
Adrian akhirnya menuruti apapun yang dikatakan oleh Stefani. Karena dia tidak mau kalau sampai ribut-ribut di depan Manager yang sedang tadi terus mengikuti mereka berdua dengan begitu Setia.
Padahal sekarang sudah waktunya untuk jam pulang kantor. Akan tetapi Stefani sejak tadi menahan sang Manager untuk mengantarkan mereka berdua berkeliling mencari apartemen untuk Adrian.
" Bagaimana? Apa kau suka unit ini?" tanya Stephanie ketika memperlihatkan unit yang berada di samping unit miliknya.
Adrian tampak memperhatikan ke sekeliling. Unit itu menampilkan sosok maskulin dan sangat cocok dengan style dirinya.
" Baiklah aku akan mengambil unit ini. Segera urus untuk sewanya. Supaya besok saya bisa pindah kemari!" ucap Adrian yang langsung memutuskan tanpa berpikir lagi. Karena dia sudah merasa tidak enak kepada manajer yang sejak tadi tampak sudah gelisah dan terus melihat jam tangannya.
" Baiklah Tuan Adrian. Saya akan segera mengurusnya sebentar. Silakan Anda melihat-lihat dulu unit ini untuk lebih memastikan pilihan Anda. Permisi saya turun sebentar untuk mengurus semuanya. Nanti saya akan kembali lagi kemari!" ucap Manager yang kemudian langsung berpamitan kepada mereka berdua.
' Akhirnya aku akan memiliki akses untuk bertemu dengan Adrian setiap hari. Aku akan segera pindah juga ke unitku. Aih ini sangat menyenangkan sekali!' batin Stefani tampak begitu bahagia.
Adrian yang saat ini sedang melihat-lihat situasi di dalam unit tersebut. Dia tidak terlalu memperhatikan gelagat Stefani yang dari tadi terus saja memperhatikannya tanpa berkedip.
Adrian dan Stefani dulu pernah menjalin hubungan ketika Stefani masih duduk di bangku SMA. Mereka putus karena Stefani yang kemudian harus kuliah di luar negeri. Sementara Adrian harus membantu ayahnya mengurus perusahaan mereka.
" Apa kau sudah menikah?" tanya Stefani kepada Adrian.
Adrian mengerutkan keningnya. " Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Adrian tampak merasa tidak nyaman dengan apa yang ditanyakan oleh Stefani.
" Kamu itu kebiasaan sekali sejak dulu! Kalau ditanya, kembali bertanya. Emang apa sih susahnya menjawab pertanyaan orang?" tanya Stefani sambil menggelengkan kepalanya karena merasa kesal pada Adrian.
Adrian terlihat meninggalkan unit tersebut dan menuju ke lift untuk turun.
" Adrian! Kamu kenapa sih? Kamu punya masalah sama aku?" tanya Stefani dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Adrian tidak tahu harus berkata apa kepada Gadis itu padahal dia sudah berusaha untuk melupakan Stefani dan tidak ingin lagi kembali ke masa lalu.
Walaupun Adrian tidak terlalu mencintai Indrana setidaknya dia masih ingin menjaga perasaan gadis itu selama dia masih berada di dalam hubungan bersamanya.
__ADS_1
Sudah lama sekali Adrian tidak berkomunikasi dengan Stefani dan dengan Indrana pun Adrian sudah jarang sekali berkomunikasi.
" Cepat jawab pertanyaanku Adrian! Apa kau punya masalah denganku?" tanya Stefani yang tampak begitu sedih melihat Adrian yang begitu Acuh terhadapnya.
" Aku memang belum menikah. Akan tetapi aku sudah memiliki kekasih. Walaupun aku tidak terlalu mencintainya. Tapi setidaknya kami memiliki komitmen untuk bersama! Aku harap kau bisa mengerti dengan apa yang aku katakan padamu!" ucap Adrian yang kemudian pergi ke Manager yang sedang berjalan ke arahnya.
" Sepertinya saya akan membatalkan untuk menyewa apartemen di sini!" ucap Adrian yang kemudian langsung meninggalkan gedung apartemen milik keluarga Stefani.
Stephanie sampai tidak bisa berkata-kata melihat kelakuan Adrian yang benar-benar tidak bisa diprediksi.
" Proses saja pak. Besok akan saya antarkan kuncinya ke apartemen dia!" ucap Stefani sambil tersenyum kepada manajer yang tadi tampak bengong mendengarkan perkataan Adrian.
Setelah mendapatkan kunci dan juga apply kontrak yang sudah ditandatangani oleh Stefani. Stefani pun kemudian pergi ke rumahnya untuk beristirahat.
Sejujurnya sampai saat ini Stefani masih sangat mencintai Adrian.
" Adrian kalau kau belum menikah aku pasti bisa mendapatkanmu kembali! aku tahu dari kamu yang tidak pernah mau menatap mataku aku yakin kalau aku masih memiliki posisi di hatimu!" ucap Stefani dengan begitu percaya diri.
