Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
220. Mengantar


__ADS_3

Pada hari Minggu Adrian dan Andini mengantarkan Anto dan Andi ke apartemen mereka yang lama.


Mereka mengajak semua pembantu yang bekerja di mansion Prayoga untuk membantu mereka memasukkan kembali barang-barang yang kemarin di bawa ke mansion Prayoga.


" Ingat ya, kalian tidak boleh melakukan macam-macam di sini. Paham?" tanya Siska kepada kedua adiknya yang merasa senang permintaan mereka dikabulkan tanpa banyak pertanyaan maupun introgasi dari kakaknya.


Andi dan Anto saling menatap satu sama lain kemudian mereka tersenyum kepada Andini.


" Tenanglah Kak! Kami berdua tidak akan pernah mengecewakanmu. Kami sudah dewasa dan kami bisa bertanggung jawab dengan hidup kami. Kaka tidak usah khawatir dengan kami. Apalagi di sini ada pembantu dan juga sopir yang akan menolong kami." Anto berusaha untuk menenangkan Andini agar bisa melepaskan mereka berdua di apartemen itu dengan tenang.


" Benar sekali Kak! Lagi pula keamanan di apartemen ini luar biasa. Kami berdua pasti akan baik-baik saja!" Andi begitu mantap dengan pilihan hidup yang sudah dia pilih bersama saudara lelakinya.


" Seminggu sekali kakak akan datang kemari untuk mengecek kalian! Jadi jangan sekali-kali kalian berbuat aneh-aneh atau pun macam-macam! Paham?" tanya Andini dengan raut wajah serius.


Kedua pemuda tanggung itu sebenarnya sanagt takut kepada Andini karena selama ini hanya Kakaknya yang menjadi keluarga mereka satu-satunya setelah kedua orang tua mereka meninggal.


" Sudahlah sayang!! Jangan menakut-nakuti Mereka lagi. Mereka di sini pasti aman nanti aku akan langsung berbicara kepada pengelola gedung agar memperhatikan mereka berdua. Ayo kita pulang dulu, karena waktu sebentar lagi malam. Kasihan yang lainnya. Mereka pasti sudah lelah karena seharian bekerja disini." Adrian kemudian menyuruh kepada supir dan pembantunya untuk pulang duluan.


" Baiklah, kami pulang dulu ya, kalian Jangan tidur terlalu malam! Ingat itu, ya?" mata Andini sudah berkaca-kaca karena hendak meninggalkan kedua adiknya di apartemen hanya dengan pembantu dan supir saja.


Andini memeluk kedua adiknya merasa tidak sanggup untuk melakukan itu. Tapi kalau melihat kelakuan Adrian yang selalu Omes, membuat Andini akhirnya mencoba untuk legowo dan juga tenang. Percaya kepada kedua adiknya yang pintar dan cerdas.

__ADS_1


" Tenanglah Kak kami berdua sudah terbiasa hidup bersama. Selama Kakak bekerja di rumah sakit ataupun di rumah orang-orang kaya untuk menjadi suster Mereka. Kami sudah terbiasa hidup berdua saja. Kaka tidak usah khawatir dengan kami berdua!" Andini memeluk mereka berdua. Dan setelah itu Andini mengikuti Adrian untuk kembali ke Mansion mereka.


Sepanjang perjalanan Andini terisak. Adrian hanya mengelus telapak tangan Andini untuk menenangkannya. Bagaikan seorang ibu yang tidak terima dipisahkan dengan anaknya Andini saat ini terus menangis sedih.


" Entah kenapa, aku merasa seperti kakak yang jahat sekali. Seperti seorang ibu yang tidak mau mengajak anaknya setelah aku menikah." Adrian hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan istrinya.


" Tidak sayang! Sudahlah sayang! Kau jangan berpikir macam-macam. Karena hal itu tidak baik untuk kesehatanmu. Ingatlah! Kita sdang program Adrian junior, kamu tidak boleh memikirkan hal-hal yang berat dan stress. Rileks dan tenangkan dirimu. Ok?" tanya Adrian kepada Andini yang terus saja menangis.


Adrian yang sudah kehabisan akal untuk membuat istrinya tidak bersedih lagi akhirnya mengusulkan untuk mereka melakukan Candy light dinner romantis di sebuah restoran langganannya.


Andini hanya menyetujui semua yang akan dilakukan suaminya untuk menyenangkan dirinya. Mereka berdua pun kemudian masuk ke restoran yang sudah dipesan oleh Adrian.


" Kamu ingat restoran ini kan?? Sebenarnya di restoran inikah aku pertama kali melihatmu. Mungkin kamu sudah melupakanku. Tapi aku tidak pernah melupakan kamu!" Andini merasa bingung mendengar ucapan suaminya karena sebelumnya dia tidak pernah merasa bertemu dengan Adrian.


