " Ucap Hesti lagi
Sebelum menjawab Arga menarik dan membuang batasnya perlahan.
"Mami saya masih belum setuju. Tapi saya akan berusaha meyakinkan mami saya bu, dan mungkin saya berencana akan secepatnya menikahi Aira." Ucap Arga penuh dengan keseriusan.
"Rumit ya, ibu cuma minta jangan sakiti hati anak ibu, jika memang sulit sebaiknya tidak usah dipaksan." Ucap Hesti, ada rasa swdih dihatinya. Ia takut hal menyakitkan yang ia alami akan terjadi pada Aira.
"Saya janji bu. Tidak akan menyakiti hati Aira. Saya akan tetap memperjuangkan Aira. Asal kan Aira bersedia selalu berada di samping Saya." Ucap Arga serius.
Sementara Aira ia terbengong mendengar perkara Arga, ia tidak menyangka Arga Kan berkata seperti itu, apa lagi akan mengajak nya menikah. Ia mengira Arga hanya bercanda.
"Sebaiknya kamu pikirkan lagi untuk menikahi Aira. Ibu tidak mau ada masalah kedepannya." Ucap Hesti, setelah mengetahui ternyata orang tua Arga tidak setuju, Hesti menjadi ragu dengan kesungguhan Arga.
"Hem, bahasnya nanti saja dulu ya, sebaiknya ibu dan Arga habiskan saja dulu makannya." Ucap Aira, karena ia melihat kekecewaan di wajah Ibunya.
Suasana pun menjadi hening seketika. Arga juga menjadi pusing, Ia sadar Hesti mulai ragu dengan kesungguhannya.
***
Makanan pun selesai. Aira dan Hesti membersihkan meja bersama. Sementara Arga Hesti suruh untuk beristirahat, karena besok mereka akan kembali kejakarta.
"Ra, selama ini kamu tinggal Dimana? kata om Arya kamu sudah tidak tinggal dengan om Arya? " Ucap Hesti.
"I.. itu bu, Aira tinggal di apartemen. Aira tidak enak jika harus tinggal di rumah om Arya terlalu lama." Ucap Aira sedikit gugup.
"Ya sudah tidak apa, tapi kamu harus bisa jaga diri dengan baik." Ucap Hesti.
"Iya bu, Lagian tuan Arga selalu jaga Aira kok bu, bahkan Aira tidak pernah kemana mana selain bersama tuan Arga. Tuan Arga juga selalu menyiapkan apa yang Aira butuhkan. Tapi Aira bingung bu, apa benar tuan Arga serius sama Aira. Kita kan bukan siapa siapa ya bu." Ucap Aira, ia sedikit murung, apa lagi mendengar ternyata mami Arga tidak setuju. Aira langsung teringat dengan Erika yang begitu baik dengan Riska. Apa dia juga akan mendapatkan perlakuan yang sama.
Oh iya, gue sampai lupa sebenarnya apa hububgan tuan Arga dan Riska, apa mereka berdua pacaran. Atau tuan Arga ternyata sudah di kosongkan, apa aku merebut kekasih orang. Astaga kenapa selama ini aku tidak pernah menanyakannya. (Batin Aira.)
"Ibu tidak tidak bisa kasih pendapat apa apa. Kamu yang bisa rasakan sendiri keseriusan Arga." Jawab Hesti. Meski tidak lagi mendapatkan balasan, karena Aira termenung memikirkan Riska dan Arga waktu dulu.
"Aira, jangan melamun tuh Air nya sudah mulai tumpah." Ucap Hesti. Saat melihat air keran yang ada di baskom mulai tumpah. .
.
.
.
__ADS_1