Sekitar pukul 03 pagi, Stefani baru bisa memejamkan matanya.
Sementara itu Adrian yang saat ini sedang berada di sebuah pantai, tampak sedang memperhatikan deburan ombak dan juga bintang-bintang yang berada di langit.
Terlihat Adrian yang sedang mengingat kembali kisah masa lalunya bersama dengan Stefani.
Adrian menarik nafasnya dalam-dalam ketika dia tersadar bahwa sebenarnya dia pun masih sangat mencintai Stefani.
Kalau bukan karena Stefani yang dulu memutuskan untuk kuliah di luar negeri saat ini mungkin mereka sudah menikah dan memiliki beberapa orang anak.
" Ya Tuhan kenapa aku harus kembali ke Bandung dan kenapa aku harus bertemu dengan gadis itu?" Adrian tampak begitu frustasi memikirkan semua masa lalunya.
Sampai jam 12.00 malam Adrian masih belum mau beranjak dari tempatnya saat ini. Adrian membaringkan tubuhnya di atas kap mobilnya sambil menatap bintang di atas langit.
__ADS_1
Adrian ingat dulu ketika dia masih memiliki hubungan dengan Stefani. Dirinya sering sekali melakukan hal seperti itu bersama gadisnya. Wanita yang pernah menjadi cinta pertama dalam hidupnya.
" Kenapa sangat sulit untuk melupakan dia? dan kenapa dia masih juga belum berubah?" Adrian benar-benar tidak mampu untuk menahan segala kerinduan di dalam hatinya akan sosok seorang Stefani yang pernah begitu istimewa di hatinya.
" Kenapa Gadis itu kembali ke Indonesia? Bukankah seharusnya dia masih kuliah? Oh Tuhan apakah ini skenario yang sudah kau atur untuk membuatku bertemu dengannya?" tampak Adrian yang begitu frustasi dengan semua yang terjadi pada malam hari ini.
Tiba-tiba saja ada yang menyesali kenapa dia harus keluar malam-malam. Salau saja, seandainya dia tetap tidur di dalam kamarnya. Dia tidak perlu harus bertemu dengan Stefani dan membuat kepalanya menjadi pening seperti sekarang.
Adrian kemudian memutuskan untuk pulang ke Mansion. Di mana ibunya saat ini tinggal di sana. Adrian tampak menghembuskan nafasnya dengan dalam. Ketika memikirkan lagi apa yang diinginkan oleh ibunya dari dirinya, auto membuat Adrian benar-benar tidak mampu untuk melangkahkannya kaki ke mansion itu.
Apalagi ketika Adrian melihat ibunya yang masih terjaga dan menunggu dirinya di ruang tamu.
" Ya ampun Adrian kau dari mana saja? Dari tadi Mama terus menghubungimu. Kenapa kau tidak mengangkatnya sayang? Mama benar-benar sangat khawatir dalam keadaanmu nak!" Adrian langsung menghempaskan tangan ibunya ketika ibunya hendak menyentuh wajahnya.
" Sudahlah Mah! Mama tidak usah akting begitu. Adrian tahu kenapa Mama melakukan semua ini. Perlu Mama tahu! Adrian tidak akan pernah menuruti permintaan Mama untuk merebut perusahaan milik Siska!" ucap Adrian yang langsung meninggalkan ibunya dalam bingung, kesal dan jengkel.
Entah perasaan yang mana yang lebih mendominasi di hatinya. Akan tetapi yang jelas dia sangat khawatir dengan kondisi Adrian yang sepertinya begitu tertekan.
" Adrian Sayang. Kalau kau memang tidak menginginkannya. Maka tidak usah kau lakukan. Jangan kau menyiksa dirimu seperti itu! Mama tidak akan memaksamu untuk melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan!" ucap ibunya Adrian di depan pintu kamar putranya.
Sejujurnya ada yang benar-benar merasa sangat kecewa terhadap ibunya yang sudah mengajarkan keburukan kepada dirinya.
Bagaimana mungkin seorang ibu mengajarkan sifat khianat kepada amanah yang sudah diberikan oleh ayahnya yang sudah meninggal?
Adrian tidak mau hidup dalam penyesalan seumur hidup dengan menuruti apa yang dikatakan ibunya.
Adrian hanya menutup matanya dan juga berusaha untuk bisa terlelap karena saat ini pikirannya benar-benar sangat kacau.
Masalah Indrana dan Stefani benar-benar sudah membuat pikirannya kalut luar biasa.
" Ah kalau aku tahu kembali ke Bandung hanya akan membuat kepalaku makin pening. Akan lebih baik Steven saja yang mengurus masalah di perusahaan yang disini dari pada aku pusing kayak gini! Setidaknya aku bisa menemukan kedamaian di Jakarta yang tidak bisa kudapatkan selama berada di sini!" ucap Adrian sambil meraup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1