Pada saat mereka sedang sibuk membicarakan tentang masa lalu di mana Adrian pernah melihat Andini di tempat itu, sedang melakukan makan malam dengan seseorang yang dijodohkan oleh dokter yang selama ini selalu menjaganya di rumah sakit.


" Ya Tuhan!! Apakah itu benar? Jadi pada hari itu kau melihatku yang sedang melakukan kencan buta di sini? Kencan buta yang sudah diatur oleh dokter yang merawat kamu saat kamu jatuh koma?!" Andini terlihat excited sekali mendapat cerita semacam itu dari Adrian.


Adrian tersenyum karena merasa lucu ketika mengenang kembali pertemuan pertamanya dengan Andini.


" Pada waktu itu, aku berpikir kenapa wanita secantik kamu, sampai melakukan kencan buta dengan laki-laki yang sudah tua dan juga botak kepalanya?" tanya Adrian pada Andini.

__ADS_1


Andini tersipu mendengar pertanyaan itu dari Adrian. " Kencan itu diatur oleh dokter atasan aku di rumah sakit. Aku merasa tidak enak untuk tidak datang kesana. Oleh karena itu aku menemui temannya yang sudah menduda selama 3 tahun setelah istrinya meninggal. Tapi Setelah dia mengetahui kalau aku mengurus kedua adikku dia langsung mundur dan meninggalkanku." Andini terlihat menunduk merasa malu dengan kejadian itu.


" Dia tidak mau terbebani dengan kedua adikku. Dia sebelumnya meminta kepadaku untuk melepaskan kedua adikku, kalau mau aku menikah dengannya dan tentu saja, aku melepaskan dia. Karena bagiku adikku adalah segalanya." Andini terlihat meneteskan air matanya.


" Pada saat itu aku berpikir. Apakah ada seorang pemuda yang bersedia menerima aku sebagai istrinya? Dengan beban di pundakku untuk menjamin masa depan kedua adikku. Sungguh!! Sejak malam itu aku benar-benar insecure untuk memiliki hubungan dengan siapapun. Dan aku tidak pernah berani bermimpi sedikit pun tentang memiliki sebuah rumah tangga yang indah dengan seorang laki-laki yang mencintaiku!" Andini terlihat begitu sedih dengan masa lalunya.


Adrian bisa merasakan betapa berat kehidupan yang sudah dilalui oleh Andini sebelum bertemu dengannya.


" Aku merasa bersyukur sekali pada Tuhan. Karena kedua adikmu itulah yang telah menjagamu untuk bisa aku temukan. Kalau tidak ada kedua adikmu sejak dulu Kau pasti sudah menikah dan tidak akan menjadi istriku sekarang!" Adrian menggenggam telapak tangan Andini kemudian menciumnya dengan lembut.


Terlihat sekali bahwa ada yang sangat mencintai adik ini dan tidak ingin melepaskan telapak tangannya dari hidupnya.


Sementara itu dari kejauhan terlihat Indrana yang terus memperhatikan mereka berdua dengan air mata yang meleleh di pipinya.


Ingin sekali Indrana mendekati Adrian dan sekedar ingin bertanya. Kenapa dia begitu tega kepadanya dengan menikahi wanita lain alih-alih memilihnya menjadi istrinya?


" Kak, Sudahlah jangan dilihat lagi nanti kakak malah semakin sedih!" Irdina berusaha untuk menghibur kakaknya yang sedang menangis meratapi masa lalu yang sudah bukan miliknya lagi.


" Dulu Kakak selalu egois kepada Adrian. Karena dia yang sangat mencintai kakak. Sekarang rasanya sangat menyedihkan dan menyakitkan saat Adrian berbahagia dengan wanita lain. Irdina, sungguh perasaan ini benar-benar sangat sakit!" Indrana terus memegang dadanya yang saat ini berdenyut begitu kencang karena sakit yang luar biasa.


Mencintai seseorang tetapi tidak bisa memilikinya. Apalagi melihat orang itu yang sekarang sudah berbahagia dengan orang lain. Hal itu benar-benar sangat menyiksa dan itu yang saat ini sedang dirasakan oleh Indrana dan Irdina.

__ADS_1


Kedua wanita cantik itu terus memperhatikan interaksi antara Adrian dan Andini yang terlihat begitu berbahagia dengan pernikahan mereka. Saat Indrana hendak bangkit untuk mendekati Adrian, Irdina langsung menghentikan kakaknya untuk berbuat bodoh dalam memalukan dirinya sendiri di hadapan Adrian.


" Kak tolong jangan lakukan itu! Jangan coba-coba kau mempermalukan dirimu sendiri. Ingatlah!! Restoran ini milik paman kita. Kalau sampai Paman menceritakan kepada kedua orang tua kita insiden ini, habislah kita berdua!! Kita pasti akan disuruh untuk kembali ke Bandung!" Irdina mencoba untuk mengingatkan dan menasehati kakaknya untuk tidak berbuat bodoh hanya karena nafsu sesaat melihat Adrian dan istrinya sekarang.


__ADS_2